November 24, 2020

The Nightshifter (2018)

Melihat pemakaian gambar kusam, musik yang terdengar menyayat, hingga pilihan jenis aksara untuk judulnya, awalnya horor asal Brazil ini terkesan bakal jadi tontonan yang mencerminkan film-film grindhouse masa lalu. Seiring berjalannya waktu, sadisme berdarah memang kerap ditemui, namun The Nightshifter rupanya kental mengandung elemen drama, yang sayangnya tidak ditulis dengan begitu baik sehingga gagal memaksimalkan potensi besarnya.

Potensi tersebut ada pada protagonisnya, Stênio (Daniel de Oliveira), seorang penjaga malam kamar mayit yang sanggup berkomunikasi dengan kadaver. Setiap malam ia pun terlibat obrolan, dan tak jarang, terucap seruan dari mayit yang diurus Stênio. Ada yang ia kabulkan, ibarat ketika korban kerusuhan suporter sepak bola meminta Stênio menghubungi keluarganya, ada pula yang ditolak, contohnya sewaktu anggota sebuah kartel mengharapkan dendamnya dibalaskan.

Ada keputusan teknis dari sutradara Dennison Ramalho (kreator segmen J is for Jesus di ABCs of Death 2) yang membuat saya mengernyitkan dahi. Ketimbang menggunakan wajah aktor, Ramalho justru menggunakan CGI guna mengkreasi verbal mayit kala berbicara. Mungkin ia ingin menangkap ketidaknaturalan dari situasi tersebut, tapi buruknya kualitas CGI malah membuat distraksi sekaligus melucuti kengerian, pun tak jarang menggelikan.

Sempat saya menerka filmnya bakal senada dengan Last Shift (2014) atau The Autopsy of Jane Doe (2016) dalam hal pemakaian satu lokasi, di mana teror berpusat pada kesialan protagonis yang memperoleh kiprah jaga malam. Tapi naskah buatan Ramalho bersama Cláudia Jouvin (Alone Man, O Gorila) ternyata menyimpan skala dongeng lebih luas. Kita diajak menyaksikan kehidupan Stênio di luar pekerjaannya.

Stênio sendiri tampak lebih nyaman berada di kamar mayit ketimbang di rumah. Di kawasan kerjanya, dialog dengan para arwah berlangsung santai, bahkan ia nyaman saja terlelap di antara mayat-mayat. Sedangkan di rumah, ia merasa sang istri, Odete (Fabiula Nascimento), menolak menghargainya. Odete bahkan memandang jijik suaminya. Hingga suatu malam, mayit seseorang yang dikenalnya mengungkap suatu diam-diam mengenai bilik pribadi Stênio, memancing amarahnya, hingga ia nekat menyalahgunakan talenta berkomunikasinya.

Pesan The Nightshifter jelas, sebagaimana banyak horor lain di luar sana, yakni “Jangan bermain-main dengan alam kematian. Satu yang tidak terang yaitu soal detail mitologi, yang berperan penting atas terjadinya teror akhir keputusan ngawur Stênio. Naskahnya meninggalkan beberapa elemen tanpa klarifikasi yang alhasil melahirkan kebingungan alih-alih ambiguitas misteri. Padahal terdapat kesejukan terkait cara film ini mengeksplorasi betapa keji cara iblis (atau hantu?) mempermainkan psikis karakternya. Bukan cuma menampakkan diri, jiwa Stênio dipermainkan begitu mahir melalui bermacam-macam cara mengerikan. Mencapai pertengahan saya mulai bertanya-tanya, “apakah segala teror tadi benar terjadi atau hanya ada di kepala Stênio?”.

Naskahnya pun berserakan dalam mengatur fokus, bagai kebingungan memilih bentuk narasi. Semakin jauh melangkah, The Nightshifter semakin tanpa arah, tapi ini juga bukanlah studi akan hari-hari seorang penjaga kamar mayat—sebuah gaya yang lebih mementingkan observasi daripada progresi alur. Kedua penulisnya ibarat berambisi memperluas cakupan kisah tanpa dibarengi pondasi mumpuni. Dampaknya, durasi membengkak hingga mendekati dua jam (110 menit).

Beruntung, penyutradaraan Dennison Ramalho cukup kompeten melahirkan gugusan momen menghentak. Beberapa jump scare, khususnya sewaktu The Nightshifter merambah sub-genre “rumah berhantu”, memang medioker, namun sisanya efektif memancing kekagetan. Satu momen yang melibatkan lemari pendingin mayit merupakan salah satu highlight. Sementara sentuhan gore (ditambah tata musik berbasis sayatan senar, adegan “perangkap benang pancing” yaitu kreativitas yang menyakitkan) akan membuatmu terus terjaga, walau The Nightshifter membuang banyak potensinya.