October 27, 2020

Short Reviews : The Walk & The Martian


“People ask me “Why do you risk death?”. For me, this is life.” 

Apa kau pernah mencicipi mimpi-mimpimu diremehkan oleh orang lain hanya sebab dinilai terlalu ambisius atau malah, yah… bukan sesuatu yang prestisius? Philippe Petit (Joseph Gordon-Levitt) pernah. Sebagai putra dari seorang pilot, tujuan hidup yang ingin dicapai oleh Philippe bukanlah mengikuti jejak keberhasilan sang ayah melainkan berjalan menyebrangi gedung pencakar langit kembar World Trade Center New York di atas seutas tali tanpa memakai pengaman. Mimpi, atau bisa juga kau sebut obsesi, Philippe ini memang terdengar terlalu mengada-ada bagi kebanyakan orang. Akan tetapi, sekalipun cibiran terus menerus menghampiri Philippe yang berujung pada diusir oleh orang tuanya dari rumah, Philippe tidak pernah mengalah untuk mewujudkan ilham gilanya tersebut. Kegigihan Philippe dalam memperjuangkan impian yang disebutnya sebagai ‘coupe’ ini menarik perhatian aktris jalanan Annie (Charlotte Le Bon), fotografer Jean-Louis (Clément Sibony), guru matematika yang takut ketinggian Jeff (César Domboy) dan pemilik sirkus Papa Rudy (Ben Kingsley) yang bersedia meluangkan waktu, tenaga, serta pikiran mereka biar apa yang didamba-dambakan oleh Philippe sanggup terealisasi dengan sukses. 

Bagian terbaik dalam The Walk yaitu 30 menit dari sisa durasi. Semenjak Philippe dan tim menyusun siasat untuk menyelinap masuk ke gedung kembar, tensi film perlahan tapi niscaya mulai meningkat yang lantas mencapai titik maksimalnya tatkala atraksi Philippe resmi dimulai. Bagi kau yang mempunyai ketakutan andal terhadap ketinggian (acrophobia), bersiap-siaplah untuk dibentuk lemas tak berdaya di dalam bioskop menyaksikan panorama yang terhampar di sekitar Philippe khususnya kalau menyimaknya dalam format 3D. Ya, Robert Zemeckis berhasil menyajikan sebuah pengalaman sinematik memuaskan berwujud momen ‘penyebrangan’ ini yang layak memperoleh label sebagai salah satu momen paling mendebarkan tahun ini (atau malah yang pernah ada dalam sejarah sinema!). Sensasi was-was tidak hanya akan menjangkiti para pemilik acrophobia, tetapi juga penonton kebanyakan sampai-sampai sulit untuk bernafas karena ketegangannya mencengkrammu erat. Phew. Untuk mencapai titik ini, Zemeckis pun memberikanmu perjalanan yang menyenangkan sebelumnya. Permulaannya tidak mulus, memang. Namun seiring berlalunya durasi, The Walk kian nikmat buat ditengok terlebih nada penceritannya ceria penuh humor, jalinan pengisahannya mengikat pula inspiratif dan akting Joseph Gordon-Levitt begitu ciamik dengan aksen Prancis yang kental. Sangat menarik!

Outstanding 



“I’m gonna have to science the shit out of this.” 

Melanjutkan tradisi selesai tahunan Hollywood untuk meluncurkan film bergenre fiksi ilmiah tentang penjelajahan antariksa, perwakilan kali ini yaitu The Martian garapan Ridley Scott (Alien, Promotheus) yang didasarkan pada novel berjudul sama karangan Andy Weir. Basis ceritanya sendiri ibarat perpaduan antara Robinson Crusoe, Cast Away dengan Apollo 13 mengenai usaha seorang astronot berjulukan Mark Watney (Matt Damon) untuk bertahan hidup seorang diri dengan perlengkapan serba terbatas di Planet Mars usai ditinggal oleh timnya dari Ares III yang menerka Watney telah tewas paska diterjang topan besar. Alih-alih mengalah pada keadaan, Watney justru mengerahkan segenap kemampuan yang dimilikinya biar tetap bisa menghembuskan nafas dan berusaha mengirimkan kontak ke NASA untuk mengabarkan kondisi bekerjsama mengenai dirinya. NASA yang belakangan mengetahui Watney masih segar bugar lantas menyusun rencana evakuasi yang terdiri atas: a) mengirimkan suplai makanan biar Watney sanggup hidup hingga kedatangan tim Ares IV beberapa tahun mendatang, dan b) meminta tim Ares III yang tidak tahu menahu soal Watney untuk kembali ke Mars menjemput sang rekan. 
Membayangkan terdampar di sebuah pulau terpencil sendirian saja sudah bikin stres, apalagi ditinggal seorang diri di planet lain yang jaraknya jutaan mil dari Bumi. Tentu kau bisa mencicipi perasaan Mark Watney, bukan? Tapi damai saja, Ridley Scott tidak mengalunkan The Martian ibarat dua abang tingkatnya, Gravity dan Interstellar, yang cenderung depresif (sulit untuk tertawa di tengah-tengah peristiwa antariksa, mungkin begitu) melainkan menginjeksi banyak keriangan terhadap tuturan kisahnya. Ya, walau nadanya cenderung getir, humor-humor bertebaran ini tergolong efektif dalam mencairkan ketidaktentuan suasana yang kadang mencekam, kadang menjemukan. Tapi, tentu saja, donasi terbesar dalam membawa asupan oksigen pada The Martian berasal dari performa gemilang Matt Damon. Kemampuannya untuk menciptakan penonton bersimpati penuh kepada Mark Watney merupakan aset paling berharga dari film yang tersusun atas imbas khusus mengesankan, pilihan tembang-tembang pengiring yang unik (hey, lagu disko di film fiksi ilmiah!), dan skrip enak olahan Drew Goddard ini. Berkat The Martian, kesannya Mars memperoleh daerah yang layak di film layar lebar, Ridley Scott kembali ke jalan yang benar, dan mata pelajaran ilmu eksakta tidak lagi terlihat sebagai momok menyeramkan.

Exceeds Expectations