October 19, 2020

The Underdogs (2017)

The Underdogs adalah film perihal ambisi para remaja meraih kesuksesan sebagai Youtubers sekaligus menampilkan Young Lex. Sederhananya, film ini praktis dibenci bahkan oleh mereka yang tidak atau belum menonton. Walau tidak seluruhnya, saya langsung terkadang menyimpan sentimen negatif terhadap obsesi generasi masa sekarang mengejar popularitas melalui akses yang katanya lebih dari televisi ini. Dangkal. Begitu pikir saya. Sampai The Underdogs datang, menyadarkan justru keengganan saya (atau mungkin kita) memeriksa dari perspektif lain lah yang dangkal. 

Empat sekawan, Ellie (Sheryl Sheinafia), Dio (Brandon Salim), Bobi (Jeff Smith), dan Nanoy (Babe Cabita) merupakan korban bullying, dianggap pecundang di sekolah. Kondisi itu bertahan hingga lulus. Keinginan memperbaiki nasib terjawab pasca melihat kesuksesan S.O.L: Sandro X (Ernest Prakasa), Oscar (Young Lex), dan Lola (Han Yoo Ra), trio Youtubers yang sukses berkat video rap mereka. Terinspirasi, keempat protagonis kita mengikuti jalur serupa, membentuk channel rap menggunakan nama The Underdogs sambil berharap mengubah nasib di tengah bermacam-macam deraan kasus langsung termasuk keluarga.
Naskah garapan Alitt Susanto bersama Bene Dion Rajagukguk memegang kunci. Saya (atau lagi-lagi, mungkin kita) terbiasa menganggap jajaran Youtubers terdiri atas sosok-sosok haus atensi berotak dangkal yang angkuh pasca keberhasilan direnggut. Naskah The Underground menjelaskan betapa banyak dorongan lain. Ellie dengan pertengkaran sehari-hari orang tuanya, Bobi yang dipaksa melanjutkan pabrik tahu sang ayah atau Dio yang selalu diragukan ibunya akhir belum dianggap dewasa. Motivasi tersebut bukan saja simpatik, juga relatable. Poinnya, bisa jadi di luar sana, ada Youtubers berangkat dari alasan serupa yang terlanjur menghadapi hujatan akhir publik ogah lebih mencari tahu. 

Alurnya bergerak tak hanya rapi, pun ikut mendukung keterikatan akan karakter. Contohnya waktu Bobi menyulut perpecahan begitu The Underdogs mencapai ketenaran. Enggan berlarut-larut, sutradara Adink Liwutang secara cepat nan sempurna seketika menggiring penonton menuju pemahaman perihal duduk masalah langsung Bobi, menghalangi kesempatan penonton kesal kepadanya. Walau cukup disayangkan, perjalanan ke arah resolusi mengenai konflik keluarga agak terburu-buru sekaligus menggampangkan, seolah tanpa proses. Pengorbanan yang dilakukan demi memfasilitasi penyelesaian kasus lain, sebutlah persahabatan. Lalu pada konteks lebih luas terkait kultur internet, The Underdogs turut memberikan bagaimana media umum sanggup luar biasa bermanfaat andai dimanfaatkan tepat.
Komedinya memang bukan berisi humor yang bisa menancap di benak penonton usang seusai film berakhir, tetapi berhasil tampil konsisten. Meski hadir beruntun, gelontoran lelucon The Underdogs rutin memancing tawa atau setidaknya senyum lebar. Parodi merk atau aktivitas di sana-sini hingga nasib jelek tanpa ujung yang menimpa Babe Cabita (sekali lagi ia hebat memerankan penderita kesialan akut) lebih dari cukup menjalin hiburan. Pun mencuri perhatian yakni Sheryl Sheinafia lewat banyak pembawaan deadpan hingga Dodit Mulyanto yang hobi dirapikan rambutnya sembari sesekali berkata “asu kowe“. Young Lex? Well, he’s just chilling out here and there.

Mengangkat kisah Youtubers yang menentukan jalur video rap, sudah barang tentu The Underdogs diisi sederet nomor yang cukup menghibur telinga, khususnya lagu berlirik jenaka milik The Underdogs. Adink Liwutang tidak ketinggalan memasukkan visualisasi selaku (ceritanya) video klip lagu-lagu tersebut, mengakibatkan filmnya paket lengkap mengenai Youtube. Walau masih dibarengi kekurangan-kekurangan, The Underdogs di luar dugaan lebih dari menghibur, juga sanggup memancing supaya bersedia menyikapi fenomena Youtubers dari sudut pandang lain yang pastinya lebih positif.

Review The Underdogs dapat dibaca juga di tautan ini