November 26, 2020

Sunyi (2019)

Sunyi merupakan remake dari Whispering Corridors (1998), yang mana ambil penggalan dalam periode gres perfilman Korea Selatan pasca pembebasan dari penyensoran selepas kediktatoran militer berakhir. Alhasil, film tersebut dimanfaatkan selaku media menyuarakan kritik terhadap banyak isu, khususnya perundungan dan kerasnya sistem pendidikan. Itulah alasan mengapa karya Park Ki-hyung tersebut jadi fenomena populer, meski kualitasnya sendiri agak mengenaskan. Berbeda dibanding pendahulunya, Sunyi tak kebingungan menentukan jati diri, mencampur horor dan drama dengan cukup apik, menjadikannya remake yang superior.

Tema perundungan bukan saja dipertahankan oleh Sunyi, bahkan diberi eksplorasi lebih dalam. Kisahnya berlatar tahun 2000 di Sekolah Menengan Atas Abdi Bangsa yang prestisius namun digelayuti info perundungan yang konon telah berlangsung turun-temurun. Pun tersebar rumor bahwa pada dekade lalu, hal tersebut merenggut nyawa tiga siswi, yang sampai sekarang arwahnya senantiasa bergentayangan di sekolah.

Protagonis kita berjulukan Alex (Angga Yunanda), putera mediang paranormal terkenal, yang jelang hari pertamanya bersekolah di Abdi Bangsa, makin mengkhawatirkan senioritas di sana. Ketika ia nyatakan kekhawatiran tersebut, sang ibu (Unique Priscilla) merespon, “Senioritas kan elok buat character building”. Dari situ kita bisa melihat contoh yang mengakibatkan perundungan terus lestari.

Pada malam pertama, siswa-siswi tahun pertama dikumpulkan oleh ketiga senior mereka: Andre (Arya Vasco), Erika (Naomi Paulinda), dan Fahri (Teuku Ryzki), guna menghadiri malam orientasi. Saat itulah aturan senioritas mulai diberlakukan. Murid tahun pertama yaitu budak (tahun kedua disebut “manusia”, tahun ketiga disebut “raja”, alumni disebut “dewa”) yang wajib menuruti perintah senior yang berhak mengambil barang apa pun milik mereka, bahkan dihentikan memasuki area-area menyerupai perpustakaan, kafetaria, juga toilet.

Bu Ningsih (Dayu Wijanto) selaku kepala sekolah merasa khawatir, tapi atas nama tradisi, menentukan membiarkan. Sedangkan para ingusan tetap diam, alasannya yaitu melawan bukan saja mengakibatkan mereka musuh publik, pula menghilangkan kesempatan menerima jaringan luas milik alumni. Sampai titik ini, naskah buatan sutradara Awi Suryadi (Danur, Badoet) bersama duet Agasyah Karim dan Khalid Kashogi (Badoet, Mau Kaprikornus Apa?, Reuni Z), terbukti bisa menyediakan pijakan solid dalam penggambaran bulat setan budaya perundungan. Tidak berhenti di situ, naskahnya melangkah lebih jauh menelusuri soal bantuan contoh didik orang renta lewat tro Andre-Erika-Fahri. Orang renta mereka sama-sama bermasalah, entah menerapkan sanksi fisik, menuntut terlalu tinggi, atau tidak hadir di rumah.

Ketiganya menciptakan hari-hari Alex kolam neraka. Beruntung, ia bertemu Maggie (Amanda Rawles). Keduanya semakin dekat, dan dunia Sekolah Menengan Atas Alex tak lagi sesunyi itu. Sialnya, begitu identitas ayahnya diketahui Fahri, Alex dipaksa memanggil arwah para siswi yang konon bergentayangan di sekolah. Awalnya perjuangan itu nampak gagal, namun tak usang berselang, janjkematian mulai menyebar dan darah mulai tumpah di Sekolah Menengan Atas Abdi Bangsa.

Sewaktu Whispering Corridors seolah melupakan hakikatnya sebagai horor, Sunyi menerapkan pendekatan familiar sembari tetap memberi jalan bagi elemen-elemen di atas biar mengalir sebagai pondasi cerita, alih-alih sekedar jump scare layaknya banyak horor medioker lokal belakangan. Di luar adegan “listening class” dan “kolam renang” (yang sudah muncul di trailer), terornya tak banyak memperlihatkan kreativitas. Mayoritas formulaik, ditambah riasan hantu seadanya. Tapi saya mengapresiasi penolakannya untuk melempar jump scare membabi-buta atau menggunakan efek bunyi berisik. Serupa judulnya, film ini tidak takut menerapkan kesunyian, tahu kapan mesti berdiam diri, kapan mesti tampil menggelegar (yang juga tak pernah terlampau berisik). Tata musik garapan Ricky Lionardi (Danur, Sakral, Lukisan Ratu Kidul) juga sesekali terdengar atmosferik.

Sunyi pun menempatkan hati di daerah yang tepat. Kembali ke adegan “kolam renang”, secara mengejutkan momen tersebut menyimpan bobot emosi. Ada kesedihan di sana, tatkala senior pelaku perundungan ditampakkan kerapuhannya, digambarkan sebagai salah satu korban kegagalan sistem pendidikan, tentunya tanpa berusaha menjustifikasi perbuatan mereka kepada junior. Momen itu meyakinkan saya bahwa mereka tidak pantas mati. Sehingga saya mengamini saat Alex mengonfrontasi sang hantu di titik puncak sambil memberikan pernyataan serupa. Semakin memuaskan kala Sunyi ditutup oleh konklusi hangat, sesuatu yang dikorbankan film aslinya demi pemanis twist tak perlu.

Ya, kalau sudah menonton Whispering Corridors, anda tahu akan ada twist. Sepanjang durasi, filmnya menyiratkan itu melalui beberapa petunjuk subtil. Apa yang membuatnya Istimewa adalah, sekalinya kejutan tersebut diungkap (sayangnya lewat sanksi antiklimaks), penonton tidak dijejali rekap, selaku pembagian terstruktur mengenai atas sebaran petunjuk-petunjuk tadi. Seolah semua itu yaitu “bonus” bagi penonton yang bersedia menaruh perhatian lebih.