October 24, 2020

Surat Kecil Untuk Dewa (2017)

Berbeda dengan Surat Kecil untuk Tuhan (2011), karya Fajar Bustomi (From London to Bali, Jagoan Instan, Modus) ini tak mengadaptasi kisah novel Agnes Davonar kecuali ketika Angel kecil (Izzati Khanza) menulis surat untuk Tuhan. Persamaan lain tentu terkait tujuan mengucurkan air mata penonton sederas plus sesering mungkin. Begitu keras usahanya, hingga paruh pertama tak ubahnya penyatuan keping-keping momen penderitaan ketimbang alur kohesif. Naskah goresan pena Upi selalu mencari cara menyusupkan kesedihan dalam hidup Angel dan kakaknya, Anton (Bima Azriel), yang sesudah kabur dari siksaan paman mereka, terpaksa mengemis di jalan di bawah komando Oom Rudi (Lukman Sardi).

Oom Rudi yang mengumpulkan belum dewasa sebagai pengemis dengan kedok penampungan tak ragu bertindak keras  memukul dengan kayu, membenamkan kepala dalam air, menempelkan setrika panas  pada mereka kalau gagal mengumpulkan uang sesuai target. Tapi di tangan Fajar Bustomi, kegiatan macam dua anak bermain ayunan bersama pun jadi situasi dramatis, lengkap dengan gerak lambat, juga lagu belum dewasa versi megah buatan Andhika Triyadi. Hanya ada satu emosi berusaha dicuatkan: sedih. Hanya ada satu kondisi: penderitaan. Menjadikannya sekedar tearjerker, bukan observasi mendalam terhadap kehidupan anak jalanan. 
Kemudian terjadi kejadian yang memisahkan Angel dan Anton. Beberapa tahun berselang, Angel (Bunga Citra Lestari) hidup mapan di Australia bersama orang bau tanah asuh, bekerja sebagai pengacara pembela korban kekerasan dan kejahatan kemanusiaan. Menjelang ijab kabul dengan seorang dokter berjulukan Martin (Joe Taslim), timbul keinginan pada Angel kembali ke Indonesia guna mencari Anton. Mulai titik ini alur mulai menyusup masuk. Setidaknya ada proses pemeriksaan pemancing rasa ingin tahu mengenai keberadaan Anton dan diam-diam milik Oom Rudi, meski kelemahan narasi tetap bertebaran, menyerupai pengundang tanya perihal keabsahan fakta aturan kala polisi membebaskan buronan jawaban kurang bukti. Pun adanya kemiripan dengan Lion berupa kisah anak jalanan yang terpisah dengan keluarga diikuti proses mencari, lokasi di Australia, hingga kemiripan fisik Bima Azriel dan Sunny Pawar.
Sinematografi Yud Datau membungkus Lokasi outdoor kala malam dengan warna-warni lampu jalanan dan gemerlap neon yang memanjakan mata, namun beberapa coloring memancing nuansa tidak natural ditambah lens flare yang sesekali menyinari. Hendak memudahkan penonton menangkap emosi cast-nya, close-up acap diterapkan, bahkan di sebuah kesempatan, Angel bicara ke arah kamera seolah tengah menatap penonton tajam. Kepiawaian Bunga Citra Lestari menuangkan rasa termasuk “bicara” melalui sorot mata mendukung pilihan teknis di atas. Tapi Joe Taslim tidak, di mana ketidaktepatan ekspresi kerap melemahkan momentum. Sementara rambut gondrong dan jenggot tebal memudahkan Lukman Sardi menghidupkan seorang laki-laki keji. 

Surat Kecil untuk Tuhan bisa lebih dari tearjerker biasa. Walau bukan observasi solid seputar human trafficking, film ini sanggup menjadi luapan amarah terhadap para pelaku, menghukum mereka melalui kisah fiksi. Semua diawali shocking revelation pengguncang rasa sekaligus pemberi dosa departemen marketing yang mengarah pangsa pasar anak kala terdapat momen disturbing traumatik. Tapi ini kisah lain. Momen itu mengarah ke courtroom drama yang patut disayangkan, bukan jadi puncak emosi atau resolusi. Setelah rentetan dramatisasi, merupakan kerugian ketika Fajar mengeksekusi sidang dengan intensitas tanggung. Naskahnya justru menentukan konklusi berbentuk twist yang memaksa kaitan beberapa peristiwa. Keputusan tidak perlu yang menghalangi filmnya naik kelas, tertahan di status penguras air mata ketimbang curahan hati serta cita-cita konkret atas suatu isu.