November 27, 2020

The Peanut Butter Falcon (2019)

Dua individu saling mengisi guna menyembuhkan luka batin masing-masing. Terdengar familiar? Faktanya tema serupa memang telah digunakan berulang kali, jumlahnya tak terhitung lagi. Tapi The Peanut Butter Falcon, selaku debut film panjang duet sutradara sekaligus penulis naskah Tyler Nilson dan Michael Schwartz, menerangkan kisah lama tersebut belum, atau bahkan takkan usang, dalam sebuah perjalanan intim yang mendekap hangat hati penontonnya.

Zak (Zack Gottsagen) yakni pengidap down syndrome berusia 22 tahun yang terpaksa tinggal di panti jompo tanggapan ditinggalkan oleh keluarganya. Di sana, Zak selalu melaksanakan dua hal: menonton rekaman agresi pegulat idolanya, Salt Water Redneck (Thomas Haden Church), dan berusaha melarikan diri. Sang penjaga, Eleanor (Dakota Johnson) pun dibentuk pusing karenanya. Sampai suatu malam, dibantu teman sekamarnya, Carl (Bruce Dern), Zak kabur. Tujuannya satu: menemui Salt Water Redneck untuk meminta diajari bergulat.

Zak bertemu Tyler (Shia LaBeouf), nelayan yang selepas simpulan hidup kakaknya, Mark (Jon Bernthnal), kerap menyulut masalah. Tidak terima disalahkan sehabis mencuri kepiting di umpan milik Duncan (John Hawkes), Tyler diburu pasca aben peralatan menangkap ikan seharga $12 ribu. Sama-sama berstatus buron, Zak dan Tyler berjalan bersama demi mencari Salt Water Redneck. Perlahan, ikatan persaudaraan di antara mereka pun tumbuh.

Mengambil beberapa elemen kisah dari huruf Huckleberry Finn ditambah pengalaman personal Zack Gottsagen yang bermimpi tampil sebagai pemain film di layar lebar, Nilson dan Schwartz mengisi naskahnya dengan hati, juga kreativitas. Hanya bermodal $6 juta, keduanya mesti memutar otak bagaimana merangkai petualangan unik nan menarik. Hasilnya, timbul ide-ide kreatif berupa rangkaian insiden quirky khas drama-komedi indie yang menyeimbangkan bobot hiburan dengan drama.

Tidak nihil tujuan, alasannya yakni tiap insiden berkontribusi menguatkan hubungan Zak dan Tyler sedikit demi sedikit. Mungkin kehangatan urung terjalin bila dua pemeran utama tampil tak sebaik ini. Natural dan impulsif dalam berinteraksi, begitulah Gottsagen dan Shia LaBeouf di sini. Memerankan versi alternatif dirinya, Gottsagen memperlihatkan kalau menentukan pemain film dengan down syndrome untuk memerankan huruf down syndrome bisa menguatkan realisme. Kesan serupa dimunculkan LaBeouf lewat performa raw, baik kala menghidupkan sisi Tyler yang terluka, maupun Tyler yang sarat perhatian melalui caranya sendiri.

Serupa huruf peranan masing-masing, kedua pemain film saling mengisi, menjalin hubungan hangat semoga penonton merasa terundang turut serta dalam petualangan mereka. Dibarengi alunan scoring bernuansa country—yang efektif menggambarkan kejujuran ungkapan rasa lewat alunan nada penuh jiwa—The Peanut Butter Falcon bak membawa saya menuju perjalanan hening nan hangat. Rasanya menyerupai berada di rumah bersama orang-orang terkasih.

Pun filmnya cermat menentukan timing kapan mesti melibatkan Eleanor secara signifikan. Tatkala alur mulai melangkah jauh dan risiko amunisi menipis mulai tercium, kehadiran Dakota Johnson kembali memperkaya dinamika. Demikian pula dikala nama-nama macam Bruce Dern, John Hawkes, hingga Thomas Haden Church melaksanakan kemunculan kecil berdampak besar. Nilson dan Schwartz tahu, kapan filmnya butuh suntikkan nyawa baru.

The Peanut Butter Falcon juga punya pencapaian spesial, yang sekilas mudah, padahal merupakan kasus rumit, yakni melahirkan tawa melalui huruf pengidap down syndrome. Tanpa kepekaan, humornya berpotensi mengandung stereotip ofensif. Beruntung, The Peanut Butter Falcon adalah tontonan yang suportif.