November 23, 2020

Spider-Man: Far From Home (2019)

Di Far From Home, Spider-Man (Tom Holland) terbebani untuk mengambarkan kepantasannya menyandang status keanggotaan Avengers sekaligus penerus Tony Stark (Robert Downey Jr.). Tapi ini juga film soal fase dewasa Peter Parker, khususnya wacana kehidupan cintanya. Dua hal di atas terdengar berlawanan. Poin pertama berskala besar juga menuntut tanggung jawab lebih tinggi, sedangkan yang kedua lebih ringan. Hebatnya, Far From Home sanggup mencampurkannya secara seimbang.

Delapan bulan pasca kejadian di Avengers: Endgame, dunia masih belum sepenuhnya beranjak dari murung akhir kehilangan beberapa pahlawan, temasuk Tony Stark. Bahkan adegan pembukanya lagsung mengatakan penghormatan, yang meski menggelitik, nyatanya tetap menyentuh. Peter sendiri merasa selalu melihat wajah Tony ke mana saja ia pergi. Merasa perlu rehat, Peter mengesampingkan sejenak kehidupan sebagai pahlawan super selama mengikuti karyawisata ke Eropa, menentukan fokus mengejar pujaan hatinya, MJ (Zendaya).

Tentu saja problem terus mengikuti, kali dalam bentuk monster-monster Elemental yang menebar kehancuran di banyak sekali kepingan dunia. Tapi Elemental bukan satu-satunya figur misterius yang muncul. Berusaha melawan mereka yakni Quentin Beck alis Mysterio (Jake Gyllenhaal), pahlawan super yang mengaku berasal dari semesta lain. Mysterio tiba ke semesta ini (seperti komiknya, disebut Earth-616), bersatu dengan Nick Fury (Samuel L. Jackson guna membinasakan para Elemental.

Gyllenhaal menangani kiprahnya secara menghibur, sesekali menampilkan kesan “larger than life” tanpa perlu berlagak berlebihan. Dan kita berkesempatan menyaksikan sisi lembut nan hangat milik Jake, khususnya kala Mysterio mengambil alih kiprah selaku guru sekaligus mentor bagi Peter.

Tapi Mysterio seorang tak cukup, sehingga Fury merekrut Peter, yang awalnya mengelak karena: (A) Dia belum merasa bisa menangani problem sebesar itu, ditambah keberadaan Mysterio yang menurutnya lebih sanggup diandalkan; (B) Rencana mengungkapkan cinta kepada MJ juga terancam. Spider-Man: Far From Home adalah film pahlawan super di mana sang jagoan bukan cuma mencurigai diri, pula kukuh menolak panggilan menyelamatkan dunia lantaran ia ingin mendapat hati seorang gadis.

Apabila terdengar kurang heroik, masuk akal saja, alasannya yakni itulah yang dewasa akan lakukan. Naskah buatan duet Erik Sommers dan Chris McKenna (Ant-Man and the Wasp, Jumanji: Welcome to the Jungle, The Lego Batman Movie) bertindak selaku pondasi yang solid, tapi keberhasilan Zendaya dan Tom Holland menghidupkan kecanggungan manis di antara Peter dan MJ yakni alasan terbesar yang menimbulkan romansanya bekerja dengan baik.

Terdapat twist sebagai titik balik arah penceritaan. Keberadaannya tak mengejutkan bila anda mengenal lore Spider-Man, tapi kiprah utamanya yakni membuka jalan untuk kejutan-kejutan lain. Bahkan dua credits scene-nya menyimpan daya kejut tinggi. Urusan menghibur, Far From Home memang peningkatan pesat dibanding Homecoming. Humornya masih cukup jenaka, sedangkan adegan aksinya (salah satu kelemahan Homecoming) tampil bertenaga, kreatif, dibarengi ragam variasi musik buatan Michael Giacchino (Up, Jurassic World, Spider-Man: Homecoming).

Salah satu sekuen aksinya menandingi suasana trippy milik Ant-Man dan Doctor Strange, yang mengambarkan sempurnanya pemilihan antagonis film ini. Dia mempunyai kemampuan mengerikan (anggota Avengers siapa pun bakal kewalahan), pun memfasilitasi sang sutradara, Jon Watts (Cop Car, Spider-Man: Homecoming), membangun pertunjukan penuh kekayaan visual sekaligus jadi musuh yang cocok untuk Spidey hadapi di fase kehidupannya dikala ini.

Seperti tertulis di paragraf pembuka, Far From Home menghadapi sukarnya menyeimbangkan dua sisi heroisme Peter Parker. Dituntut mengambarkan kepantasan disebut “The Next Tony Stark”, Spider-Man harus melawan sesuatu yang benar-enar mengancam. Tapi di sisi koin lain, Peter masih remaja. Mustahil filmnya menempatkan si insan laba-laba di pertarungan menghentikan invasi alien seorang diri. Dan kekuatan yang dimiliki sang antagonis mempunyai kapasitas merangkum kedua sisi.

Bicara mengenai Peter sebagai penerus Tony, Far From Home menjalankan tugasnya mengoper tongkat estafet sambil mempersembahkan penghormatan bagi si “genius, billionaire, playboy, philanthropist”. Jangan khawatir, alasannya yakni film ini tetap milik Peter Parker, dan berkat Tom Holland, elemen di atas terasa lengkap. Baik Tony maupun Peter menghadapi pergulatan serupa, yakni ketakutan akan ketidakmampuan melindungi sosok-sosok tercinta. Setiap pergulatan itu menghampiri, kita bisa merasakannya dari mata Holland, bahwa Peter sungguh memedulikan orang-orang di sekitarnya.

Bahkan di salah satu adegan—yang jadi momen estafet plus penghormatan paling berilmu juga emosional sepanjang film—Holland menampilkan gestur ibarat sang mentor. Sang pemain film melaksanakan itu tanpa merendahkan aktingnya ke arah impersonasi murahan. Dia masih Peter Parker. Peter Parker yang amat terinspirasi oleh Tony Stark. Demikian pula Spider-Man: Far From Home. Film ini menciptakan ketiadaan Iron Man 4 tak perlu disesali, sembari tetap menjadi film Spider-Man yang mumpuni.