October 19, 2020

Spider-Man: Homecoming (2017)

Melahirkan inkarnasi layar lebar ketiga sang insan laba-laba, Spider-Man: Homecoming mengemban satu tugas: menjadi berbeda. Jika versi Sam Raimi mengusung dongeng kepahlawanan berasaskan petuah “with great power comes great responsibility“, sementara The Amazing Spider-Man tentang percintaan remaja, maka Homecoming membawa penonton mundur lebih jauh kala Peter Parker (Tom Holland) masih pelajar 15 tahun dengan responsibility berupa mewakili sekolahnya dalam lomba decathlon dan hobi merangkai lego Death Star bersama sahabatnya, Ned (Jacob Batalon). Di sisi lain Bibi May (Marisa Tomei) ialah perempuan paruh baya menawan idola para laki-laki di Queens.

Sebagai pembeda lain yakni statusnya yang bukan origin movie. Asal kekuatan Peter dituturkan melalui percakapan singkat tanpa deskripsi detail. Civil War telah memberi isu dasar yang kita perlu tahu, sehingga film pun dibuka oleh perkenalan bagi Adrian Toomes (Michael Keaton). Rasa dendam kepada Tony Stark (Robert Downey Jr.) mendorong laki-laki pekerja biasa ini bermetamorfosis penjahat super berjulukan Vulture. Bersama anak buahnya, ia mencuri bermacam-macam teknologi sisa pertempuran Avengers, memodifikasi, kemudian menjualnya. Adegan pembuka ini meletakkan kerikil pijakan, menjelaskan bahwa dia bukan megalomania dengan hasrat menguasai dunia. Murni seseorang yang ingin menyambung hidup. Disokong akting lunatic Michael Keaton yang sanggup mengintimidasi lewat seringai belaka, kita menerima salah satu villain terbaik MCU yang dilengkapi penokohan dalam plus screen presence kuat.
Homecoming memang berusaha sekuat tenaga mengemas abjad beserta konfliknya serupa dunia nyata. Contoh lainnya Peter. Pasca mendapatkan kostum canggih dari Tony, ia terjebak problema sampaumur yang berhasrat menandakan diri pula mencuri hati gadis pujaannya, Liz (Laura Harrier). Baginya, mengejar penjahat ialah acara menyenangkan, hingga aksinya justru kerap memancing kekacauan, mulai halaman rusak hingga mengancam nyawa ratusan orang di laut. Memperkenalkan Peter di tengah proses berguru menuju kematangan, membawa Homecoming menyentuh ranah dra-medi bernuansa coming-of-age

Marvel dikenal akan kebolehan memadukan kisah superhero dengan genre lain, balasannya tak mengejutkan kala DNA film sampaumur ala John Hughes (The Breakfast Club, Ferris Bueller’s Day Off) mengalir deras di sini. Bahkan suatu adegan merupakan homage bagi salah satu karyanya. Dan layaknya remaja, semua wacana bersenang-senang. Baik sewaktu menangkap pencuri sepeda atau meringkus perampok ATM, Spidey yang ramah nan gemar bicara selalu hadir, melahirkan versi layar lebar Spider-Man terbaik yang mewakili image “friendly neighborhood“. Pun itu didukung performa Tom Holland. Sisi nerd Peter ditampilkan sempurna melalui penuturan kecanggungan yang sanggup diterima pula gampang dipercaya tak ubahnya orang kebanyakan. He’s a likeable guy that looks ecstatic at almost everything and stuttered in a stressful situation. Bertatapan dengan si pujaan hati misalnya.
Naskah yang digarap oleh enam penulis turut memanfaatkan tiap sisi kehidupan sampaumur untuk menyuntikkan bobot dalam spectacle aksi di mana selalu ada motivasi atau latar mengarah ke sana. Ketika momen di Washington jadi perjuangan Peter berjuang demi pujaan hati, set-piece di atas kapal ferry menggambarkan puncak gejolak teen angst soal pergulatan pembuktian kapasitas. Barulah pada klimaks, pembuktian Peter menemui hasilnya. Di luar aspek remaja, naskahnya tidak ketinggalan menampilkan beberapa kejutan penambah keseruan, entah yang substansial membangun alur atau bumbu penyedap seputar keberlanjutan franchise dan tie-in terkait MCU secara lebih luas. 

Sayang komedinya tak semulus itu. Berusaha menyesuaikan dengan nuansa film remaja, baris leluconnya urung punya “daya bunuh” maksimal. Keinginan memberi tekstur lain dibanding installment MCU biasanya membawa keenam penulis terjebak keklisean humor teen movie. Hilang keunikan humor Marvel, digantikan perjuangan melucu yang dipaksakan hadir sesering mungkin hingga mendistraksi narasi utama. Begitu film usai, bentuk dagelan macam kegagalan Spidey menemukan kawasan mengaitkan jaring  which is Marvel kind of comedy  justru lebih memorable. Tapi Zendaya jadi penyelamat, bersenjatakan gaya deadpan membawakan celetukan-celetukan pedas menggelitik.

Fokus pada eksplorasi kehidupan sampaumur mau tidak mau mengurangi kuantitas aksi. Meski menyimpan motivasi, bicara tensi, formasi agresi Homecoming adalah yang terlemah semenjak Thor: The Dark World (worst movie in MCU by far). Penyebabnya terkait visi Jon Watts yang terserang penyakit banyak mantan sutradara indie yang beralih menggarap blockbuster. Adegan aksinya ialah medioker minim kreativitas juga intensitas yang diperparah titik puncak malas (juga kesalahan naskah) yang bergulir terlampau cepat. Sebagai kulminasi proses Peter, third act-nya tak memperlihatkan puncak heroisme yang semestinya merupakan resolusi. Walau kekurangan terkait action dan komedi menjauhkan Spider-Man: Homecoming dari kegembiraan luar biasa khas MCU, setidaknya tujuan menghidupkan lagi karakternya lewat versi berbeda telah terpenuhi.