November 24, 2020

Spies In Disguise (2019)

Spies in Disguise mengusung tema anti-kekerasan yang terlalu naif jikalau diterapkan di realita. Menurutnya, guna menumpas teroris, sebaiknya kita tidak menyakiti mereka. Tapi mengingat filmnya ditujukan bagi penonton usia muda, nilai berbunyi “jangan membalas kekerasan dengan kekerasan” memang perlu diajarkan. Sedangkan bagi kalangan dewasa, secara filmis, animasi yang menandai kembalinya Will Smith mengisi bunyi semenjak Shark Tale 15 tahun kemudian ini, di luar dugaan memperlihatkan lebih dari sekadar tontonan kekanak-kanakkan sebagaimana disiratkan trailer-nya.

Selepas sekuen animasi pembuka ala seri James Bond, film yang kisahnya bersifat pembiasaan lepas dari film pendek Pigeon: Impossible (2009) ini memperkenalkan kita pada dua tokoh utamanya: Lance Sterling (Will Smith) si intel terbaik dan Walter Beckett (Tom Holland) si jenius yang kerap dianggap aneh. Kehebatan Lance menjadikannya begitu dipuja. Saat datang di markas, orang-orang menyambutnya kolam megabintang. Hingga dalam suatu misi, ia dijebak oleh  teroris berjulukan Killian (Ben Mendelsohn), kemudian dituduh membelot dan jadi buronan.

Jika Lance merupakan James Bond, maka Walter yaitu Q yang bertugas mendesain peralatan-peralatan canggih. Tapi prinsip anti-kekerasan Walter, yang kerap melahirkan senjata abnormal (ia mengganti peledak dengan pelontar glitter berisi endorphin), sehingga dipandang remeh juga dijauhi. Sikap tersebut bukan tanpa sebab. Ibu Walter yang berprofesi sebagai polisi tewas di tengah kiprah kala ia masih kecil. Sekarang Walter muncul bersama inovasi yang bisa menghilangkan badan seseorang, dan itulah cita-cita Lance untuk menghentikan rencana Killian sekaligus membersihkan namanya.

Hanya saja temuan itu belum sempurna, dan alih-alih tak terlihat, badan Lance berubah jadi seekor merpati. Pengembangan dari premis “merpati dalam koper biro rahasia” milik film pendeknya ke arah “agen belakang layar yang menjadi merpati” menjanjikan keunikan. Tantangan berikutnya tinggal sejauh mana naskahnya kreatif bereksplorasi. Setidaknya di konteks hiburan, duo penulis Brad Copeland dan Lloyd Taylor bisa memproduksi komedi yang efektif. Memanfaatkan karkateristik fisik merpati (mata kosong, tampang bodoh), layaknya ayam (ingat Heihei di Moana?), binatang satu ini terbukti ampuh sebagai amunisi humor absurd, yang menyuntikkan banyak warna di tengah usaha Lance menyesuaikan diri melangsungkan misi dengan badan barunya.

Terkait alur, Spies in Disguise tidaklah spesial, tetap berpijak pada formula. Ada potensi misteri seputar “Benarkah Killian yang menjebak Lance? Bagaimana caranya?”, namun para penulis menentukan mengesampingkannya. Keputusan itu sebetulnya sanggup dipahami, lantaran jikalau tak dibarengi modifikasi, kemudian memaksa menyimpan belakang layar yang jawabannya bisa penonton raba semenjak awal, kesudahannya bakal mengecewakan. Sedangkan pesan selaku pondasi kisahnya disampaikan secara solid. Walter dan Killian sama-sama menyimpan alasan atas pilihan mereka, yang tertaut pada pemikiran “kekerasan menimbulkan kematian, janjkematian melahirkan dendam, dendam memicu janjkematian lain”. Penonton jadi bisa melihat dua kutub berlawanan mengenai proses menyikapi kekerasan, di mana Lance berada di tengah-tengah.

Jajaran pengisi bunyi merupakan kekuatan lain Spies in Disguise. Sesosok laki-laki tampan, necis, berkarisma, penuh kepercayaan diri, idola banyak orang. Sulit dipastikan bukan, apakah saya sedang mendeskripsikan Will Smith atau Lance Sterling? Itulah alasan The Fresh Prince tepat menyuarakan sang biro rahasia. Demikian pula jikalau saya menyebut “pemuda canggung banyak omong”. Tom Holland atau Walter Beckett? Ditambah kesan intimidatif yang dibawakan oleh Ben Mendelsohn, tampak betul ketepatan filmnya dalam menentukan pengisi suara.

Spies in Disguise sekadar animasi layak tonton sebelum titik puncak tiba. Apakah perspektif Walter bisa membuat perdamaian dunia? Entahlah. Pastinya itu membuat sekuen agresi puncaknya jauh lebih menarik tatkala senjata-senjata tidak lazim miliknya menggantikan senapan konvensional dan granat. Ketimbang ledakan api bombastis, semburan asap warni-warni justru menghiasi layar. Pun di bangku penyutradaraan, duet Troy Quane-Nick Bruno tidak asal menjalin agresi bertempo cepat, tapi turut memperhatikan intensitas dan urgensi. Cukup menegangkan bagi penonton cukup umur melihat nyawa ratusan orang terancam sementara para pahlawan didesak hingga ke batas kemampuan mereka, namun tak hingga terlalu kelam apalagi angker untuk anak alasannya yaitu selipan humor masih setia menemani. Presisi yang tidak selalu ada di film animasi semua umur.