November 24, 2020

Si Doel The Movie 2 (2019)

Proses membangkitkan bahan klasik ke layar lebar biasanya diawali dengan menebar aroma nostalgia guna merenggut kepercayaan penggemar, sebelum mulai menyongsong arah baru. Tidak terkecuali Si Doel the Movie yang tampil layaknya prolog. Tapi rupanya, film pertama bukan saja prolog bagi dongeng utama, pula elemen nostalgia, ketika selain membawa kisahnya bergerak maju (setidaknya untuk ukuran Si Doel yang akan terus berkutat soal cinta segitiga) sekuelnya turut menghadirkan nostalgia lebih besar, lebih kuat, lebih hangat.

Doel (Rano Karno) dan Mandra (Mandra) sudah pulang dari Belanda, sehingga kita berkesempatan menghabiskan waktu di rumah ikonik mereka, sejenak mengendarai oplet, bahkan bertemu sosok usang ibarat Munaroh (Maryati). Tapi terpenting, dinamika antar aksara yang menjadi kekhasan seri ini semakin sering kita saksikan.

Dibanding tokoh lain, Zaenab (Maudy Koesnaedi) melalui paling banyak konflik batin. Dia tahu Doel menemui Sarah (Cornelia Agatha) dan puteranya, Dul (Rey Bong), di Belanda, menyadari bahwa sang suami masih menyayangi istri pertama yang belum resmi diceraikan, kemudian menerima kabar kalau si rival awet bakal pulang ke Indonesia.

Bertambahnya dilema juga berarti bertambahnya kesempatan untuk Maudy memamerkan kapasitas akting. Caranya mengekspresikan rasa, dari lontaran kalimat mengenai keikhlasan yang dibarengi senyuman terpaksa dan mata berkaca-kaca, pilihan kata yang menyiratkan kecemburuan (hal ini selalu membingungkan Doel dan menciptakan penonton geregetan semenjak dulu), semua sukses menyentuh hati saya.

Tatkala film pertamanya sedingin Amsterdam, Si Doel the Movie 2 sepanas Jakarta, dengan rentetan persoalan seru yang bisa menciptakan penonton harap-harap cemas sambil menggerutu sendiri tak ubahnya ibu-ibu penonton sinetron. Masalah-masalah tersebut turut membentangkan jalan film ketiga, sekaligus membuka peluang mengoper tongkat estafet ke generasi berikutnnya.

Sebagaimana mestinya Si Doel, naskah buatan Rano Karno (juga menduduki dingklik sutradara) tidak lupa menyertakan dagelan ringan, yang kebanyakan dipicu ketidakmampuan (baca: keengganan) Mandra mengontrol mulutnya (kali ini juga jarinya). Banyak tawa ditawarkan, tapi paparan drama keluarga menyentuh milik film inilah yang memantapkan status Si Doel the Movie 2 sebagai sekuel superior. Keseluruhan third act, termasuk munculnya beberapa footage lawas dari sinetron, merupakan alasan air mata menetes tak terkendali.

Rano Karno bakir membangun situasi emosional guna menyelesaikan beberapa konflik sambil menanam benih gres untuk masa depan. Melihat interaksi tiap karakter, sementara aksara lain merespon interaksi tersebut sungguh mengaduk perasaan. Terlebih ketika Aminah Cendrakasih alias Maknyak menandakan betapa keterbatasan fisik tak kuasa mengalahkan bakat olah rasa sang legenda yang kecintaannya akan dunia seni tugas masih membuncah.

Kalau menyaksikan Maknyak karam dalam tangis atau ketika darah mengalir dari jari-jari Zaenab tanpa ia sadari tak mengiris perasaan, aku tak tahu sekeras apa hati anda. Di luar permasalahan teknis (banyak gambar terlihat meregang), bermodalkan segala rasa miliknya, Si Doel the Movie 2 pantas disebut salah satu film lebaran terbaik tahun ini, bahkan salah satu yang terbaik sepanjang 2019.