October 22, 2020

(Special) 20 Film Terbaik 2016 Versi Cinetariz


Ternyata, banyak juga film berkesan yang berkeliaran sepanjang tahun 2016. Berulang kali dibentuk merepet tak berkesudahan oleh sejumlah judul film sempat membuatku berpikir 2016 bukanlah tahun yang manis bagi perfilman dunia. Pemikiran tersebut seketika terhempas, kemudian sirna, tatkala mulai menyusul daftar 20 film terbaik 2016 versi Cinetariz. Menduga akan tuntas dalam sekejap, realitanya justru berkata lain. Tak menerka sama sekali menentukan 20 judul saja dari 200-an film di tahun yang (awalnya) dianggap semenjana bakal menjadikan sakit kepala. Banyak pilihan! 

Didapat 37 film pada seleksi tahap pertama. Harus mengeliminasi 17 judul menghadirkan pergolakan batin karena jujur saja, kesemuanya yaitu film-film yang dengan senang hati akan aku rekomendasikan kepada para pembaca. Tapi mau bagaimana lagi, peraturan tak tertulis untuk daftar tahunan di Cinetariz hanya mengizinkan 20 film saja yang lolos. Maka sehabis menimbang-nimbang beberapa kali dengan kebanyakan dilandasi faktor “seberapa tinggi kemungkinan film-film ini akan ditonton ulang ke depannya dan tetap enak disantap meski dalam medium berbeda”, berikut yaitu 20 film yang meninggalkan impresi paling mendalam sepanjang tahun 2016: 
#20 Hunt for the Wilderpeople

Perpaduan antara road movie dengan coming of age yang menautkan seorang bocah bersama ayah angkatnya ini berlangsung cukup gila. Memang tak seliar What We Do in the Shadows yang berasal dari sutradara sama, tapi efektif membelalakkan mata beberapa kali. Sudah bisa diterka akan jenaka dan menyentuh hati berkaca pada materi kisahnya, namun yang tak diantisipasi sebelumnya, rahasia Hunt for the Wilderpeople punya momen-momen seru penggenjot adrenalin juga. 
#19 The Wailing 


Bagaimana seandainya seorang misterius tiba-tiba tiba ke desamu dan sejurus kemudian wabah sulit terjelaskan melanda seantero desa? Pertanyaan andai-andai tersebut terperinci mengerikan dikala betul terjadi, bahkan ketika sebatas kisah fiksi dalam The Wailing pun telah sanggup memberi imbas ngeri. Pemicunya yaitu permainan atmosfer mengusik kenyamanan, jalinan pengisahan sarat misteri yang memicu materi diskusi usai menyimaknya, serta… faktor kedekatan. Ya gimana, acara berbau klenik gampang dijumpai di sekitar kita sih. 
#18 Kapoor & Sons

Sebetulnya Kapoor & Sons terhitung klise ditilik dari premisnya: reuni keluarga berujung kekacauan hebat. Akan tetapi, ibarat rata-rata film mengenai keluarga disfungsional, Kapoor & Sons mempunyai daya pikat hebat yang menyulitkanmu untuk melepaskan tatapan dari layar beberapa menit sehabis film memulai pengisahannya. Tanpa tersadar kau telah ikut tergelak-gelak, mencicipi kehangatan, hingga alhasil hancur lebur dibuatnya pada 30 menit terakhir yang sangat menguras emosi. 
#17 Kubo and the Two Strings 


Dari segi konten, salah satu pesaing tangguh Disney di sektor animasi tahun kemudian yaitu Laika dengan produknya, Kubo and the Two Strings. Dihadirkan dalam format animasi stop motion, film tak ada henti-hentinya mendorong munculnya reaksi terperangah karena visualisasinya terhampar sungguh imajinatif. Berkelas premium. Lebih dari itu, film menghadirkan jalan penceritaan lucu-lucu menggelitik, mengharu biru, sekaligus membius yang akan membuatmu tidak keberatan untuk didongengi sekali lagi selepas menontonnya. 

#16 Captain America: Civil War 


Ditetapkan untuk mengalun sepanjang dua setengah jam lebih, Civil War tidak pernah berbenturan dengan kata “melelahkan” apalagi “membosankan”. Plotnya padat berisi, gelaran adegan laganya layak diacungi dua jempol, dan selera humornya yang cenderung ugalan-ugalan begitu menyegarkan suasana. Civil War telah menghadirkan spektakel gegap gempita yang sekaligus menempatkannya sebagai produk terunggul Marvel Studio sejauh ini. 

#15 Don’t Breathe


Don’t Breathe mempunyai setumpuk adegan yang memungkinkanmu berkeringat dingin, mengeluarkan sumpah serapah dan kesulitan menghela nafas lega karena intensitas tidak main-mainnya. Tanpa perlu diberi peringatan untuk “jangan bernafas”, kita pun sudah terlebih dahulu menahan nafas karena ya bagaimana mau bisa bernafas lha wong Don’t Breathe sedemikian mencekamnya. 

#14 Spotlight

Sekalipun kau telah mengenal cukup baik pemberitaan yang menghebohkan Boston dan banyak sekali penjuru dunia ini yang menjadi dasar utama film, kenikmatan dalam menyantap Spotlight sama sekali tidak berkurang. Selama kurun durasi dua jam, film akan terus menerus mencengkram erat perhatianmu lewat pemaparan yang begitu padat, rapi, sekaligus dihantarkan dalam wujud pemeriksaan yang seru, penuh inovasi mencengangkan, dan menghantam emosi. 
#13 Train to Busan 


Kita bisa berteriak-teriak “ayo lekas lari, lekas!” dikala gerombolan zombie bersiap memangsa mereka, ikut diliputi amarah membara tatkala salah seorang penumpang egois berikut penumpang-penumpang hasutannya mengisolasi mereka, hingga mencicipi ketidakrelaan teramat sangat ketika satu persatu mulai terinfeksi. Kemampuan melibatkan emosi inilah yang membuat atensi penonton terpancang sepanjang durasi Train to Busan

#12 A Monster Calls

Mengira tidak lebih dari sekadar kisah fantasi biasa mengenai petualangan seorang bocah bersama sesosok monster pohon, nyatanya ini drama ‘keji’ wacana pendewasaan dan berdamai dengan sedih mendalam jawaban kehilangan yang dimetaforakan ke dalam dongeng bervisualisasi menakjubkan. Bukan bagaimana Juan Antonio Bayona mempresentasikan keajaiban visual yang membuat A Monster Calls sulit terlupakan, melainkan ceritanya yang amat personal utamanya jikalau kau pernah berada di situasi si tokoh utama: mencoba merelakan kepergian ibu yang dijemput malaikat maut. 

#11 Neerja

Didasarkan pada kisah kasatmata pembajakan pesawat yang menghadiahi seorang pramugari, Neerja Bhanot, gelar jagoan kemanusiaan, Neerja dihantarkan dalam nada penceritaan yang memungkinkan penontonnya untuk mencengkram erat-erat kursi bioskop hampir sepanjang durasi. Mencekam. Dengan ruang gerak serba terbatas, sungguh mengagumkan intensitas film bisa dijaga stabil tanpa pernah sekalipun mengendur. Mengingat film ini soroti pula relasi antar manusia, menontonnya seraya membawa tissue pun suatu keharusan. 
#10 Moana

Moana memperlihatkan bahwa tontonan mengikat tidak melulu harus bersumber dari gagasan serba bombastis, malah seringkali kesederhanaan dengan sanksi dan pengemasan yang sempurna lebih bisa menghadirkan kejutan-kejutan menyenangkan. Pengalaman menonton Moana terasa mengasyikkan karena film ini dihidupkan oleh serentetan momen yang menjadikan gelak tawa maupun perasaan bersemangat penonton, subteks perihal women empowerment, visualisasi menakjubkan, sumbangsih mengagumkan para pengisi suara, serta barisan nomor-nomor musikal gampang didendangkan yang susah dilupakan. 

#9 Ada Apa Dengan Cinta? 2

Penantian selama ratusan purnama untuk sekuel Ada Apa Dengan Cinta? terbayar memuaskan. Daya pikat relasi percintaan Cinta dengan Rangga atau persahabatan Genk Cinta masih berpengaruh terasa sekalipun kita telah terpisahkan dari mereka sepanjang belasan tahun. Jika ada dua kata paling pas untuk mendeskripsikan Ada Apa Dengan Cinta? 2, maka itu yaitu “juarak!” dan “ngangenin” karena sehabis menontonnya ada rasa rindu besar untuk ingin kembali menontonnya lagi, dan lagi. Total jenderal, aku menyaksikan film ini sebanyak enam kali sepanjang tahun 2016. 
#8 Our Times

Seorang cewek Sekolah Menengan Atas tak terkenal naksir perjaka ternama di sekolahnya padahal ada perjaka lain yang nrimo mencintainya. Klise? Banget. Tak terhitung sudah berapa kali plot semacam ini didaur ulang, meski hanya segelintir pula yang berhasil. Our Times merupakan cuilan dari yang sedikit itu. Pesonanya telah memancar sangat berpengaruh sedari mula, mengajak penonton bernostalgia dengan masa-masa ‘nista’ semasa duduk di dingklik sekolah. Gesekan molekul cinta antar pemain meyakinkan, humornya sempurna sasaran, romansanya bikin senyum-senyum gregetan, dan penempatan lagu temanya sangat efektif. 7 dari 10 sahabat perempuanku yang menonton film ini sukses dibikin kesengsem oleh huruf berjulukan Tai Yu. 

#7 Arrival

Karya terbaru dari sineas Denis Villeneuve, Arrival, ini bukanlah film fiksi ilmiah mengenai evakuasi umat insan dari serangan alien yang didalamnya bermuatan adegan-adegan eksplosif. Bukan. Alurnya cenderung berpilin yang meminta fokus penuh dari penontonnya. Saat kita sanggup memenuhi permintaan tersebut, mencuat kekaguman atas penyampaian cerdas pada kisah mengenai pentingnya membangun komunikasi, kemanusiaan, serta menentukan pilihan hidup yang terbentuk dari hasil interaksi mendalam bersama makhluk asing. Berkat sang sutradara dan performa subtil Amy Adams, pekerjaan sebagai jago bahasa tampak sangat keren. 
#6 A Man Called Ove

Film asal Swedia ini sejatinya lucu, menengok kontradiksi seorang renta pemarah berjulukan Ove dengan orang-orang di sekitarnya. Kita dibikin geli, gemas dan geleng-geleng kepala sendiri menyaksikan Ove yang sangat saklek. Lalu tiba tetangga baru, menyusuplah dongeng masa kemudian si tokoh utama, yang menghadirkan kehangatan di hati pula rasa haru. Penonton disadarkan, cara jitu melumerkan kerasnya hati yaitu membangun komunikasi, keterbukaan, dan ketulusan. A Man Called Ove bentuk bukti lain yang menguatkan pernyataan kritikus kenamaan Roger Ebert bahwa kebaikan seringkali lebih ampuh mengundang air mata ketimbang kesedihan. 

#5 Sing Street

Sekali ini mencoba memotret jiwa-jiwa usia belasan yang semangatnya meletup-letup, Sing Street yaitu persembahan menawan lainnya dari seorang John Carney usai dua film melodius, Once dan Begin Again. Cecapan emosinya masih serupa, jenaka dan manis, dengan penambahan enerjik khusus untuk Sing Street. Deretan tembangnya yang bernafaskan nuansa 80-an mengikuti latar waktu film terdengar renyah di indera pendengaran dan sulit dihempaskan begitu saja dari benak hingga berhari-hari lamanya. Jika Arrival membuat linguist tampak cool, maka Sing Street memberi kesan amat baik pada anak grup band sehingga mungkin saja kau tiba-tiba mengontak sahabat usang kemudian mengajak mereka membentuk grup band usai menonton ini. 
#4 Eye in the Sky 


Menyaksikan perdebatan dalam Eye in the Sky yang hasil alhasil terus menerus mengalami tarik ulur sepanjang durasi membawa kita melalui beberapa macam fase; tertawa lepas, teriak-teriak gemas, menitikkan air mata, hingga bertepuk tangan penuh kelegaan. Tanpa harus mengobral keberisikan medan peperangan, malah tak jarang senyap, film tetap bisa memunculkan teror sekaligus genjotan hebat pada adrenalin. Kapan coba kau pernah mencicipi gregetan setengah mati dengan keringat mengucur deras menyaksikan seseorang berjualan roti? Sensasi yang rasa-rasanya gres akan kau peroleh untuk pertama kalinya di Eye in the Sky

#3 Room 


Mengambil pendekatan berbeda dalam menerjemahkan pesan kekuatan cinta seorang ibu kepada anaknya, Room memberi kehangatan di titik awal dikala relasi antara Ma dengan putranya, Jack, masih ‘normal’, kemudian menghadirkan ketegangan begitu sebuah fakta terbeberkan, dan diakhiri emosi meletup-letup yang perlahan tapi niscaya melembut ketika masing-masing mencoba menyesuaikan diri ke ‘dunia baru’ mereka. Room membawa kita pada permainan emosi penuh hentakan yang tidak memungkinkan matamu tetap kering selama menontonnya. Adegan pertemuan kembali Ma dengan Jack ditengah-tengah keriuhan polisi masih menghantui hingga sekarang. 

#2 Your Name

Bagaimana jadinya dikala film komedi wacana body swap ]dicampurkan dengan romansa, disaster movie, dan fiksi ilmiah? Memang terdengar amat penuh, namun Your Name berhasil meleburkannya mulus sehingga menjadi tontonan yang tersusun atas bermacam-macam emosi didalamnya dimana masing-masing mencuat untuk saling menguatkan alih-alih melemahkan. Kamu akan dibentuk tertawa olehnya, kemudian mencicipi kecemasan, kemudian mendapat sensasi tegang, dan pada alhasil dibikin menangis entah disebabkan haru atau keindahan filmnya. Meminjam istilah anak muda zaman sekarang, Your Name akan membuatmu baper. Inilah sebuah mahakarya dari seorang Makoto Shinkai dan aku berani memastikan bahwa pernyataan tersebut tidaklah hiperbolis. 

#1 La La Land

Dihantarkan secara gegap gempita pula manis-manis nyelekit, La La Land akan memukaumu melalui bagaimana Damien Chazelle mengkreasi setiap momen dalam film yang mempunyai cita rasa indah pula intim, kemudian memperlihatkan kebahagiaan, dan melayangkan bacokan begitu penonton disadarkan bahwa realita tidaklah seindah mimpi. Ya, La La Land mempunyai jiwa di setiap hentak kaki, setiap alunan melodi, dan setiap untaian lirik yang membuat tawa, kekaguman, serta air mata. Sungguh sebuah film yang magis!

* La La Land memperoleh 14 nominasi di Oscars yang menempatkannya berdampingan dengan All About Eve dan Titanic sebagai film paling banyak meraih nominasi Oscars sepanjang sejarah.