November 24, 2020

The Curse Of La Llorona (2019)

The Curse of La Llorona jadi kasus langka dikala saya berharap film horor bersedia meningkatkan volume tata bunyi kala hantu menampakkan diri. Terornya terlampau lirih, kurang bertenaga, dan dikala teror tersebut dijadikan hidangan utama alih-alih mengedepankan bangunan kisah—yang berkaca pada modus operandi sosok kuntilanak dengan kearifan Meksiko ini sejatinya berpotensi mengerikan—filmnya pun lebih pantas disebut sebagai “The Curse of the Boring Woman”.

Ditulis naskahnya oleh duet Tobias Iaconis dan Mikki Daughtry yang sebelumnya menelurkan Five Feets Apart, judul keenam dalam seri The Conjuring ini sebenarnya menjanjikan tiap ceritanya menyentuh ranah mimpi jelek parenting. Kehilangan anak yakni mimpi jelek semua ibu, apalagi jikalau ia justru dituduh sebagai biang keladi di balik bencana tersebut.

Itulah yang dialami Patricia Alvarez (Patricia Velásquez), tatkala Anna (Linda Cardellini), seorang pekerja sosial, meyakini ia melaksanakan tindak kekerasan terhadap dua puteranya. Patricia mengurung mereka, dan bekas luka ditemukan di tangan keduanya. Patricia menyangkal. Dia menyebut, perbuatannya itu terpaksa dilakukan demi mencegah La Llorona, hantu perempuan dari legenda Meksiko, menculik anak-anaknya. Patricia ditahan, namun bukannya aman, dua bocah itu justru ditemukan tewas  tenggelam.

Ya, The Curse of La Llorona merupakan horor yang tak segan menghabisi nyawa huruf bocah. Dari situlah kita dibentuk yakin bahwa ancaman yang mengintai Anna beserta putera-puterinya, Samantha (Jaynee-Lynne Kinchen) dan Chris (Roman Christou) tidak main-main. Bahkan teror La Llorona sempat menyentuh ranah kengerian psikologis kala Anna, sebagai pekerja sosial di bidang perlindunan anak, terjebak di posisi serupa Patricia. Dia disinyalir bertanggung jawab atas luka-luka yang diderita Samantha dan Chris. Ironis, miris, berpotensi tragis.

Sayang, elemen itu cuma dipaparkan sepintas lalu. Eksplorasi kisah dikesampingkan demi formasi jump scare yang mengatakan jikalau dalam debut penyutradaraan layar lebarnya, Michael Chaves belum terlalu menguasai teknik menggedor jantung. Walau dasarnya pandangan gres teror yang dimiliki naskah memang kurang impresif, lemahnya Michael mengatur timing atau menentukan sudut kamera terang tak memperbaiki situasi. Ditambah keputusan menerapkan tata bunyi “ramah telinga”, kemunculan La Llorona cenderung menjemukan. Kini saya mulai mengkhawatirkan nasib The Conjuring 3 yang bakal ia tangani.

Padahal jajaran pemain telah berkontribusi memberi akting mumpuni. Bukan saja Linda Cardellini selaku ibu yang dihantui kekhawatiran, Jaynee-Lynne Kinchen  dan Roman Christou pun sanggup melahirkan huruf anak yang simpatik. Ketika pertama disambangi La Llorona, mereka menentukan membisu didorong keraguan apakah semuanya hanya imajinasi atau kenyataan. Penokohan keduanya mempunyai kedewasaan tanpa merusak kemurnian keduanya sebagai bocah. Pun hal itu menghindarkan filmnya dari perdebatan mengesalkan dengan sang ibu mengenai benar atau tidaknya eksistensi La Llorona.

Seolah mencar ilmu dari kesuksesan Annabelle: Creation (2017), jelang babak ketiga, sedikit sentuhan humor sanggup ditemukan, yang ketimbang mendistraksi, justru menambah warna bagi tokoh-tokohnya. Ketegangan bertambah di titik itu, pasca dukun berjulukan Rafael (Raymond Cruz) terjun ke medan perang, dan secara bersamaan La Llorona turut meningkatkan intensitas serangannya. Sayang, tidak usang kemudian The Curse of La Llorona kembali terjerembab tanggapan kurang piawainya sang sutradara memproduksi teror serta bertebarannya lubang budi (Jadi apakah La Llorona memerlukan saluran ke pintu untuk menginvasi rumah?), walau sesekali, jump scare “menyenangkan” masih sanggup ditemui.