July 15, 2020

Short Reviews : A Star Is Born (2018) + Bad Times At The El Royale


“Look, talent comes everywhere. But having something to say and a way to say it, to have people listen to it. That’s a whole other bag.” 

Dalam debut penyutradaraannya, Bradley Cooper menginterpretasi ulang film klasik A Star is Born (1937) yang jalinan pengisahannya telah empat kali diceritakan kembali oleh aneka macam sineas lintas zaman lintas benua (salah satunya yaitu Aashiqui 2 (2013) dari India). Tidak ada perubahan berarti dalam penceritaan yang menyoroti kisah kasih antara seorang musisi Country yang pemabuk berjulukan Jackson Maine (dibintangi pula oleh Bradley Cooper) dengan seorang penyanyi yang tengah naik daun berjulukan Ally (Lady Gaga). Durasinya yang merentang sampai 135 menit memang terasa terlampau panjang untuk sebuah film drama non-biopik dan memasuki pertengahan durasi terasa agak berlarut-larut – terhitung selepas tembang Shallow dikumandangkan – tapi film masih efektif mempermainkan emosi berkat tembang-tembang yang gampang melekat di indera pendengaran beserta chemistry mengesankan antara Cooper dengan Gaga. Penonton meyakini bahwa dua sejoli ini ditakdirkan untuk menjalani hidup bersama sedari pandangan pertama yang bukan dipicu oleh gairah bercinta melainkan hasrat bermusik. Mereka yaitu dua insan yang dipersatukan oleh kesamaan hasrat dan mimpi, kemudian dihancurkan oleh toxic environment yang sulit terpisahkan dari industri hiburan. Kita ikut bergembira bersama mereka, kita ikut bersenandung bersama mereka, kita ikut dimabuk asmara bersama mereka, kita ikut menyeka air mata bersama mereka, dan kita pun ikut hancur bersama mereka. Saking dekatnya penonton dengan aksara Jackson-Ally, maka jangan heran kalau kau akan mendapati penonton yang salah menerka film ini sebagai biopik dari Lady Gaga (serius, ini ada!). 

Exceeds Expectations (3,5/5) 



“Are you watching me?” 

Seusai menghadiahi kita dengan The Cabin in the Woods (2012) yang jenius, Drew Goddard mempersembahkan Bad Times at the El Royale yang menyerupai terinspirasi dari film-film aba-aba Quentin Tarantino bercampur misteri a la Agatha Christie. Di sini, kita dipertemukan dengan tujuh aksara yang sedang berkumpul di hotel El Royale; Doc si pastor (Jeff Bridges), Darlene si penyanyi (Cynthia Erivo), Emily si hippie (Dakota Johnson), Dwight si penjaja barang (Jon Hamm), Rose adik Emily (Cailee Spaeny), Miles si resepsionis (Lewis Pullman), dan Billy Lee si pemimpin (Chris Hemsworth), yang kesemuanya memiliki intensi tersembunyi dibalik kedatangan mereka ke hotel ini. Siapa yang sanggup dipercaya? Siapa yang berhati iblis? merupakan pertanyaan yang terus berkecamuk selama diri ini mengikuti pengisahan sepanjang 141 menit yang berlangsung lambat. Tak ada kejenuhan menghampiri karena Goddard terus menambat atensi kita dengan mengelupas satu demi satu misteri dalam format segmen (bayangkan Pulp Fiction atau Kill Bill). Terdapat paparan masa kemudian para aksara yang sekaligus mengatakan perspektif yang akan menciptakan penonton mengkaji ulang mengenai prasangka maupun penghakiman terhadap aksara tertentu. Mereka tiba untuk ‘menebus dosa’ atas kesalahan di masa lampau, tapi apakah mereka layak untuk mendapatkannya? Ditunjang oleh performa apik pemain ansambelnya – terutama Jeff Bridges sebagai laki-laki yang tergerus usia, Cynthia Erivo yang kehilangan kepercayaan, serta Chris Hemsworth yang manipulatif – Bad Times at the El Royale tak mengalami kesulitan dalam mencekam dan mencengkram penontonnya selama menanti tibanya ‘hari penghakiman’ bagi ketujuh aksara berlumur dosa ini.

Outstanding (4/5)