November 27, 2020

Single Part 2 (2019)

Kita berada di tahun 2019 dan Raditya Dika masih berkutat pada dagelan soal menjomlo. Sesungguhnya ia tahu tema tersebut sudah ketinggalan zaman, sehingga memutuskan tampil lebih serius, dewasa, bahkan sesekali berkontemplasi dalam Single Part 2. Tapi Raditya Dika dan kata “serius”, “dewasa”, dan “kontemplasi” tidak eksis dalam satu dunia.

Hasilnya ialah drama-komedi kacau yang tak pernah yakin hendak menuturkan apa serta bagaimana. Dika sama galau dan ragunya dengan Ebi (karakter yang ia perankan), sehingga makan waktu 128 menit baginya untuk menampilkan usaha seorang laki-laki menyatakan cinta. Single Part 2 merupakan film terpanjang Raditya Dika sejauh ini, dan sayangnya, juga yang terburuk.

Pasca konklusi film pertama, aku pikir Ebi telah memacari Angel (Annisa Rawles) dan lolos dari kehidupan melajang. Rupanya Ebi justru terperangkap dalam status friendzone, meski si gadis pujaan berulang kali menyiratkan adanya kesamaan perasaan. Tapi lisan Ebi membeku tiap hendak menyatakan cinta, dan ketika keberanian berhasil dikumpulkan, penghalang eksternal selalu saja hadir. Entah berupa efek dari perbuatan dua temannya, Johan (Yoga Arizona) dan Nardi (Ridwan Remin), atau hal-hal trivial yang seharusnya tak mengganggu usaha Ebi.

Ditulis oleh Dika bersama Sunil Soraya (Single, The Guys, Suzzanna: Bernapas dalam Kubur) dan Donny Dhirgantoro (5 cm, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk, Antologi Rasa), Single Part 2 termasuk suguhan one-trick pony, di mana menciptakan Ebi gagal menyatakan cinta dijadikan jalan tunggal semoga plot terus berjalan. Mayoritas durasi hanya diisi situasi tersebut, kesan yang dihasilkan perlahan berubah dari menggelitik, menjadi dipaksakan, sebelum jadinya makin menyebalkan.

Ebi—kembali diperankan Dika lewat gaya biasa, yang di titik ini, sudah kehilangan pesonanya—sama sekali bukan protagonis likeable. Di film pertama ia ialah laki-laki sial yang (sebagaimana kita semua) merindukan cinta, namun kini, ia hanya laki-laki penyia-nyia kesempatan.

Begitulah perspektif Dika perihal presentasi dewasa. Perenungan mengapa di usia 30 tahun, karakternya masih melajang. Tapi menuakan usia karakter, atau menempatkannya di sebuah kelab single berisi pria-pria asing dan uzur, tidak serta- merta menciptakan film anda lebih dewasa. Sebaliknya, itu merupakan cara pandang kekanak-kanakan mengenai pendewasaan.

Sulit bersimpati terhadap Ebi, yang tak lagi perlu bersusah-payah “membuka pintu”, alasannya ialah pintu tersebut telah terbuka, namun menolak melangkah masuk atau terkadang tidak menyadari terbukanya pintu tersebut. Apalagi ketika pasangannya ialah gadis menyerupai Angel. Pertama, ia cantik. Kamera Muhammad Firdaus (My Stupid Boss, My Generation, Target) pun gemar mengagumi kecantikannya lewat close-up. Kedua, Annisa punya kapasitas menangani tugas utama guna menyedot atensi di tiap kemunculannya.

Naskahnya mengandalkan beberapa selipan kalimat untuk mewujudkan ambisinya terdengar bijaksana, berharap kebijaksanaan tersebut bisa mengakibatkan film ini drama mendalam. Tapi sukar menganggap serius formasi kalimat bijak itu, tatkala konflik utamanya hanya berputar soal usaha mengungkapkan cinta yang dihalangi hal-hal tak signifikan.

Keseriusan filmnya bahkan menganggu fatwa komedi, yang bergotong-royong masih bisa memancing segelintir tawa, menunjukkan betapa Dika belum sepenuhnya kehabisan logika terkait cara menyajikan hiburan ringan. Sayangnya, bahkan sampai titik terakhir Dika terus berhasrat menampilkan tontonan bermakna tanpa pernah sepenunya yakin mesti melaksanakan apa. Ditutupnya Single Part 2 lewat penutup tak berujung wacana bagaimana hidup dipenuhi kejutan. Memang hidup penuh kejutan, menyerupai ketika aku tak menyangka Raditya Dika bakal jatuh serendah ini.