November 25, 2020

The Addams Family (2019)

The Addams Family menampilkan keluarga darah biru abnormal yang tinggal di rumah renta berhantu bekas rumah sakit jiwa di mana bunyi si arwah penunggu rutin terdengar, makhluk berbentuk tangan insan pemilik foot fetish, gadis cilik yang selalu berusaha membunuh adiknya, dan hal-hal abnormal nan mengerikan lain. Berbekal materi tersebut, pembiasaan huruf kartun ciptaan Charles Addams ini melahirkan animasi menyenangkan, meski belum sekuat dua live action-nya, The Addams Family (1991) dan Addams Family Values (1993).

Pernikahan Gomez (Oscar Isaac) dan Morticia (Charlize Theron) berujung kerusuhan akhir amukan massa yang menolak mendapatkan The Addams beserta ketaknormalan mereka. Tiga belas tahun berselang, Gomez dan Morticia tinggal di bekas rumah sakit jwa terpencil di puncak bukit bersama kedua anak mereka, Wednesday (Chloë Grace Moretz) dan Pugsley (Finn Wolfhard), juga Lurch (Conrad Vernon) si pelayan yang berwujud kolam monster ciptaan Victor Frankenstein.

Serupa di versi live action, animasi ini pun sedikit terengah-engah di awal, ketika naskah buatan Matt Lieberman belum menemukan pijakan, khususnya perihal humor yang terkesan asal lempar sehingga kerap gagal menemui sasaran. Setidaknya, penonton yang sudah mengenal materinya, baik melalui kartun cetak, serial televisi, serial kartun, maupun film layar lebar, akan terhibur oleh kehadiran elemen-elemen familiar, dari lagu tema ikonik gubahan Vic Mizzy hingga kekhasan tiap anggota keluarga The Addams.

Sampai akibatnya konflik utama masuk, The Addams Family baru menemukan cengkeramannya. Terdapat dua cabang kisah yang nantinya saling berkaitan, yakni perjuangan Margaux Needler (Allison Janney) si pembaca program reality show (pikirkan konsep macam Bedah Rumah) menyingirkan The Addams yang dianggap berpotensi merusak rencana bisnisnya, dan impian Wednesday merasakan dunia luar sesudah selama ini selalu mendekam di rumah atas perintah orang tuanya.

Ketika menonton live action-nya dulu, saya terganggu oleh kesan bahwa jawaban orang luar terhadap The Addams terlalu normal. Mereka kaget, kebingungan, sedikit ketakutan, tapi melihat hal-hal menyerupai pergelangan tangan yang bergerak sendiri semestinya menjadikan respon lebih dari itu. Animasi ini mengatasi gangguan tersebut, memaparkan dinamika sosial The Addams dengan masyarakat sekitar, bahkan menjadikannya plot utama yang mengusung pesan soal “perbedaan”.

Kritikan perihal konformitas pada sosial masyarakat dalam kala post-truth ikut dilayangkan, yang muncul dalam wujud aplikasi Neighborhood Peeps, di mana para penghuni kota terpola gagasan Margaux saling bergunjing, melontarkan pernyataan menyerupai “Aku percaya semua yang saya baca” dan “Jika orang lain takut, saya juga takut”.

Tapi kolam pisau bermata dua, dampak negatif turut hadir. Pesona absurditas khas serinya memudar, ketika alur The Addams Family tak ubahnya animasi kebanyakan. Bandingkan dengan live action pertamanya yang bercerita mengenai logika bulus seorang lintah darat mengutus puteranya untuk menyamar sebagai Fester, adik Gomez yang telah bertahun-tahun hilang. Pun dengan membangun kesadaran The Addams jikalau publik menganggap mereka aneh, satir yang jadi pondasi kisah Charles Addams kehilangan kekuatan. The Addams tidak tahu kalau mereka dipandang aneh. Di situ daya pikatnya.

Beruntung, sewaktu kisahnya kurang stabil, humornya “pecah”, khususnya humor seputar Wednesday dengan segala anomalinya. Disuarakan layaknya jenazah hidup secara tepat oleh Chloë Grace Moretz, dibungkus kreativitas visualisasi sutradara Conrad Vernon dan Greg Tiernan yang sebelumnya berduet melahirkan kegilaan berjulukan Sausage Party (2016) dalam menyeimbangkan elemen horor dan komedi, The Addams Family efektif sebagai hiburan. Apalagi bagi penonton yang menangkap formasi rujukan terhadap bermacam-macam judul horor, sebutlah Frankenstein (1931), Invasion of the Body Snatchers (1978), The Amityville Horror (1979), The Evil Dead (1981), hingga It (2017).