October 27, 2020

The Doll 2 (2017)

Danur: I Can See Ghosts, The Curse, Jailangkung. Ketiganya termasuk horor lokal paling dinantikan sebab potensi besar serta digawangi nama-nama tak sembarangan. Sayangnya ada satu persamaan lain yakni sama-sama berkualitas buruk, mengecewakan meski sejatinya digarap sungguh-sungguh. Walau demikian dua di antaranya sukses secara finansial pun nampaknya memancing kembali demam isu publik terhadap horor. Ikut mencoba peruntungan yaitu The Doll 2 yang film pertamanya mengumpulkan lebih dari 550 ribu penonton dan bertengger di posisi 15 film Indonesia terlaris 2016. 

Serupa pendahulunya, film karya sutradara Rocky Soraya ini masih mengumbar kebrutalan, mengandalkan sadisme eksplisit sebagai senjata. Prolognya berurutan menampilkan aksara paranormal Bu Laras (Sara Wijayanto) dari film pertama dan pasangan suami istri Aldo (Herjunot Ali) dan Maira (Luna Maya) beserta puteri tunggal mereka, Kayla (Shofia Shireen). Tanpa basa-basi Rocky memacu filmnya, mengumbar darah semenjak menit pertama. Bukan kekerasan kosong, melainkan punya shock value yang salah satu momennya memberi statement tegas: sang roh jahat begitu kejam, bukan hantu narsis yang sekedar doyan muncul tiba-tiba.
Suatu malam kecelakaan kemudian lintas yang secara logika tidak mungkin terjadi kecuali ada peranan alkohol merenggut nyawa Kayla, membenamkan Maira dalam depresi. Atas saran sahabatnya yang tidak percaya hal-hal mistis, Elsa (Maria Sabta), Maira mencoba memanggil arwah sang puteri menggunakan boneka kesayangannya, Sabrina  yang lebih tak masuk kebijaksanaan jadi mainan anak dan menciptakan Ghawiyah nampak menggemaskan  sebagai medium. Dari situlah teror bermula, menggiring Maira menuju peristiwa-peristiwa mengerikan, menyerupai salah satunya kemunculan mendadak Sabrina di antara tumpukan cucian yang entah bagaimana, seluruhnya berwarna putih. Menolak percaya dongeng sang istri, Aldo membawa Maire bertemu Dini (Mega Caferansa), dokter seorang mahir kejiwaan yang daripada membimbing justru “menyerang” dan menghakimi “halusinasi” Maira. 
Paragraf di atas mendeskripsikan kelemahan paling fatal The Doll 2 yaitu kebodohan luar biasa naskah garapan Riheam Junianti (Sunshine Becomes You, The Doll, Tarot) dan Fajar Umbara (trilogi Comic 8). Film horor bisa dimaafkan bila tampil bodoh, namun lain dongeng ketika kebodohan tersebut hadir pada tiap titik penting, menghadirkan ganjalan untuk bisa sepenuhnya menikmati barisan kengerian. Melanjutkan jejak pendahulunya, The Doll 2 menolak eksploitasi jump scare. Kali ini hasilnya lebih baik. Sepanjang second act, ketimbang sekedar melambatkan alur kosong, ada usaha menyelipkan bobot dramatik berupa usaha seorang ibu menghadapi murung kehilangan buah hati. Luna Maya pun memberi suntikan nyawa melalui kesanggupan mencurahkan keputusasaan bercampur pilu. Walau karenanya kesan draggy tetap menyeruak akhir tuturan yang cuma menjangkau permukaan. 

Meski jump scare-nya sempat formulaik, Rocky bisa menyusun beberapa hentakan tak terduga yang efektif memberi daya kejut. Tapi keunggulan terbesarnya yaitu teror action-oriented pemicu adrenalin yang berkulminasi di klimaks. Disokong gerak kamera liar Asep Kalila yang mendukung terciptanya suasana chaotic dan gemuruh musik dengan porsi sempurna gubahan Anto Hoed, sang sutradara menyajikan puncak intensitas yang acap kali menyinggung ranah kejar-kejaran ala slasher. Membanjiri lokasi dengan darah hasil bacokan berantai atau benturan ke bermacam-macam benda, di tangan Rocky badan insan dijadikan sasaran kekerasan tak berujung, seolah memfasilitasi hasrat sadisme dalam diri penonton. Berlangsung cukup usang (sekitar 30 menit), third act-nya yaitu sajian bernyali yang jarang ditemui di horor lokal belakangan ini. 

Review film ini tersedia juga di: http://tz.ucweb.com/7_1C1tE