October 19, 2020

Short Reviews : Sabtu Bersama Bapak + Ily From 38.000 Ft


“Menjalin suatu hubungan itu butuh dua orang yang kuat. Dan untuk menjadi kuat, itu yaitu tanggung jawab masing-masing.” 
Diadaptasi dari novel elok bukan jaminan sebuah film akan elok juga. Sabtu Bersama Bapak yaitu contohnya. Film instruksi Monty Tiwa menurut novel rekaan Adhitya Mulya yang bercerita mengenai kehidupan abang beradik, Satya (Arifin Putra) dan Cakra (Deva Mahenra), selepas mangkatnya sang ayah (Abimana Aryasatya), memang tidak berada dalam golongan presentasi yang jelek namun mengingat bahan aslinya, terbilang mengecewakan. Kombinasi sisi drama penguras air mata dengan sisi komedinya tidak menyatu dengan baik, malah cenderung jomplang, dan peralihannya pun kurang mulus, terkadang janggal. Sabtu Bersama Bapak lebih bersinar dikala ngebanyol daripada termehek-mehek. Bisa jadi, selain disebabkan pengarahan maupun naskah yang kurang matang, kekuatan dari dua kubu tidak berimbang. Dari kubu komedi ada Deva Mahenra yang tidak dinyana-nya andal ngelawak plus duet Ernest Prakasa – Jennifer Arnelita yang menjadi tombak kembar, sementara dari kubu drama murni hanya Acha Septriasa sebagai istri Satya yang sanggup membuat momen emosional. Arifin Putra? Terbata-bata menghadapi Acha. Ira Wibowo sebagai ibu Satya dan Cakra, kemudian Abimana Aryasatya kurang menerima ruang untuk mengeksplorasi kemampuan olah tugas mereka. Penggunaan lens flare tidak pada tempatnya dan performa ganggu dua bocah yang memerankan belum dewasa Satya yaitu faktor lain yang membuat Sabtu Bersama Bapak urung tampil besar lengan berkuasa menyerupai seharusnya. 

Acceptable (3/5)

“Aku pikir kau akan bilang I love you” 

Dalam kurun waktu satu tahun terakhir, rumah produksi Screenplay Films cetak hattrick di tangga box office lewat Magic Hour, London Love Story, dan paling baru, ILY From 38.000 FT. Banyak orang kemudian bertanya-tanya, apa istimewanya ketiga film tersebut? Jawabnya mudah: pangsa pasar utamanya – dalam hal ini cerdik balig cukup akal usia belasan – berhasil diboyong memenuhi bioskop karena taktik promosinya sempurna sasaran. Masalah elok atau tidak, itu urusan belakangan. ILY From 38.000 FT instruksi Asep Kusdinar pun sejatinya bukanlah film yang istimewa. Bercerita mengenai pertemuan Aletta (Michelle Ziudith) dan Arga (Rizky Nazar) di Pulau Dewata yang lantas memunculkan benih-benih asmara, naskah film ini bikin pusing kepala. Kuantitas obrolan sarat kata-kata mutiaranya memang sudah agak berkurang ketimbang dua film pendahulu, namun soal penggunaan logika, jangan ditanya karena tujuannya hanya ingin membuat para cerdik balig cukup akal tersedu sedan. Yang kemudian membuat ILY From 38.000 FT layak diapresiasi, ada upaya dari Screenplay Films tidak menjadikannya sekadar ‘film main-main’. Michelle Ziudith menghidupkan huruf Aletta – meski mulai curiga ia memang menyerupai itu, in real life – dan tata produksinya elok terutama skoring musik dari Joseph Djafar. Setidaknya, walau dari sisi penceritaan masih sekelas FTV, tidak halnya dari sisi kemasan yang sekali ini tampak cukup mewah.

Acceptable (2,5/5)