October 22, 2020

The Hitman’s Bodyguard (2017)

Dalam The Bodyguard (1992), Kevin Costner memerankan bodyguard yang bertugas melindungi Whitney Houston, seorang diva. Sesosok pahlawan tangguh menjaga bintang ternama yang tak berdaya. Normal. Namun dalam The Hitman’s Bodyguard, Michael Bryce (Ryan Reynolds) harus mengawal Darius Kincaid (Samuel L. Jakcson), salah satu pembunuh bayaran paling berbahaya. Absurditas premis itulah sumber daya tarik karya terbaru Patrick Hughes (The Expendables 3) yang rupanya hingga delapan ahad menjelang pengambilan gambar masih berstatus drama serius. Melihat kelakar Reynolds-Jackson, juga pembawaan over-the-top Hughes, transformasi menuju kekonyolan terang tepat.

Michael Bryce yaitu distributor berstatus triple A yang menyediakan proteksi bagi kriminal kelas kakap. Hingga janjkematian salah satu klien menghancurkan karirnya dan Bryce sekarang hanya bodyguard untuk penjahat kelas teri atau korporat pecandu narkoba, dengan kendaraan beroda empat butut dan botol plastik penyimpan air kencing. Di sisi lain, tengah berlangsung persidangan terhadap diktator keji Belarusia, Vladislav Dukhovich (Gary Oldman) di mana Darius Kincaid jadi saksi kunci. Namun perjalanan membawa Kincaid ke Mahkamah Internasional berlangsung kacau akhir pengkhianatan dalam Interpol, memaksa Agen Roussel (Elodie Yung) meminta pemberian Bryce yang notabene mantan kekasihnya. Masalahnya, Bryce dan Kincaid merupakan musuh turun-temurun yang sudah berulang kali coba saling bunuh.
Konon penulisan ulang naskah buatan Tom O’Connor terjadi pasca Reynolds dan Jackson resmi direkrut. Praktis memahami alasannya. Jackson ibarat kita tahu jago bersumpah serapah (khususnya “motherfucker“) sedangkan Reynolds piawai melontarkan celotehan bernada sinisme yang teruji lewat Deadpool. Naskah dirombak demi memfasilitasi kelebihan keduanya, hasilnya meski beberapa adegan berbasis obrolan berlangsung kepanjangan, chemistry Jackson-Reynolds ditambah keahlian plus ketepatan timing komedi mereka cukup solid menjaga dinamika. Terbentuk love/hate bromance relationship kacau (in a good way) yang mengekspresikan benci dengan saling pukul bahkan tembak, dan cinta dengan membunuh musuh masing-masing. 
Di jajaran pemain drama pendukung, Salma Hayek sebagai Sonia, istri Kincaid, ikut menggila, dengan verbal tidak kalah busuk, mengeskalasi tingkat humor berkat perilaku seenaknya. Baik menggunakan ucapan atau pukulan, semua pihak dibantai habis, dari teman satu sel di penjara hingga Interpol. Elodie Yung tampil dalam tipikal serupa Salma, hanya saja porsinya lebih minim. Agak disayangkan kala Gary Oldman melalui performa megalomania miliknya banyak menghabiskan waktu duduk di ruang sidang, padahal kegilaan menyenangkan yang paling kita kenal dalam abjad Norman Stansfield di Leon: The Professional kembali terpancar. Satu hal pasti, Hayek, Yung, dan Oldman, sebagaimana dua pemain drama utamanya, terlihat bersenang-senang. 

Seolah didorot hasrat yang teredam di The Expendables 3, Hughes meluapkan segala amunisinya, terkait guyonan maupun sekuen aksi. Pondasinya sama, kemunculan di waktu tak terduga. Belum semua berhasil memang. Beberapa momen medioker berseliweran, tapi secara keseluruhan masih efektif menjaga minat menonton berkat keberhasilan menghindari rasa film agresi generik. The Hitman’s Bodyguard pun berujung hiburan yang enggan terbatasi sekat-sekat logika sehat. Kejar-kejaran intens melibatkan mobil, motor, dan speedboat misalnya, menawarkan kapasitas Hughes menciptakan set-piece aksi dinamis tanpa perlu mengeksploitasi ledakan. You won’t find this movie as a memorable piece of action cinema, but its madness definitely worth the ticket price