October 20, 2020

Short Reviews : The Host, G.I. Joe: Retaliation, The Croods

The Host 

The Host diangkat dari novel lainnya garapan Stephenie Meyer. Inti ceritanya tidak berbeda jauh dari The Twilight Saga dimana seorang wanita muda diperebutkan oleh dua laki-laki. Hanya saja, untuk sekali ini, ‘status’ sebagai makhluk asing, dalam hal ini alien, disandang oleh si gadis berjulukan Melanie Stryder (Saoirse Ronan) yang mana bukan sosok lemah gemulai a la Bella Swan. Dan, The Host pun tidak mempunyai jalinan penceritaan seburuk franchise laku tersebut. Ketika Andrew Niccol tidak lagi fokus pada romansa yang digambarkan dengan seribu ciuman (nyaris setiap menit!), justru pada dikala itulah ada sesuatu yang ingin diketahui lebih lanjut dalam The Host. Terima kasih kepada Saoirse Ronan untuk performanya yang konsisten dalam menghidupkan sosok Melanie yang tubuhnya dihuni oleh alien dengan nama panggilan Wanda dimana pergolakan batinnya terlihat meyakinkan dan menggugah emosi sehingga secara mengejutkan mampu menciptakan mata saya berkaca-kaca. Tanpa adanya akting memukau dari Ronan, The Host mungkin akan berakhir sebagai padang gersang yang tandus layaknya kawasan tinggal para pemberontak di film ini. Niccol patut mentraktir Ronan dengan paket liburan gratis dikarenakan telah menyelamatkan film teranyarnya ini dari keterpurukan. (Acceptable)


G.I. Joe: Retaliation 

Sebuah sekuel dari G.I. Joe: The Rise of Cobra yang penayangannya sempat ditunda selama nyaris mencapai setahun alasannya ialah satu dan lain hal ini berkisah mengenai upaya dari grup militer elite G.I. Joe berusaha untuk membersihkan nama baik mereka usai dituduh sebagai pengkhianat bangsa. Seperti halnya sang predesesor, tidak banyak yang bisa dibutuhkan dari film ini kecuali gelaran adegan ‘bang bang boom boom’ tanpa henti yang memang menjadi jualan utama. Sesekali masih cukup berhasil menciptakan saya terhibur, meski kudu diakui Jon M. Chu benar-benar tidak bisa menghadirkan gugusan agresi dan bazar pengaruh khusus yang membekas maupun lebih menggelegar dari sebelumnya. Ini ialah jenis tontonan yang akan dengan cepat menjadi produk kadaluarsa. Kesenangan yang diberikan hanya bersifat sementara dan akan menguap begitu saja seiring berjalannya waktu. Menyaksikannya untuk kedua kali sama sekali tidak menolong, hanya membuatnya semakin terasa tak sedap. (Acceptable)

The Croods 

Duo sutradara, Kirk DeMicco dan Chris Sanders, menyajikan The Croods sebagai sebuah film animasi keluarga yang riang bangga penuh canda tawa, bervisualisasi cantik, namun tetap menghangatkan hati. Sumbangan bunyi dari parade bintang dengan chemistry yang luar biasa berpadu manis dengan teknik animasinya yang mencengangkan. The Croods memberi banyak pelajaran berharga mengenai kehidupan, serta keluarga, tanpa kesan menceramahi. Usai menyaksikan film ini, ingin rasanya saya segera pulang dan memperlihatkan pelukan yang akrab nan hangat kepada setiap anggota keluarga inti. The Croods berkisah mengenai Eep (Emma Stone), seorang gadis arif balig cukup akal dengan rasa ingin tahu yang teramat tinggi. Sayangnya, bagi sang ayah (Nicolas Cage), “curiosity is bad and anything that is new is bad” sehingga kehidupan keluarga Crood hanyalah di seputaran gua. Segalanya berubah dikala Eep berjumpa dengan Guy (Ryan Reynolds) dan gempa menghancurkan gua yang mereka huni selama ini. Mau tak mau, keluarga Crood pun kudu menghadapi dunia luar yang tidak mereka kenal sebelumnya. (Exceeds Expectations)