November 28, 2020

The Gangster, The Cop, The Devil (2019)

Premis soal dua sisi berlawanan yang bersatu untuk mengalahkan musuh bersama selalu jadi favorit saya. Entahlah. Situasi tersebut terdengar keren. Dan aksi-kriminal karya Lee Won-tae (Man of Will) yang bakal dibentuk ulang oleh Sylvester Stallone ini berhasil memuaskan kegemaran saya akan konsep di atas.

Sebagaimana dinyatakan judulnya, ada tiga pihak besar di sini: gangster, polisi, dan pembunuh berantai alias “The Devil”. Jang Dong-soo (Ma Dong-seok) yaitu gangster ternama yang menjalankan bisnis mesin arkade ilegal. Sosoknya kalem, beradab, namun tak segan bertindak brutal kepada lawan. Pada perkenalan kita terhadapnya, Jang sedang memukuli samsak yang di dalamya bukan berisi pasir, melainkan seorang pria.

Demi memuluskan bisnis, tentu Jang perlu menyuap aparat. Biar demikian, tidak menyerupai atasannya, polisi kita, Jung Tae-suk (Kim Mu-yeol), menolak bermain kotor. Tapi ini yaitu film Korea Selatan, sehingga aksara paling higienis pun bukan orang suci. Jung merupakan polisi temperamental yang gemar menentang atasan dan memukuli gangster tatkala dibentuk kesal oleh kemacetan kemudian lintas.

Jung ingin menangkap Jang, namun di samping intervensi atasannya, ia pun sibuk menangani beberapa kasus pembunuhan. Berkaca pada kemiripan modus operandi tiap kejadian (pemakaian pisau, melibatkan ukiran mobil, dan lain-lain), Jung percaya bahwa semuanya dilakukan satu orang, alias pembunuhan berantai. Sayang, tidak satu pun orang mempercayai intuisinya. Sampai di suatu malam, di bawah guyuran hujan, sang iblis (Kang Kyung-ho) menyerang sasaran berikutnnya: Jang Dong-soo.

Jang selamat, namun gosip soal bos gangster yang terluka parah akhir bacokan orang absurd terang melukai reputasinya di dunia hitam. Jang pun berhasrat menghabisi sang pembunuh. Dia mempunyai banyak sumber daya, tapi tidak dengan petunjuk-petunjuk berharga menyerupai DNA atau sidik jari. Sebaliknya, kepolisian mempunyai petunjuk tersebut, tapi kekurangan sumber daya. Itulah pemicu bergabungnya dua kubu.

The Gangster, The Cop, The Devil awalnya bergerak cukup lambat, dan beberapa titik sejatinya bisa dipersingkat guna menguatkan dinamika tanpa harus menghilangkan substansi, tapi kecerdikan naskah yang juga dibentuk oleh sang sutradara bisa meniadakan rasa bosan dengan mengeksplorasi bagaimana ketiga sisi memainkan permainan penuh tipu daya.

Jang memanfaatkan aliansi dengan polisi untuk laba bisnis, sementara si pembunuh pun enggan berdiam diri, memainkan trik guna menghancurkan kedua pengejarnya. Intrik semacam itu memicu konflik-konflik yang tak pernah terasa dipaksakan, karena…well, film ini melibatkan psikopat, gangster licik, dan polisi yang pelan-pelan bersedia mengesampingkan idealisme, sehingga permainan pikiran penuh muslihat kotor tentu tak terhindarkan.

Beberapa konflik menggiring pemeriksaan ke arah baru, beberapa lainnya memicu baku hantam. Pastinya baku hantam khas Korea  yang mengedepankan nuansa “mentah” pertarungan jalanan ketimbang koreografi cantik. Itu asalan saya menyukai agresi buatan sineas Negeri Ginseng. Karakternya cenderung melemparkan pukulan dahulu gres berpikir kemudian (atau tidak sama sekali), membuat sense of urgency layaknya perkelahian di dunia nyata. Gaya tersebut memfasilitasi pesona Ma Dong-seok a.k.a. Don Lee dengan postur intimidatif, bogem mentah yang bisa meremukkan tulang sekali pukul, dan seringai yang akan membuat lawannya diselimuti ketakutan.

The Gangster, The Cop, The Devil mulai menambah kecepatan begitu durasi mendekati satu jam, tatkala pemeriksaan menemukan titik terang, sementara kolaborasi kepolisian dengan gangster mulai terjadi secara langsung. Menarik melihat bagaimana mereka mengawali penyelidikan sebagai dua sisi koin yang saling benci, sebelum perlahan terjalin kedekatan, saling mengembangkan minuman, bahkan menertawakan dagelan masing-masing sambil duduk bersama di satu meja.

Tapi titik balik sebenarnya terjadi selepas satu momen (saya menyebutnya “adegan payung”) yang melambungkan intensitasnya secara gila-gilaan sekaligus menghantarkan substansi premisnya. Dibarengi sentuhan dramatik Don Lee yang kembali bisa menghembuskan hati meski memerakan penjahat brutal, kita melihat sekat pemisah antara gangster dan si pembunuh. Walau melaksanakan tindak kriminal, Jang masih mempunyai hati. The Gangster, The Cop, The Devil bukan dongeng mengenai perjuangan mengalahkan lawan yang lebih kuat, melainkan dua kelompok dengan keburukan masing-masing, yang bergabung untuk melawan pihak lain yang jauh lebih busuk.

Konklusinnya, yang terjadi pasca sebuah kejar-kejaran kendaraan beroda empat menegangkan, membawa filmnya menginjak ranah drama ruang persidangan. Di situ The Gangster, The Cop, The Devil agak memaksakan diri menyatukan begitu banyak kelokan dan kejutan, namun setidaknya, kejutan-kejutan itu memberi kepuasan dikala tiap tokoh menemui selesai yang pantas mereka dapatkan.