November 30, 2020

Stuber (2019)

Di tengah kurangnya asupan film elok (sejak The Lion King belum sekalipun saya memberi evaluasi positif), saya tak menempatkan ekspektasi tinggi terhadap Stuber, mengingat belakangan, buddy action comedy bermutu semakin jarang. Sampai Dave Bautista dan Kumail Nanjiani datang, menunjukkan bagaimana semestinya sub-genre satu ini diperlakukan.

Victor (Dave Bautista) yaitu polisi tangguh yang terobsesi meringkus bandar narkoba berjulukan Tedjo (Iko Uwais). Obsesi itu merenggangkan hubungannya dengan sang puteri, Nicole (Natalie Morales). Bahkan Victor melupakan malam ekspo karya seni Nicole, kemudian menjadwalkan operasi lasik beberapa jam sebelumnya, menciptakan penglihatannya terganggu sepanjang hari. Berusaha memastikan kehadiran ayahnya, Nicole memaksa Victor mengunduh Uber.

Seperti kita ketahui bersama, kedatangan Victor bakal terganggu. Gangguan itu berbentuk laporan dari seorang informan bahwa malam itu Tedjo akan melaksanakan transaksi. Akibat kondisi mata yang tak memungkinkannya menyetir, Victor pun memesan Uber. Di situlah ia bertemu Stu (Kumail Nanjiani), sopir Uber yang susah payah mempertahankan rating empat, lantaran kurang dari itu, ia akan kehilangan pekerjaan.

Stu tidak kalah buru-buru. Selepas mengakhiri relasi dengan pacarnya, Becca (Betty Gilbin), gadis yang belakang layar Stu cintai, memintanya tiba untuk berafiliasi seks (sambil mabuk dan menonton When Harry Met Sally). Intinya, Becca ingin mengakibatkan Stu pelampiasan. Sebuah bumper. Sial bagi Stu, ini bukan perjalanan bintang lima mulus sebagaimana ia harapkan.

Alih-alih melesat menuju rumah Becca, Stu terjebak bersama Victor dalam satu hari gila penuh baku tembak, kejar-kejaran mobil, dan mayat-mayat bergelimpangan. Karena kondisi penglihatan Victor tengah memburuk, kebutuhannya akan dukungan Stu jadi suatu hal logis. Setidaknya, elemen itu dapat meminimalisir rasa janggal di benak penonton, lantaran keduanya sama-sama terpaksa, tidak berdaya, dan tak punya opsi lain.

Buddy movie wajib punya dua protagonis dengan kepribadian berlawanan, dan Stuber memenuhi itu, bahkan mengakibatkan perbedaan mereka jalan menyentil konsep maskulinitas. Bagi Victor pria dilarang menangis, hatinya mesti sekeras batu, dan menganggap kelembutan sebagai kelemahan. Sebaliknya, Stu yaitu sosok sensitif yang cenderung mengandalkan otak, pula percaya bila pria berhak meneteskan air mata.

Naskah karya Tripper Clancy (Four Against the Bank, Hot Dog) belum maksimal memanfaatkan ciri menarik para protagonis, di mana Stuber cenderug menggambarkan goresan mereka lewat berkelahi lisan repetitif nan seadanya, ketimbang citra kreatif ketika Victor dan Stu saling mengisi lewat keunggulan masing-masing, semisal ketika Stu membantu Dave menggali warta dengan cara “menyiksa” seorang penjahat.

Daya bunuh humornya juga terpengaruh, lantaran wacana mengocok perut pun filmnya main aman. Leluconnya minim kegilaan pendukung premis “kacaunya”, pula tak seberapa segar selaku pemicu tawa-tawa tak terduga. Untung ada Dave dan Kumail. Kunci sukses keduanya terletak di keengganan tampak konyol secara berlebih. Bahkan mereka kolam tidak sedang melawak, tapi menawarkan respon masuk akal kala dua orang terjebak dalam situasi yang sukar dipercaya. Khususnya Kumail. Didasari kebutuhan membangun dinamika, tokoh utama buddy comedy wajib diisi satu figur serius dan seorang “badut”, dan saya lelah melihat para badut bersikap seolah mereka yaitu insan terbodoh di dunia. Kumail berbeda. Stu histerikal, namun sesuai kondisi dan situasi.

Satu elemen lagi yang menghalangi Stuber menjadi “perjalanan bintang lima” yaitu adegan aksinya. Baku hantam komedik Stu melawan Victor di sentra perbelanjaan memang percampuran tepat agresi dengan komedi, namun selain itu, simpel dilupakan. Koreografi garapan Iko (memadukan bela dirinya dan street fighting brutal milik Dave) dilemahkan oleh penyutradaraan Michael Dowse (FUBAR, Goon, What If) yang terserang penyakit  quick cuts dan close up”. Bicara soal Iko, meski hanya diberi screen time pada sekuen pembuka dan klimaks, tidak ibarat Triple Threat, Stuber menghormati sang aktor, di mana kehadirannya berpengaruh, pun ia berkesempatan menciptakan Dave Bautista babak belur.