November 25, 2020

Surat Dari Maut (2020)

Surat Dari Kematian, selaku pembiasaan kisah Wattpad berjudul sama buatan Adham T. Fusama, punya modal besar lengan berkuasa terkait penelusurannya terhadap legenda urban yang menggabungkan persepsi mistis dan logis. Memang menarik menelisik guna mempelajari asal undangan legenda urban. Pernah berkuliah di Universitas Gadjah Mada selama lebih dari tujuh tahun, saya tahu betul bahwa kampus-kerakyatan-yang-tidak-lagi-merakyat tersebut menyimpan banyak kisah mengerikan. Sayang, filmnya gagal memaksimalkan potensi dan hanya menambah panjang daftar horor lokal berkualitas rendah yang seolah enggan berhenti mengotori industri.

Ceritanya dibuka dikala Pasha (Omara Esteghlal) menerima surat bahaya ajal yang mengharuskannya bernyanyi sambil telanjang lingkaran (definisi “telanjat bulat” film ini rupanya berbeda dari pemahaman umum) di depan Gama Plaza kalau ingin tetap hidup. Penonton yang familiar dengan lingkungan UGM tentu tahu adegan itu tidak diambil di depan Gama Plaza, tapi biarlah. Ada dilema lebih fatal seputar naskah buatan Evelyn Afnila (Keluarga Tak Kasat Mata, Roh Fasik) yang punya struktur penceritaan kacau juga keganjilan logika.

Misalnya di beberapa menit awal yang terkesan disusun acak, asal melompat dari satu kejadian ke kejadian lain yang tak berkaitan tanpa transisi memadai. Atau di pertengahan durasi, ketika salah satu karakternya menerima kabar inovasi sebuah mayat. Dia ditelepon di malam hari, mengunjungi TKP pada siang hari, namun anehnya, warga sekitar masih heboh dan gres saja mengangkat jenazah tersebut.

Tokoh utamanya ialah Zein (Endy Arfian) dan Kinan (Carissa Perusset), dua mahasiswa UGM yang menyalurkan hobi jurnalistik mereka dengan menciptakan konten YouTube perihal legenda urban di sekitar kampus. Oh, saya lupa menyebut bahwa kepanjangan UGM di sini bukan “Universitas Gadjah Mada”, melainkan “Universitas Garuda Mandala”. Cukup kreatif, lantaran filmnya tetap bisa menggunakan kata “UGM” atau “Gama”, tanpa menyalahi urusan legalitas.

Setelah gagal mengungkap misteri Jembatan Perawan, Zein dan Kinan tertarik menyelidiki kasus surat ajal yang diterima Pasha. Apalagi sehabis Reno (Eric Febrian dalam akting kaku yang luar biasa mengganggu), sobat Pasha—yang menggilai Britpop hingga memasang poster-poster Oasis, Stone Roses, Radiohead, The Cure, Arctic Monkeys, hingga The Killers yang sebetulnya tidak sinkron lantaran merupakan grup band Amerika—menghilang dari kamar. Dua protagonist kita yakin bahwa: 1) surat ajal itu berafiliasi dengan ajal Darius (Jerome Kurnia) yang gantung diri di Gama Plaza; dan 2) Joe (Justin Adiwinata), mitra Pasha dan Reno merupakan korban berikutnya.

Mayoritas durasi diisi perdebatan Zein, yang menggandrungi hal-hal mistis, dan Kinan yang cenderung skeptis. Sewaktu Endy Arfian tampil dengan logat Jawa khas FTV, Carissa Perusset sejatinya tidak buruk, tapi ia belum punya kapasitas guna menyelamatkan penokohan jelek Kinan si jurnalis udik (ditinjau dari banyak sisi) yang muncul dengan rencana udik untuk mengungkap identitas pengirim surat kematian. Kinan is a clueless journalist and Carissa herself looks clueless on handling that.

Mestinya sabung argumen kedua tokoh utama sanggup melahirkan investigas menarik melalui benturan sisi logis dengan mistis, tapi yang tersaji hanya gugusan debat kusir minim bobot yang gagal memancing pedoman dan pemahaman lebih lanjut terhadap kedua sudut pandang. Surat Dari Kematian terlampau banyak menghabiskan waktu memperlihatkan Zein dan Kinan beradu verbal ketimbang mengeksplorasi dereta legenda urbannya, yang sekadar muncul sekilas di adegan pembuka.  

Elemen mistisnya menyimpan beberapa jump scare yang kebanyakan dihukum oleh sutradara Hestu Saputra (Perfect Dream, Lorong) menggunakan trik murahan, ibarat wajah hantu yang mendadak memenuhi seisi layar dibarengi musik berisik garapan Krisna Purna (Siti, Talak 3, Abracadabra) dan Cahya Kalatidha. Ada satu momen menjanjikan, tatkala sesosok hantu ibarat Gollum menampakkan diri, dalam teror yang awalnya bisa memunculkan atmosfer mencekam, tapi berubah jadi menggelikan begitu si hantu mulai menyerang. Tawa seisi bioskop pecah ketika itu terjadi.

Menjanjikan. Potensial. Surat Dari Kematian memang erat dengan kata-kata itu. Sama halnya ibarat kehadiran guru spiritual Zein, Pak Wibowo (Landung Simatupang), yang sempat memamerkan ilmu melipat jalan (lebih dikenal sebagai “melibat Bumi”). Andai hal-hal semacam itu lebih sering dimunculkan supaya memperkaya elemen mistisnya. Tapi kesannya keterlibatan Pak Wibowo justru menyulut kejanggalan-kejanggalan lain. Apa hasil dari ritualnya di Gama Plaza? Sebelum kita tahu, filmnya pribadi melompat ke entah berapa hari setelahnya, menunjukan satu lagi kekacauan penceritaan Surat Dari Kematian.

Setelah titik puncak kental agresi canggung dan kelalaian filmnya bahwa ada proses autopsi yang bisa menjelaskan penyebab kematian, datanglah twist yang coba menjembatani perspektif logis dan mistis. Sayang, jawaban gagalnya presentasi mengenai kedua sisi, imbas kejutan itu tidak sekuat harapan. Dan kalau ingin memunculkan respon “Keren! Nggak ketebak! Mengejutkan!” dari penonton awam, penjelasannya yang acak-acakan berujung menghalangi tercapainya tujuan itu.