October 21, 2020

The Cloverfield Paradox (2018)

Sejak awal penciptaannya, Cloverfield yaitu soal memancing ketertarikan penonton lewat misteri, baik terkait dongeng maupun seni administrasi marketing. Plot film pertamanya ditutup rapat hingga hari penayangan. 10 Cloverfield Lane gres mengumumkan judulnya dua bulan sebelum perilisan. The Cloverfield Paradox berusaha melebihi kedua pendahulunya dengan melaksanakan perilisan mendadak. Tatkala publik menanti kemunculan trailer film garapan Julius Onah ini di sela-sela Super Bowl, kejutan muncul. Bukan cuma trailer, Netflix mengumumkan bahwa The Cloverfield Paradox akan tayang hari itu juga seusai Super Bowl. Serba dadakan.

Bicara soal dadakan, alurnya juga bergerak demikian. Dibuka dialog pasangan suami istri, Michael (Roger Davies) dan Ava (Gugu Mbatha-Raw) mengenai penugasan Ava ke stasiun luar angkasa, tiba-tiba kita pribadi dilempar ke tengah sanksi misi yang berjalan kacau. Dari malam damai di Bumi, seketika melompat ke keriuhan luar angkasa. Nihil gradasi dalam transisi, seolah ada keping yang hilang. Hal tersebut terjadi berulang kali. Entah alasannya yaitu Onah lalai mengambil footage penghubung, penulisan naskah Oren Uziel yang melompat kasar, atau ketidakmampuan trio editornya menjahit adegan dengan rapi.
Ada kemungkinan keempat, yaitu perombakan berujung rusaknya pondasi cerita, yang terpaksa dilakukan demi mengakibatkan film ini bab seri Cloverfield. Serupa 10 Cloverfield Lane yang awalnya merupakan kisah lain berjudul The Cellar, film berjudul asli God Particle ini tidak diniati sebagai sekuel Cloverfield. Penyesuaian gres dilakukan di tengah produksi. Premis dasarnya tetap sama, wacana sekelompok astronot yang berusaha membuat sumber energi tanpa batas di stasiun luar angkasa demi mengatasi krisis energi Bumi. Setelah kegagalan berkali-kali, eksperimen jadinya berhasil, hingga mereka mendapati Bumi telah menghilang.

Misteri yang menarik, walau tanpa kaitan dengan Cloverfield sekalipun. Walau alurnya terus bergerak secara berantakan, setumpukan anomali yang terjadi konsisten menyulut rasa penasaran. Bagai tengah menyaksikan The Twilight Zone beserta balutan kisah yang makin absurd makin menyenangkan, tidak peduli seberapa besar misterinya mengkhianati nalar sehat. Belum lagi kemampuan Julius Onah membangun intensitas. Sang sutradara bukan pencerita handal, namun caranya menggambarkan situasi kacau efektif menyedot atensi hingga enggan rasanya memalingkan fokus dari layar. Pun musik buatan Bear McCreary acap kali menggema kolam alarm darurat yang mencekam.
Tapi sulit dipungkiri, koneksi dengan Cloverfield, termasuk beberapa easter eggs yang akan memancing diskusi, bisa menjaga antusiasme terhadap filmnya bertahan, setidaknya tak lenyap seutuhnya, khususnya begitu memasuki paruh final yang medioker. Inilah resiko sebuah dongeng dengan setumpuk misteri yang sanggup dijawab melalui satu kesimpulan. Begitu kesimpulan itu terungkap, keanehan-keanehan berikutnya tak lagi berarti. Filmnya pun tinggal menyisakan konflik ala kadarnya soal perjuangan para astronot yang tersisa untuk kembali pulang.

Mungkin kita takkan pernah tahu ibarat apa versi orisinil God Particle. Bisa saja keputusan mengaitkan dengan Cloverfield menghancurkan potensi narasinya. Bisa pula sebaliknya, koneksi itu menambah bumbu bagi suguhan fiksi ilmiah generik yang akan begitu gampang terlupakan. Paling tidak, film ini jadi punya susukan untuk memasukkan shot penutupnya yang keren. Penonton akan cenderung membicarakan shot tersebut ketimbang fakta bahwa jajaran cast kelas wahid macam Daniel Brühl, Chris O’Dowd, David Oyelowo, hingga Zhang Ziyi disia-siakan.