November 20, 2020

The Hustle (2019)

The Hustle selaku remake dari Dirty Rotten Scoundrels (1988) yang juga hasil remake Bedtime Story (1964) tidak semestinya dibuat. Serupa banyak film daur ulang masa sekarang (Ghostbusters, Ocean’s 8, What Men Want), gender protagonis diubah menjadi perempuan, dengan impian menambah relevansi.Tapi cara The Hustle menangani materi adaptasinya justru bagai menarik pesan women’s empowerment-nya mundur beberapa langkah.

Tonton Dirty Rotten Scoundrels, dan anda akan menyadari kalau filmnya bergerak kolam sajian seksis sebelum twist finalnya tiba membalikkan keadaan. Ditulis naskahnya oleh Jac Schaeffer (Captain Marvel, Black Widow), The Hustle mempertahankan twis tersebut, tapi alasannya perubahan gender karakternya, imbas yang dihasilkan pun berlawanan.  

Pun ini yaitu reka ulang yang malas, khususnya di paruh pertama. Bukan cuma alur, banyak sudut kamera bahkan dialognya sama persis dengan Dirty Rotten Scoundrels. Rasanya ibarat menonton film yang sama, namun bukannya Michael Caine, kita melihat Anne Hathaway memamerkan karisma, sementara pesona penuh warna Steve Martin digantikan kekonyolan Rebel Wilson.

Josephine (Anna Hathaway) dan Penny (Rebel Wilson) sama-sama seorang penipu ulung, hanya saja “berbeda kasta”. Ketika Josephine lebih berkelas dan menjalankan aksinya di kasino mewah, Penny menentukan kafetaria biasa sebagai lahan mencari mangsa. Target mereka selalu sama, yaitu laki-laki. Tanpa disengaja, keduanya bertemu di kereta, sama-sama sedang menuju Beaumont-sur-Mer.

Dari situlah kompetisi bermula, sewaktu Josephine dan Penny tak hanya menipu para korban, pula satu sama lain demi ambisi menguasa teritori. Alhasil, taruhan dilakukan. Siapa yang berhasil merampas uang sebesar $500 ribu dari seorang penemu aplikasi terkenal berjulukan Thomas (Alex Sharp) jadi pemenangnya.

Perbedaan fundamental The Hustle dibanding pendahulunya yaitu soal gaya melucu. Banyolan udik sarat slapstick jadi andalan, yang bergotong-royong cukup efektif memancing tertawa di beberapa bab berkat Anne Hathaway dan Rebel Wilson yang memang andal melakoni kekonyolan. Ditambah lagi, penyutradaraan Chris Addison sama bertenaganya. 

Tapi sekali lagi, tidakkah itu mengkhianati intensi pembuatan remake ini? Pemilihan humornya, ditambah keputusan mempertahankan twist milik Dirty Rotten Scoundrels sebagaimana saya singgung di atas, menciptakan para perempuan film ini sepenuhnya jadi sosok bodoh. Tidak sekalipun saya dibentuk percaya bahwa keduanya merupakan jenius di bidang tipu-menipu.

Jac Schaeffer ibarat kurang memahami sumber adaptasinya, sehingga tiap kali ia melaksanakan perubahan, ketimbang memperoleh penyegaran, filmnya justru memburuk di banyak sekali aspek, entah soal penyampaian pesan, penokohan, atau komedi. Ambil teladan “adegan rolet”.

Pada Dirty Rotten Scoundrels, situasi itu muncul dua kali. Kemunculan pertama berfungsi mengukuhkan modus operandi Lawrence (Michael Caine), di mana ia memasang taruhan di angka yang sama dengan  sang target, kemudian berharap kalah (yang kemungkinan besar akan terjadi) guna menyedot simpati. Alhasil, ketika dalam situasi kedua Lawrence malah terus meraup kemenangan, tercipta kelucuan. Sementara The Hustle hanya mempunyai situasi kedua, berujung melemahkan dampak kejenakaan berbalut ironinya.

Melangkah ke paruh kedua, The Hustle makin berani menerapkan perubahan. Paling kentara dialami Josephine, yang pelan-pelan kehilangan ketenangan dan wibawa. Hal itu dilakukan semoga kelucuan meningkat, meski sayangnya, hasil yang didapat lagi-lagi berlawanan dari keinginan. Buddy comedy macam ini gres akan efektif kalau kedua tokoh utama punya ciri berlawanan, yang artinya, mengakibatkan Josephine huruf konyol serupa Penny, berakibat melemahkan komedinya.

Durasi The Hustle hampir 20 menit lebih pendek ketimbang pendahulunya alasannya Schaffer memangkas banyak momentum, yang alih-alih menambah dinamika filmnya selaku hiburan bertempo cepat, justru terasa kolam simplifikasi konflik, serta wujud ketergesaan penceritaan. Seolah film ini tidak sabar mempresentasikan kejutan besarnya.

Terakhir, perjuangan menghembuskan rasa melalui romansa yang juga bertindak selaku perlawanan terhadap standar kecantikan, turut menemui kegagalan. Rasa yang hendak diciptakan tertutupi oleh kekonyolan. Tapi kalau anda belum menonton Dirty Rotten Scoundrels dan tak ambil pusing wacana alasan eksistensi remake ini, besar kemungkinan, The Hustle adalah tontonan yang cukup untuk berbagi senyum kepuasan.