November 26, 2020

The Divine Fury (2019)

The Divine Fury takkan secara ajaib meningkatkan keimanan penonton ketika ajakannya semoga mempercayai Tuhan dipaparkan kurang meyakinkan (khususnya bagi para skeptis), namun kalau tujuannya yaitu memberikan pesan soal “mengutamakan kebaikan di atas segalanya” sekaligus menciptakan para hebat agama terlihat keren, film ini berhasil menjalankan tugasnya.

Paruh awalnnya eksklusif menggigit lewat rangkuman hal-hal yang menyulut ketertarikan sekaligus menata pondasi narasi. Saat kecil, Yong-hoo (Park Seo-joon) harus kehilangan ayahnya yang meninggal kala bertugas sebagai polisi, dan hendak mengejar pengendara kendaraan beroda empat yang mabuk, tanpa tahu ada iblis merasuki mereka. Yong-hoo yang berdoa sepenuh hati pun berakhir membenci Tuhan sehabis sang ayah pergi untuk selamanya.

Pembukaan itu memukau, alasannya yaitu bisa memberi alasan terperinci sehingga kita gampang memahami kebencian Yong-hoo sembari turut menyiratkan misteri mengenai serbuan iblis. Satu dekade berselang, Yong-hoo yaitu juara bertahan kompetisi bela diri yang tetap kesulitan mengontrol emosi. Bisikan-bisikan kerap didengarnya. Pada satu titik, ia menggila lantaran lawannya mempunyai tato salib di punggung.

Kemudian hal misteris terjadi. Tangan Yong-hoo mengalami luka sayatan dan tak pernah berhenti mengalami pendarahan. Sewaktu pengobatan medis tak membantu, ia beralih meminta pinjaman Ahn (Ahn Sung-ki), pendeta utusan Vatikan yang menyambangi Korea guna memburu Dark Bishop (Woo Do-hwan) si penyembah setan.

Luka itu rupanya merupakan stigmata (munculnya luka di badan dengan letak sesuai dengan luka Yesus ketika disalib) yang sanggup dipakai untuk mengusir iblis dalam badan manusia. Dari situlah Yong-hoo mulai membantu Pendeta Ahn melawan Dark Bishop beserta sekumpulan pasukan iblisnya (Legion). Hebatnya, melunaknya perilaku Yong-hoo dipresentasikan secara meyakinkan, karena: a) Dia tidak mendadak percaya Tuhan (bahkan masih menyatakan skeptisme sebelum klimaks), dan b) Terdapat alasan personal.

Asalan tersebut tak lain inovasi Yong-hoo atas figur ayah dalam diri Pendeta Ahn. Begitu rindu ia terhadap sang ayah, Yong-hoo enggan kehilangan “ayah yang lain”. The Divine Fury memang kembali menegaskan keahlian sineas Korea mencampur aduk ragam genre. Dasar ceritanya memang religi, namun menerima suntikan aksi, horor, fantasi, juga melodrama keluarga.

Dramanya ampuh mengaduk-aduk emosi lantaran dibangun bertahap, dari paparan penderitaan batin Yong-hoo sampai ia memperoleh “pencerahan”. Biarpun masih ada ceramah mengenai “Percayalah bahwa Tuhan mencintaimu”, itu bukan pendorong perubahan perilaku sang protagonis. Dia berubah pasca menemukan kasih sayang (lagi), serta memahami betapa menolong dan membahagiakan orang lain juga mendatangkan kebahagiaan baginya sendiri. Agama berdasarkan definisi The Divine Fury bukan (cuma) soal memperbanyak ritual beribadah. Terpenting justru berbuat baik.

Mungkin film ini mengandung lebih banyak adegan pengusiran setan bahkan dibanding film-film yang mencantumkan kata “exorcist” atau “exorcism” pada judulnya, namun tak pernah menjadikannya repetitif, alasannya yaitu apa yang Yong-hoo dan Pendeta Ahn hadapi bukan saja ancaman kekuatan fisik dan mistis para iblis, pula senjata paling berbahaya mereka: tipu daya. Apalagi Dark Bishop selaku antagonis dibantu oleh iblis berwujud ular (kalian tahu menyerupai apa sifat makhluk satu ini dalam kitab-kitab suci) yang memasuki paruh final dihidupkan menggunakan efek praktikal kelas satu.

Guna menghadapi lawan semacam itu butuh pendekar mumpuni, dan Park Seo-joon, bermodalkan karisma, postur, dan tentunya kemampuan bela diri memadai, melahirkan sosok protagonis badass. Silahkan lihat klimaksnya. Meski diganggu oleh keberadaan elemen deus ex machina, pertarungan puncaknya memamerkan koreografi beroktan tinggi, disokong pengadeganan dinamis sutradara Jason Kim (Midnight Runners), yang berhasil membangun tensi ketika bersedia menawarkan terperinci detail perkelahian.