November 20, 2020

The Pool (2018)

Sewaktu menciptakan thriller, jangan biarkan kebodohan protagonis jadi penyebab permasalahan yang mesti dihadapi, atau setidaknya, jangan ungkap itu semenjak awal. Simpan di paruh selesai sebagai kejutan menohok sehabis penonton menghabiskan cukup waktu bersama si karakter. Karena akan sulit menciptakan penonton bersimpati pada seseorang yang (tanpa bermaksud demikian) mengundang ancaman menghampiri dirinya. Itu yang menimpa The Pool karya sutradara/penulis naskah Ping Lumpraploeng (Khon hew hua, Dreamaholic).

Premis The Pool adalah, “Apa kesudahannya kalau seseorang terjebak di kolam renang?”. Terdengar konyol, tapi  di situ daya tariknya, alasannya yakni situasi tersebut tidak terpikirkan, sehingga berpotensi menghadirkan angin segar dalam sub-genre thriller berlokasi tunggal. Tapi bagaimana situasi itu sanggup terjadi? Day (Theeradej Wongpuapan) yakni anggota tim artistik dalam sebuah pengambilan gambar iklan di kolam renang yang tidak terpakai. Setelah acara usai, Day bermalas-masalan di tengah kolam dengan kedalaman enam meter itu, walau telah mendengar peringatan temannya soal kolam yang mulai dikeringkan. Itu kebodohan nomor satu. Semua ini takkan terjadi andai ia bersikap menyerupai insan normal.

Beberapa dikala berselang, kolam mulai mengering sehingga tak memungkinkan bagi Day untuk memanjat keluar. Selain Day, cuma ada anjingnya yang dirantai sehingga tak bisa bergerak bebas. Berikutnya, kemalangan-kemalangan lain yang membatasi opsi serta meningkatkan kadar ancaman terus menyusul, namun sekali lagi, kebanyakan tidak bakal terjadi kalau Day menggunakan logikanya. “Bukankah dalam kondisi panik memang sulit berpikir jernih?”. Betul, tapi ketika elemen penting yang melatari konflik semuanya diakibatkan kebodohan, itu bukan bentuk pendekatan realistis, melainkan keterbatasan kreativitas penulis naskahnya.

Seolah belum cukup parah, Koi (Ratnamon Ratchiratham), kekasih Day, turut terjebak di kolam renang sehabis ia terjun dari papan lompatan, biarpun terperinci terlihat bahwa air telah mengering. Itu yakni kebodohan nomor…..sorry, I lost count. Situasi makin jelek pasca kehadiran seekor buaya yang siap memangsa kapan saja. The Pool menggabungkan (sedikit) buaya orisinil dengan CGI, yang tampak apik dalam gelap dan air tapi terlihat berangasan di bawah cahaya matahari. Kekurangan itu bisa dimaafkan. Jika ingin menyaksikan CGI buaya yang lebih baik, silahkan tunggu Crawl karya Alexandre Aja.

Tidak ada jalan keluar bagi Day dan Koi, mereka tidak punya stok masakan (kecuali beberapa potong pizza sisa) maupun minuman, terjebak bersama buaya, dipayungi panas matahari menyengat, dan Day semakin lemah akhir tak mendapatkan suntikan insulin selama berhari-hari.  Bergulir selama 91 menit (durasi yang tepat), The Pool sejatinya tampil padat, pula cekatan berkat pengadeganan dinamis sang sutradara. Selalu ada tantangan yang harus karakternya lalui tiap beberapa menit, biarpun intensitas tak pernah sepenuhnya meroket, alasannya yakni kita tahu, sebelum saat-saat terakhir segala peluang bakal berujung sebagai keinginan palsu semata.

Sebagaimana film-film sejenis, momen-momen menyakitkan (kepala terbentur, luka sayata, kuku terkelupas, dan lain sebagainya) pun bisa ditemukan demi menantang fisik karakternya. Theeradej dan Ratnamon solid melakoni tugas dua individu yang tersiksa baik fisik maupun psikis. Pujian khusus patut disematkan kepada Theeradej, alasannya yakni sang pemain film bisa berinteraksi secara meyakinkan dengan makhluk CGI.

The Pool menyimpan potensi tinggi menjadi thriller mendebarkan, sayang, kebodohannya terlampau tinggi untuk bisa ditoleransi. Pada pertengahan durasi, kedua protagonis menemukan ruangan dalam saluran di bawah kolam. Day pergi mencari jalan keluar, sedangkan Koi bersembunyi di sana, kemudian menutup rapat susukan masuk (selain kisi-kisi di atap ruangan). Tidakkah mereka sadar andai hujan tiba mengguyur ruangan bakal terbenam air? Sepertinya memang susah bersimpati pada huruf sewaktu duduk kasus dipicu kebodohan mereka sendiri.