November 24, 2020

Star Wars: The Rise Of Skywalker (2019)

Terpecahnya penggemar menjadi dua kubu akhir kontroversi Star Wars: The Last Jedi (yang saya beri nilai sempurna) berdampak panjang, bahkan sampai dua tahun kemudian ketika sekuelnya, The Rise of Skywalker. Mengembalikan J. J. Abrams di bangku sutradara, epilog saga Skywalker yang membentang empat dekade ini terasa kolam dibentuk hanya sebagai jembatan antara kedua belah pihak. Hasilnya setengah-setengah. Masing-masing sisi mungkin bakal terhibur, namun menyisakan ketidakpuasan.

Beberapa tahun pasca The Last Jedi, Rey (Daisy Ridley) melanjutkan latihan Jedi bersama Jenderal Leia Organa (Carrie Fisher “dihidupkan lagi” secara halus dengan menerapkan footage tak terpakai dari The Force Awakens), sedangkan Kylo Ren (Adam Driver), sekarang berstatus Supreme Leader, makin gencar berusaha menghancurkan Resistance, kali ini dengan perhiasan kekuatan dari Palpatine (Ian McDiarmid). Tentu ini bukan spoiler, mengingat kembalinya mantan Emperor ini telah diumumkan semenjak April.

Guna menggagalkan rencana tersebut, Rey, Finn (John Boyega) dan Poe Dameron (Oscar Isaac) harus melintasi galaksi, mengunjungi aneka macam planet untuk mencari alat penunjuk jalan menuju dunia Sith. Tapi untuk menemukan lokasi alat itu, mereka harus lebih dulu mempunyai sebuah belati yang mencantumkan gosip dalam Bahasa Sith kuno, dan seterusnya. Dibuat naskahnya oleh Abrams dan Chris Terrio (Argo, Batman v Superman: Dawn of Justice, Justice League), The Rise of Skywalker punya alur layaknya video game yang bergerak dari satu checkpoint ke checkpoint berikutnya.

Ringan cenderung monoton, separuh lebih durasinya jauh dari kesan sebuah babak pamungkas, meski kesudahannya kita berkesempatan menghabiskan waktu bersama trio protagonisnya. Isaac mulai menemukan pijakan memerankan sosok ugal-ugalan, pun chemistry-nya dan Boyega melahirkan banyak banter menyenangkan. Sementara Ridley semakin solid menampilkan problem batin Rey sembari menyukseskan tujuan trilogy barunya memberikan pesan empowerment. Ketangguhan Rey beraksi mengayunkan lightsaber menjadikannya layak mengemban tugas pahlawan utama blockbuster aksi sebesar Star Wars.

Sayang kebersamaan ini terlambat empat tahun. Andai ketiganya disatukan semenjak The Force Awakens, mungkin tak sesulit ini bersimpati, dan tamat perjalanan mereka nantinya bakal memberi efek emosi signifikan. Tapi para penggemar space opera, khususnya Star Wars akan tetap dipuaskan oleh visi Abrams mengeksekusi petualangan lintas planet, yang dibantu sinematografer langganannya semenjak Mission: Impossible III (2006), Dan Mindel, membangun dunia imajinatif penuh keasingan serta pemandangan masif nan memukau.

Jika ditanya apakah saya mencicipi haru sepanjang 142 menit filmnya, jawabannya, “Ya”. Apalagi gugusan musik ikonik John Williams selalu ditempatkan dengan timing sempurna. Tapi daripada suatu efek yang layak didapat dari penuturan drama memikat, secara umum dikuasai emosi itu dipicu momen-momen fan service pencipta nostalgia. Bukankah The Force Awakens melakukan hal serupa, bahkan lebih kental lagi mengandalkan nostalgia? Betul, tapi sebagaimana The Last Jedi ingin merevolusi, pembuka trilogi itu mengusung tujuan jelas, kemudian secara total melangkah ke sana. Sedangkan sang epilog trilogi justru menyerupai kebingungan.

Berusaha memuaskan penggemar sepenuhnya berpotensi merusak bangunan cerita barunya, tetapi, meneruskan visi awal sanggup semakin mengasingkan penggemar lama. Saya menyebut “visi awal”, lantaran aneka macam retcon terhadap poin-poin kontroversial film sebelumnya tampak jelas, alias ada perubahan di tengah jalan. Walau bersyukur melihat Rey tetap jadi sentral, penonton yang mengharapkan arah gres mungkin kecewa atas retcon tersebut, sebaliknya, penggemar sanggup jadi bersuka cita menyaksikan doa mereka dikabulkan, namun Abrams dan tim masih menahan diri menggelontorkan fan service demi mengedepankan para protagonis gres (contohnya di klimaks).

Paling tidak standar keseruan Star Wars dalam agresi saling kejar di angkasa dan saling babat menggunakan lightsaber berhasil dipenuhi oleh Abrams. Selain di elemen dramatis terkait kegamangan hati Kylo/Ben, Driver (bersama Ridley) merupakan figure yang terlihat meyakinkan melakoni adegan laga, membantu menjaga intensitas Star Wars: The Rise of Skywalker, yang meski secara keseluruhan tampil memadai, kualitasnya ada di jajaran menengah ke bawah dibanding installment lain.