October 23, 2020

(Special) 16 Film Indonesia Terbaik 2016 Versi Cinetariz


Tahun 2016 menorehkan catatan manis bagi perfilman Indonesia. Betapa tidak, untuk pertama kalinya dalam sejarah, seluruh penghuni daftar “sepuluh film Indonesia paling banyak ditonton pada tahun 2016” berhasil membukukan angka lebih dari satu juta penonton. Ditambah lagi, 2016 menjadi saksi sejarah atas terciptanya rekor gres untuk film Indonesia dengan raihan penonton tertinggi sepanjang masa usai Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss Part 1 menorehkan jumlah kepermirsaan sebanyak 6,8 juta mengungguli pencapaian Laskar Pelangi yang mengumpulkan 4,6 juta penonton pada delapan tahun silam. Sungguh mengesankan, bukan? 

Tidak semata-mata mengalami lonjakan dari sisi kuantitas, film-film Indonesia juga meningkat secara kualitas di tahun 2016. Tampak terlihat pada ragam tema dan genre yang mulai bercorak, beragamnya pilihan dewan juri untuk kategori Film Terbaik di perhelatan-perhelatan film (Ya, Festival Film Indonesia, Festival Film Bandung, Apresiasi Film Indonesia, serta Piala Maya memiliki pilihan berbeda satu sama lain), hingga paling personal, cukup alotnya aku dalam menentukan 10 film Indonesia paling meninggalkan kesan sepanjang tahun 2016 sampai-sampai merasa perlu untuk mengekspansi kuota film dari semula 10 menjadi 16. Phew
Mengingat ini yaitu daftar pribadi, subjektifitas beserta preferensi tentu sangat menentukan komposisi film pengisi daftar maupun posisi dari film itu sendiri. Maka sangat mungkin adanya akad maupun ketidaksepakatan. Keduanya sama-sama lumrah, dan aku pun meyakini betul pilihan ini terang tidak akan menyenangkan semua pihak. Dimanapun posisimu nantinya, ada dua hal yang ingin tekankan. Pertama, daftar ini hanya memuat film Indonesia yang telah resmi tayang di bioskop pada tahun 2016. Kedua, daftar ini aku buat sebagai bentuk perayaan pada perfilman Indonesia dalam satu tahun terakhir sekaligus memudahkan para pembaga blog untuk mencari tahu film-film Indonesia rilisan tahun 2016 apa saja yang paling aku rekomendasikan. 

Sebelum menapaki posisi 16 besar, aku beberkan terlebih dahulu empat film yang nyaris (!) menempati posisi prestisius tersebut: 

– Catatan Dodol Calon Dokter 


– Rudy Habibie 


– Shy Shy Cat 


– Wonderful Life 



Dan, inilah 16 film Indonesia terbaik 2016 versi Cinetariz: 
#16 Ada Cinta di SMA 


Dilingkungi perilaku suudzon bahwa ini hanyalah film remaja menjemukan nan menjengkelkan lainnya, Ada Cinta di SMA nyatanya justru membawa kejutan besar bagi mereka yang telah meremehkannya. Manis, menggemaskan, dan menghibur, ini yaitu film yang akan menciptakan para penontonnya tersenyam-senyum senang sepanjang menontonnya. 

#15 Headshot 


Menandai kembalinya The Mo Brothers ke film layar lebar, Headshot memperlihatkan gelaran laga berintensitas tinggi sekaligus bikin ngilu. Tentu saja bikin ngilu alasannya yaitu durasi film bukan cuma didominasi pertarungan tangan kosong seru tetapi juga dar der dor yang sesekali menyemburatkan isi kepala dan bacok-bacokan yang akan menciptakan para penggemar mereka bersorak sorai. 
#14 Juara 


Charles Gozali hidangkan sajian hiburan dalam format paket komplit di Juara. Koreografi laganya tertata apik, lontaran humornya memicu gelak tawa tulus, dan sentuhan dramanya mengaduk-aduk perasaan. Bisma Karisma memperlihatkan bahwa ia memiliki potensi menjadi pelakon bagus disini. 
#13 Talak 3 


Peran pendukung dengan karakterisasi sederhana bukan penghalang bagi Reza Rahadian untuk menyuguhkan performa menyengat. Di Talak 3 yang jenaka dan menyentuh, ia berhasil tampilkan salah satu momen paling emosional di perfilman Indonesia tahun kemudian bersama Vino G. Bastian dan Laudya Cynthia Bella.  
 
#12 Koala Kumal 


Sekalipun tema besarnya masih seputaran kegagalan memupuk kekerabatan asmara ibarat kebanyakan film Raditya Dika yang lain, Koala Kumal membicarakan soal patah hati, kemudian merelakan dan kemudian memaafkan secara berbeda. Dalam artian, lebih dewasa, manis, serta hangat. Inilah salah satu film terbaik dari Raditya Dika. 

#11 My Stupid Boss 


My Stupid Boss memiliki lebih banyak stok dagelan yang mengenai sasaran ketimbang meleset. Saat sasaran dikenai, kelucuannya bisa sangat-sangat lucu. Dengan penghantaran guyonan sering sempurna sesuai waktu, misi untuk meledakkan bioskop memakai tawa berkepanjangan sanggup dicapai.

#10 Jilbab Traveler: Love Sparks in Korea 


Tak sekadar memanjakan mata lewat hamparan visual cantik, Jilbab Traveler Love Sparks in Korea juga memanjakan hati melalui tuturan kisah menghanyutkan. Film ini yaitu kesempatan emas buat kita untuk melihat Bunga Citra Lestari, Morgan Oey dan Giring Ganesha dalam akting terbaik mereka, sejauh ini. 

#9 Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss Part 1 



Dengan kelakar berdaya ledak hebat, penceritaan mengikat dan performa keren pemainnya, Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss Part 1 hadirkan kesenangan maksimal. Angkat topi buat Abimana Aryasatya, Vino G. Bastian, dan Tora Sudiro yang tampil sangat meyakinkan sebagai Dono, Kasino, serta Indro. Pecah! 

#8 Aach… Aku Jatuh Cinta 


Aach… Aku Jatuh Cinta yaitu sebuah kekacauan yang indah. Seperti bukan padanan pas, tetapi begitulah film ini. Penonton diboyong memasuki kisah percintaan penuh kekacauan Rumi-Yulia yang dihantarkan dengan sangat bagus melalui parade gambar penuh warna pula rasa ditunjang performa bagus dan lagu pengiring yang “berbicara.” 

#7 3 Srikandi 


Siapa mengira 3 Srikandi akan semenghibur ini? Menginspirasi dan menyentuh, jelas, tapi tak mengira kandungan humornya begitu tinggi. Lika-liku emosinya pun renyah buat disantap dan lakon pemainnya hebat, terutama Chelsea Islan yang berulang kali mencuri perhatian dengan logat Suroboannya. 
#6 A Copy of My Mind 


A Copy of My Mind yaitu semacam bentuk penghormatan Joko Anwar terhadap Jakarta. Segenap unek-uneknya mengenai ibukota tanah air – entah itu rasa cinta, gemas, prihatin, hingga jengkel – dilontarkannya melalui kisah percintaan dua wong cilik yang terhidang begitu romantis, intim, sekaligus getir. 

#5 Aisyah Biarkan Kami Bersaudara 


Aisyah Biarkan Kami Bersaudara menghantarkan pokok bahasannya mengenai toleransi antar umat beragama secara halus dan mulus tanpa pernah menerabas batasan-batasan apalagi terlihat kelewat berangasan untuk mengkhotbahi penonton. Hasil akhirnya, film pun terasa sangat indah, hangat, menyentuh sekaligus penting. What a lovely movie! 
#4 Cek Toko Sebelah 


Melalui Cek Toko Sebelah, Ernest Prakasa menerangkan dua hal. Pertama, film debutnya bukanlah hasil dari keberuntungan pemula semata, dan kedua, kematangannya sebagai seorang sineas. Dengan momen komedik dan dramatik berhasil melebur mulus, tak pelak Cek Toko Sebelah bisa mengundang banyak air mata penonton. Baik air mata senang alasannya yaitu humornya amat efektif maupun air mata haru alasannya yaitu kehangatan kisahnya. 
#3 Athirah

Athirah memang tidak dilantunkan kolam melodrama yang sedikit-sedikit terdengar teriakan histeris, sedikit-sedikit bercucuran air mata, sekalipun kisah hidup sang subjek yaitu bahan bagus untuk menciptakan penonton terisak hebat. Riri Riza menentukan menuturkannya secara elegan, dipenuhi ketenangan ketimbang letupan-letupan emosi. Pun tanpa ledakan tangis, Athirah tetap sanggup menusuk hati penontonnya sedemikian rupa. 
#2 Surat Dari Praha 


Dilepasnya Surat Dari Praha bisa dikata merupakan momen paling sempurna untuk kesannya berseru keras “yes, Angga Dwimas Sasongko did it again!” alasannya yaitu untuk kali keempat dalam karir penyutradaraannya, Angga sajikan suguhan berkelas tinggi dengan sekali ini memadupadankan secara harmonis antara sejarah kelam tanah air bersama platonic love story. Surat Dari Praha pun menjadi sebuah perwujudan dari surat cinta yang dirajut dengan amat indahnya, memiliki nuansa romantis pekat, sekaligus menyimpan kepiluan mendalam. 

#1 Ada Apa Dengan Cinta? 2

Penantian selama ratusan purnama untuk sekuel Ada Apa Dengan Cinta? terbayar memuaskan. Daya pikat kekerabatan percintaan Cinta dengan Rangga atau persahabatan Genk Cinta masih besar lengan berkuasa terasa sekalipun kita telah terpisahkan dari mereka sepanjang belasan tahun. Jika ada dua kata paling pas untuk mendeskripsikan Ada Apa Dengan Cinta? 2, maka itu yaitu “juarak!” dan “ngangenin” alasannya yaitu sehabis menontonnya ada rasa rindu besar untuk ingin kembali menontonnya lagi, dan lagi. Total jenderal, aku menyaksikan film ini sebanyak enam kali sepanjang tahun 2016.