November 27, 2020

The Irishman (2019)

Goodfellas (1990) dan Casino (1995), menyerupai glamorisasi Martin Scorsese terhadap cecunguk yang ia idolakan sewaktu kecil, walau di akhir, selalu ditunjukkan bagaimana pilihan hidup itu bakal berakhir buruk. Kini, dalam The Irishman, menyentuh usia 77 tahun, Scorsese mungkin telah menemukan closure, menyadari bahwa segala kekuatan dan kekerasan itu tak lagi nampak keren, hanya mengakibatkan penderitaan, kesepian, yang hanya bermuara pada satu poin: kematian.

Itulah kenapa, mengiringi pengenalan banyak abjad film ini, selalu tercantum kapan serta bagaimana mereka meregang nyawa, di mana lebih banyak didominasi (kecuali satu nama), tewas akhir dibunuh. Mengadaptasi buku nonfiksi I Head You Paint Houses karya Charles Brandt yang hingga kini kebenarannya diperdebatkan, kisahnya dipaparkan melalui sudut pandang Frank Sheeran (Robert De Niro), veteran Perang Dunia II, yang pada tahun 1950an, bekerja sebagai sopir truk di Philadelphia.

Satu hal yang seketika mencuri perhatian pada kala tersebut yaitu teknologi de-aging untuk memudakan tampilan fisik De Niro (dan lebih dari satu jam kemudian, Al Pacino). Sempurna? Mungkin belum. Beberapa garis wajah yang terlalu mulus masih nampak jikalau diperhatikan saksama, tapi cukup sebagai delusi semoga penonton percaya tengah melihat laki-laki berumur 30-40an tahun. Satu hal yang sukar disembunyikan yaitu kondisi fisik sang actor. Mustahil De Niro bergestur seolah masih berada di masa jayanya, sehingga sedikit abnormal kala menyaksikan Frank menghajar seorang pemilik toko roti.

Tapi itu sebatas kelemahan minor yang nyaris tak mengganggu perjalanan 209 menit (hampir tiga setengah jam) yang filmnya tawarkan. Dari mengantar ikan bagi cecunguk lokal, reputasi Frank hingga di indera pendengaran Russell Bufalino (Joe Pesci), pemimpin kelompok cecunguk Bufalino. Sebagaimana digambarkan Frank, Russell merupakan “penguasa jalan”. Semua bisnis kotor hingga pembunuhan harus seizing Russell. Frank mulai jadi sosok kepercayaan Russell, menjalankan banyak misi, termasuk “painted houses” dan “carpentry”.

Keduanya yaitu istilah mafia. “painted houses” berarti membunuh (karena ketika menembak target, darah orang itu akan muncrat mirip cat di tembok), sedangkan “carpentry” berarti menyingkirkan badan korban. Beberapa pihak mewaspadai keabsahan istilah-istilah tersebut, namun di situ terletak salah satu daya tarik The Irishman. Ditulis naskahnya oleh Steven Zaillian (Schindler’s List, Gangs of New York, Moneyball), film ini kolam panduan soal dunia mafia. Selain istilah, Frank turut “mengajari” kita soal pemilihan pistol yang tepat. Pastikan pistol itu mengakibatkan bunyi semoga para saksi mata kabur dan kesulitan mengenali wajahmu, tapi jangan terlalu keras atau kendaraan beroda empat patrol bakal menyatroni lokasi. Apakah realitanya demikian? Tidak jadi soal. Terpenting, The Irishman mendapat kadar hiburan tinggi berkatnya.

Seiring waktu, Frank dan Russell semakin akrab, bahkan keluarga masing-masing kerap menghabiskan waktu bersama. Pembicaraan keduanya senantiasa memikat alasannya dua hal: akting dan penyutradaraan. De Niro, yang lebih pasif ketimbang lebih banyak didominasi lawan bicaranya siapa pun itu, bisa menyiratkan kekalutan batin yang makin usang makin kuat, tapi Joe Pesci, yang kembali dari masa pensiun sesudah hampir satu dekade, merupakan MVP-nya. Sosoknya berjalan di garis ambigu antara laki-laki pemurah dan gangster keji, kemudian dengan gampang menarik atensi lewat senyum maupun tatapan mengintimdasi tanpa harus berusaha melakukannya.

Contohnya ketika Russell menemani Angelo Bruno (Harvey Keitel) mengonfrontasi Frank pasca ia meledakkan sebuah kawasan laundry. Pesci hanya duduk diam. Bibirnya menyunggingkan senyum sementara kedua tangannya tersembunyi di balik meja, bagai seorang bocah yang bersemangat menantikan sebungkus hadiah. Apa arti senyum itu? Formalitas? Penenang bagi Frank? Atau ada intensi terselubung? Mana pun itu, saya dibentuk merinding ngeri menyaksikannya.

Terkait penyutradaraan, silahkan perhatikan betul tiap pengadeganan, dan lewat bermacam-macam detailnya, anda akan mendapati betapa mahir seorang Martin Scorsese. Beberapa tampil subtil, contohnya dialog Frank dan Russell di sebuah café. Ditemani iringan biola yang kurang jelas memainkan Speak Softly Love dari The Godfather, ditambah tempo berlangsungnya pembicaraan (penuturan aktor, perpindahan shot), momen itu memunculkan intensitas elegan, mirip musik jazz yang seseorang dengar sesaat sebelum janjkematian menjemput.

Sejak debutnya di Who’s That Knocking at My Door (1967), Scorsese memang sudah memperlihatkan kepekaan dalam mengawinkan media audio dengan visual. Pilihan musiknya berhasil menyempurnakan atmosfer adegan. Kali ini, selain scoring garapan komposer langganannya, Robbie Robertson, lagu dari bermacam-macam genre, khususnya rock ‘n roll dan jazz rutin menemani, dengan In the Still of the Night milik The Five Satins yang terdengar mistis jadi musik yang bakal terus terngiang di benak penonton untuk waktu lama.

Bukan cuma yang bersifat subtil, penyutradaraan Scorsese juga bersinar kala sang sineas mengambarkan bahwa usia sekadar angka, dan tak menghalanginya memamerkan gaya bertenaga. Beberapa kali take panjang diterapkan, di mana penembakan yang Frank lakukan di sebuah restoran bakal membuatmu terkejut, kemudian terpukau. Sementara transisi mulus pagi menuju malam di rumah sakit jelang film berakhir akan memancing pertanyaan wacana trik macam apa yang Scorsese dan timnya pakai.

Scorsese boleh memimpin, namun pencapaian The Irishman takkan terjadi tanpa bantuan timnya. Penyuntingan Thelma Schoonmaker yang telah jadi kolaboratornya semenjak Raging Bull (1980) membantu Scorsese memberikan repetisi dalam keseharian Frank kala sebuah rentetan insiden dimunculkan berulang kali secara beruntun (mengantar daging, membuang pistol, mengambil uang setoran), juga…..humor!

Ya, biarpun mengusung tema kelam nan kejam, The Irishman di luar dugaan cukup menggelitik. Film ini bukan saja Scorsese dalam fase paling matang dan nyaman, juga playful. Bagaimana ia menggambarkan proses “penghantara pesan” antara pelaku dunia hitam (yang melibatkan banyak materi peledak) contohnya.

Semakin jauh filmnya berjalan, semakin saya dibentuk tercengang oleh seberapa kuat efek gangster dalam berjalannya negara adikuasa berjulukan Amerika. Setumpuk abjad tiba dan pergi, tapi Zaillian memastikan penonton sanggup memilah “siapa yaitu siapa” melalui kejelasan serta kesolidan struktur bercerita. Gerbang menuju konspirasi-konspirasi besar dibuka sesudah oleh Russell, Frank diperkenalkan pada Jimmy Hoffa (Al Pacino), ketua serikat buruh International Brotherhood of Teamsters. Jimmy, yang dideskripsikan oleh Frank sebagai “sebesar Elvis”, amat berpengaruh, kekuasaannya ketika itu mungkin hanya di bawah Presiden (atau malah lebih?). Serupa kondisinya bersama Russell, Frank mulai menerima kepercayaan Jimmy, menjadi bodyguard kepercayaannya, bahkan Jimmy menjadi figur ayah yang dirindukan puteri Frank, Peggy (Anna Paquin).

Keluarga merupakan salah satu pokok bahasan utama The Irishman, yang penuturannya kental ironi. Frank ingin melindungi keluarganya, termasuk Peggy, namun semakin jauh ia terlibat dalam dunia bawah tanah—yang ia anggap menambah kekuatan, kekuasaan, dan keamanan—semakin menjauh pula sang puteri. Dari situ awal segala peristiwa The Irishman, yang menolak meromantisasi dan mendramatisasi kematian. Bahkan janjkematian terpenting sepanjang film tak diperlakukan dengan spesial. Itulah poin yang ingin diutarakan Scorsese. Dunia cecunguk hanya membawa kematian, dan janjkematian hanya kematian. Sebuah akhir. Tinggal bagaimana, dan dengan siapa seseorang menantikan final itu tiba.

Available on NETFLIX