November 24, 2020

The Vanishing (2018)

Didasari kisah konkret menghilangnya tiga penjaga mercusuar Pulau Flannan, walau bisa menyebarkan tuturan drama psikologis secara layak, The Vanishing (punya judul awal Keepers) gagal mencapai potensinya akhir menentukan pendekatan sederhana cenderung klise terhadap kisah mengenai keserakahan, ketakutan, dan rasa bersalah, yang mendorong karakternya ke dalam jurang ketidakwarasan.

Perlu saya peringatkan, jangan mengharapkan thriller menegangkan beroktan tinggi, lantaran The Vanishing yaitu lantunan dongeng lambat, khususnnya sebelum konflik utama menerjang. Kita diperkenalkan pada tiga protagonis: Thomas (Peter Mullan) yang berpengalaman 25 tahun menjaga mercusuar dan gres kehilangan sang istri; James (Gerard Butler) si laki-laki berpengaruh dengan keluarga bahagia; dan Donald (Connor Swindells) si pekerja baru. Mereka harus menghabiskan enam ahad tinggal di Pulau Flannan yang terpencil.

The Vanishing terlebih dahulu memaparkan keseharian di Flannan, yang menariknya sanggup dijadikan satu film tersendiri dengan sentuhan thriller unik, tatkala acara mereka dipenuhi pekerjaan berbahaya menyerupai memperbaiki lampu mercusuar, atau pemandangan tak masuk akal ketika di suatu pagi puluhan bangkai burung camar bertebaran di luar mercusuar. Hal-hal tersebut merupakan keputusan cermat dari dua penulis naskah, Celyn Jones (Set Fire to the Stars) dan Joe Bone, untuk menjaga filmnya tetap berada di koridor thriller sebelum hidangan utama disajikan.

Sekali waktu kita akan melihat interaksi kasual ketiga tokoh utama, menawarkan bahwa kehidupan terisolasi tak menghalangi pria-pria ini tertawa dan berbuat hal-hal konyol untuk mengisi waktu. Tapi bagi filmnya itu bukan sekadar pengisi waktu, melainkan aspek penting guna memandingkan kondisi mental mereka, sebelum dan setelah “peristiwa”.

Segalanya bermula kala Donald menemukan sesosok laki-laki terbaring di jurang. Di sebelahnya tergeletak sebuah peti, yang kela terungkap berisi emas batangan. James dan Donald ingin membaginya rata, namun Thomas khawatir jikalau muncul orang lain mencari emas tersebut. Firasat Thomas terbukti, walau ada satu hal yang ia tidak prediksi. Betapa ancaman paling berbahaya justru bukan tiba dari pihak luar, melainkan dalam: Gejolak psikis mereka bertiga.

Seperti telah disebutkan, The Vanishing cukup baik membangun drama psikologis. Tersemat alasan berpengaruh di balik keruntuhan pondasi mental karakternya. Tapi mempertimbangkan misteri legendaris yang mengelilingi sumber inspirasinya, film ini telah menentukan jalur miskin kreativitas, yang melucuti keseruan proses mencari jawaban. Begitu The Vanishing mengungkap perspektifnya, saya kehilangan ketertarikan, terlebih setelah bersabar mengarungi tempo lambat dengan hanya segelintir momen apik, yang secara umum dikuasai bersumber dari jajaran pemainnya.

Ketiga bintang film menampilkan proses degradasi mental secara meyakinkan, tapi Butler paling menyenangkan disimak. Ketika tampilan fisik luarnya kokoh menyerupai biasa, Butler menghembuskan kerapuhan psikis dalam diri James. Begitu ia seutuhnya “terjatuh”, mata tajam itu berubah kosong, sedangkan jenggot lebat yang tadinya diasosiasikan dengan kejantanan menjadi simbol kekacauan hati seorang manusia.

Melakoni debut layar lebar, penyutradaraan Kristoffer Nyholm sejatinya tidak buruk. Sewaktu tiga penjaga mercusuar kita pertama kali bertatap muka dengan para tamu tak diundang, Nyholm bisa membuat dialog intens lewat pemanfaatan close-up serta permainan tempo. Demikian pula sinematografi instruksi Jørgen Johansson (Flame & Citron, Terribly Happy, Prague) yang memberi kita nuansa atmosferik ketika kedua belah pihak, pasca menyadari intensi masing-masing, saling mengawasi dari kejauhan di antara kesunyian malam yang mulai menjelang. Sayangnya, lagi-lagi momen-momen memikat di atas cuma muncul sesekali.