October 28, 2020

[Special] Kritik Film Bukan Sekadar Caci Maki


Persinggungan saya dengan website Qubicle yang singgah di halaman http://qubicle.id terjadi untuk pertama kalinya sekitar dua bulan silam menyusul disebarkannya pintasan ke sebuah artikel menarik terkait minat saya terhadap dunia perfilman melalui jejaring sosial Twitter. Meski ketertarikan pada Qubicle tidak serta merta terbentuk, tanpa disadari, sebenarnya hampir saban ahad saya melaksanakan kunjungan kesana entah untuk sekadar iseng-iseng belaka atau dilandasi harapan mencari artikel informatif sebagai materi menambah wawasan (duileeee!). 

Tapi iya, lho. Kamu bakal menjumpai bermacam-macam konten menggugah pikiran di Qubicle yang konsepnya sendiri menyerupai perpaduan antara media umum dengan blogging platform (semisal blogspot atau wordpress). Dalam artian, kita tidak dikondisikan hanya memperoleh tetapi juga bisa membagikan. Qubicle memungkinkan para penggunanya untuk mengkreasi konten-konten kreatif sesuai minat talenta dalam format beraneka rupa menyerupai tulisan, foto, rekaman musik, hingga video. Dengan mengusung konsep selayaknya media sosial, para pengguna juga sanggup saling berinteraksi maupun membangun jaringan. Menarik sekali, bukan? 
Apabila kau ingin berkenalan lebih jauh dengan Qubicle, bisa kunjungi: 
– Facebook : Qubicle 
– Twitter : @Qubicle_id 
– Instagram : @Qubicle_id 
Saat ini sih status saya di Qubicle lebih ke pengguna pasif alasannya ialah gres memanfaatkannya sekadar untuk materi bacaan maupun tontonan. Kebetulan, ada cukup banyak konten yang mewakili passion saya ke film disana. Salah satu temuan kala berselancar di Qubicle beberapa hari kemudian yakni mengenai kritik film (http://qubicle.id/story/belajar-jadi-kritikus-film-1 dan http://qubicle.id/story/belajar-jadi-kritikus-film-2). Mengingat blog Cinetariz berisikan ulasan-ulasan film yang bahasa kerennya bisa pula disebut sebagai kritik, maka rasanya sempurna jikalau pokok kupasan kali ini ialah artikel tersebut yang membicarakan soal “apa sih kritik film itu?” dan “bagaimana sih cara merangkai kritik film yang tepat?.” Terlebih, definisi ‘kritik’ bagi sebagian orang masih rancu dengan disalahartikan sebagai suatu cara untuk menjatuhkan. 
Artikel bertajuk “Belajar Menjadi Kritikus Film” hasil goresan pena Martin Johnindra yang terbagi ke dalam dua bab menjadi penting alasannya ialah pembaca diberikan paparan singkat, jelas, sekaligus padat berisi untuk memahami menyerupai apa kritik film yang sesungguhnya. Menurut narasumber artikel tersebut, Makbul Mubarak – dosen film di Universitas Multimedia Nusantara, kritik film terang berbeda dengan caci maki. Bahkan Ekky Imanjaya, seorang kritikus film tanah air, pernah suatu waktu berujar melalui wawancara di media online Cinema Poetica yang dipublikasikan pada 16 Februari 2016 bahwa kritik semestinya dilontarkan secara jujur pula santun. Tidak semestinya pula sang penulis merendahkan atau menyerang film yang dikritiknya. 
Makbul memiliki pedoman senada dengan Ekky yang lantas disarikan oleh Martin ke dalam bentuk artikel berformat tips sehingga memudahkan pembaca menangkap poin-poin penting yang hendak disampaikan si narasumber. Beberapa langkah yang disarankan Makbul untuk diaplikasikan pembaca semoga bisa menjadi kritikus film sebenar-benarnya, antara lain: 

• Perlu digarisbawahi, kritik dan mencaci ialah dua hal yang saling bertolak belakang. Saat kau menulis kritik, itu artinya tengah memperlihatkan value kepada suatu film dan value ini harus bisa dipertanggungjawabkan. 
• Pertanggungjawaban juga diharapkan pada paparan argumen. Penulis tidak bisa hanya sekadar menuliskan kata sifat untuk memperlihatkan anggun atau tidaknya suatu film. Dibutuhkan klarifikasi terperinci terhadap kata sifat itu sehingga pembaca ulasan bisa memahami mengapa film tersebut mengasyikkan, mengapa film tersebut menyeramkan, dan seterusnya. 
• Kudu mengetahui sasaran pembacanya alasannya ialah sangat menentukan pemakaian gaya bahasa maupun kedalaman pembahasan. Kebutuhan pembaca di media massa ternama terang berbeda dengan katakanlah blog atau jejaring sosial. 
• Syarat wajib dan mutlak dipenuhi seorang kritikus film ialah memiliki kecintaan pada film. Bagi Makbul, cinta saja tidak cukup alasannya ialah seorang kritikus film perlu pula menonton sebanyak mungkin film tanpa pandang bulu. Tidak bisa lagi mengotak-ngotakkan semisal, “ah, saya nggak suka nonton film dari negara A” atau “yah, kok pemainnya si anu”. Yang berarti, dikala kau menentukan konsentrasi ke katakanlah film Indonesia, sebisa mungkin kau harus menonton semua film buatan Indonesia walau seburuk apapun itu demi memperluas referensi. 
• Menentukan perspektif paling bijak supaya tidak berakhir seolah-olah ‘memperkosa’ filmnya. Pertama, tidak semua film diciptakan untuk keperluan yang sama dan tidak semua diciptakan setara sehingga setiap film membutuhkan perspektif berbeda alasannya ialah tentu akan sangat tidak adil apabila A Copy of My Mind beserta London Love Story ditelaah memakai teropong yang sama. Ini mengantarkan kita ke poin kedua yaitu mencari daerah bagi setiap film yang diproduksi. Sebuah film bisa saja bernilai di satu tempat, di satu waktu, serta di satu penonton, dan tidak bernilai di daerah lain, waktu lain, serta penonton lain. Kritikus memiliki peranan besar membantu film tersebut sehingga bisa menemukan daerah yang membutuhkannya. 
• Dapat menulis dalam Bahasa Indonesia yang baik dan benar. 

Artikel Martin yang dipublikasikan di Qubicle ini, harus diakui, sangat membantu bagi siapapun yang berminat menulis kritik film serta siapapun yang memiliki keingintahuan besar terkait bagaimana sebaiknya sebuah kritik film dilontarkan. Berdasarkan serentetan poin yang diutarakan Makbul, terang menulis kritik film tidaklah semudah yang diperkirakan banyak orang. Membutuhkan effort lebih sehingga goresan pena tidak berasa mentah atau sekadar cuap-cuap kosong belaka. Keberadaan goresan pena ini diharapkan bisa mengubah persepsi masyarakat kebanyakan yang agak salah kaprah terkait kritik tidak saja ke produk kebudayaan melainkan juga ke semua lini kehidupan.