October 22, 2020

[Special] Film Indonesia Terlaris 2012


Tahun 2012 yang telah berlalu meninggalkan kita sepekan silam cukup banyak menorehkan kebahagiaan terhadap perfilman Indonesia. Beberapa sineas bersuka cita karena film yang dikomandoinya berjaya di pekan raya serta ajang penghargaan bertaraf internasional yang turut berdampak kepada mulai diliriknya film-film buatan anak bangsa oleh masyarakat dunia. Di samping keceriaan menyambut sejumlah film yang mengharumkan nama bangsa, para pekerja film di dalam negeri yang belum berkesempatan untuk memboyong filmnya ke luar dari Indonesia pun turut berpesta pora melihat penonton berduyun-duyun menggerebek bioskop demi menyaksikan film nasional. Pemandangan yang dalam dua tahun terakhir ini tidak kita jumpai di Indonesia. 


Setelah di tahun 2011 tidak ada satupun film nasional yang bisa menembus angka 1 juta penonton, perilaku pesimis mulai melanda aneka macam pihak. Tidak tanggung-tanggung, ada pula yang mengkhawatirkan perfilman nasional akan kembali dilanda ‘mati suri’ menyerupai yang terjadi di pertengahan tahun 1990-an terlebih produksi film horor komedi instan serta film berbumbu seks mengalami peningkatan dan rupanya cukup diminati oleh publik. Setelah impian seolah sudah pupus, datanglah The Raid. Sebelum resmi diputar di bioskop-bioskop Indonesia, The Raid terlebih dahulu melanglang buana dari satu pekan raya ke pekan raya lain. Mendapat puja puji dari sejumlah insan perfilman dunia membantu meringankan beban PT Merantau Films dalam berpromosi. Bisik-bisik dan kicauan di jejaring sosial wacana film ini pun perlahan tapi niscaya mulai bertebaran. Masyarakat Indonesia pun dibentuk penasaran, seheboh apa sih The Raid sampai Sony Pictures bersedia untuk mendistribusikannya ke Amerika Serikat? 

Kala The Raid balasannya resmi memasuki jaringan 21 dan Blitz, masyarakat pun melaksanakan ‘serbuan maut’ ke bioskop dalam bermacam-macam bentuk. Nonton bareng komunitas yang telah langka dilaksanakan untuk film dalam negeri digelar dari Sabang sampai Merauke. Film isyarat Gareth Evans ini pun sukses membukukan angka 1,8 juta penonton di simpulan masa tayangnya. Nyaris tiga kalinya raihan jumlah penonton Surat Kecil Untuk Tuhan yang merupakan film terlaris di tahun sebelumnya. Gegap gempita yang berlangsung selama beberapa bulan ini nyatanya tidak berlanjut ke bulan-bulan berikutnya. Musim paceklik penonton kembali melanda. Sedikit kejutan di pertengahan tahun tiba dari Soegija, film garapan Garin Nugroho, yang berhasil mendatangkan komunitas gereja untuk memenuhi bioskop. Berkat trik promosi yang jitu serta munculnya kontroversi disana sini karena dianggap sebagai usaha kristenisasi dan penyebaran agama Katolik, 459 ribu penonton berhasil dicapai. Angka yang terbilang rendah sebenarnya, tapi mengingat semakin banyaknya masyarakat Indonesia yang ogah-ogahan untuk mendukung karya sineas dalam negeri dengan menyaksikannya pribadi di layar lebar serta adanya gempuran dari film-film demam isu panas milik Hollywood, maka ini sanggup diterima. 
Harapan untuk melihat ledakan jumlah penonton pun tinggal tersisa kepada film Idulfitri yang disebut-sebut sebagai demam isu panasnya Indonesia. Umumnya, pada masa ini jumlah penonton yang menyambangi bioskop melonjak dua sampai tiga kali lipat ketimbang hari-hari biasa. Maka tradisi untuk melempar film lokal rilisan terbaru menjelang Idulfitri pun dipertahankan. Sayangnya, libur panjang Idulfitri di tahun 2012 ini tidak membawa torehan rekor anyar. Jumlah penonton selama Idulfitri 2012 tidak melebihi 1,5 juta. Sumbangan terbesar didapat dari Perahu Kertas yang menggiring 588 ribu penonton, sementara ketiga film lainnya mentok di kisaran 150 – 200 ribu penonton. Coba bandingkan dengan tahun 2011 dimana Di Bawah Lindungan Ka’bah dan Tendangan Dari Langit tidak terpaut jauh dalam hal mengumpulkan penonton. 

Bulan-bulan berikutnya berlangsung datar tanpa ada kejutan berarti. Ditilik dari segi kualitas, kita boleh tersenyum alasannya ada peningkatan di sana. Para sineas berani menjajal tema gres dengan penggarapan yang serius dan pengemasan yang menarik. Hanya saja, penonton tetap menanggapi hirau taacuh seolah tidak peduli seramai apapun tanggapannya di jejaring sosial. Senyum kecut mengembang. Rumah Kentang dan Perahu Kertas 2 yang dijagokan akan sanggup menjual banyak tiket bahkan ngos-ngosan dalam perjalanan mengumpulkan 400 ribu penonton. Memasuki simpulan tahun, impian yang di awal tahun bersinar terperinci benderang perlahan mulai meredup menuju kematian. Nyaris tidak ada kesempatan terlebih banyak film raksasa dari Hollywood yang siap menguasai bioskop. Benar saja, selama November, penonton lebih menentukan untuk berdesak-desakkan demi melihat jilid simpulan kisah cinta insan dengan vampire, kebangkitan seorang intel dari kematian, atau usaha hidup seorang cukup umur di lautan yang ganas bersama seekor harimau, ketimbang menyimak Hello Goodbye, Jakarta Hati, Langit Ke-7, atau Atambua misalnya. Hello Goodbye masih beruntung mengais lebih dari 100 ribu penonton di dikala rekan-rekannya tiarap. 

Kejutan sesungguhnya tiba di bulan Desember. Siapapun tidak ada yang menerka bila 5 cm dan Habibie & Ainun bisa merengkuh 2 juta penonton apalagi keduanya dirilis dalam waktu yang berdekatan. Bisa mencapai 500 ribu penonton saja sudah Alhamdulillah. Nyatanya, kian hari, kedua film ini kian menggila. The Hobbit yang digadang-gadang bakal menyusul kesuksesan trilogi The Lord of the Rings terpaksa mengakui keperkasaan 5 cm dan Habibie & Ainun. Bahkan, pernah dalam sekali waktu, 390 layar dari 700 layar di seluruh Indonesia dipakai untuk memutar film yang masing-masing dibesut oleh Rizal Mantovani dan Faozan Rizal ini. Habibie & Ainun juga sempat mencicipi ditayangkan di 243 layar dikala libur Natal. Kesuksesan dua film ini rupanya turut membawa berkah bagi Potong Bebek Angsa (PBA) dan Cinta Tapi Beda (CTB) yang awalnya sama sekali tidak diperhitungkan. Baik PBA maupun CTB sukses menjaring 200 ribu penonton lebih. Sebuah kisah manis di penghujung tahun 2012. 
Jadi, sehabis sedikit mengulas mengenai raihan jumlah penonton film Indonesia 2012, apa yang bisa kita dapatkan? Pertama, setidaknya separuh dari 10 film yang bertengger di gugusan film terlaris ialah pembiasaan dari novel atau buku ‘best seller’. Di posisi 5 besar, hanya The Raid yang beranjak dari naskah orisinil sementara Habibie & Ainun, 5 cm, Negeri 5 Menara, dan Perahu Kertas mengambil sumber dongeng dari goresan pena yang telah dibaca jutaan orang sebelumnya. Kedua, di dikala genre drama mendominasi, penonton mulai menjauhi genre horror. Tercatat hanya ada tiga film; Nenek Gayung, Rumah Kentang, dan Rumah Bekas Kuburan, yang mewakili film memedi. Malahan, bisa saja Rumah Bekas Kuburan tersingkir bila melihat PBA dan CTB yang jumlah penontonnya sedikit lagi melampaui. 
Fenomena ini menciptakan saya ingin tau dengan perfilman Indonesia di tahun ini. Menarik untuk menyimak film-film apa saja yang akan berjaya. Akankah film pembiasaan novel ‘best seller’ masih menjadi pilihan bagi para produser yang tak ingin mengambil resiko? Pertanyaan yang lebih penting, akankah film pembiasaan masih tetap unggul dan sekali lagi menumbangkan film-film dengan wangsit dongeng asli? Atau, pertanyaan yang lebih lebih penting lagi, akankah ada dobrakan gres di ranah horror sehabis jumlah penontonnya mengalami kemerosotan atau malah menentukan untuk menutup mata dan mengulang kembali resep lama yang telah usang? 

Note: Inilah 10 film Indonesia terlaris sepanjang 2012 mengutip dari situs filmindonesia.or.id. Data sampai tanggal 6 Januari 2013: 

1. Habibie & Ainun (2.500.000) 
2. 5 cm (2.100.000) 
3. The Raid (1.800.000) 
4. Negeri 5 Menara (765.000) 
5. Perahu Kertas (588.000) 
6. Soegija (459.000) 
7. Nenek Gayung (430.000) 
8. Rumah Kentang (400.000) 
9. Perahu Kertas 2 (389.000) 
10. Rumah Bekas Kuburan (279.000)