October 22, 2020

The Wall (2017)

Umumnya pada film berlokasi tunggal, protagonis berada di suatu ruangan tertutup sebab bermacam-macam alasan. Kesan klaustrofobik kerap jadi senjata utama memancing ketegangan. The Wall karya sutradara Doug Liman (The Bourne Identity, Mr. & Mrs. Smith, Edge of Tomorrow) yang berasal dari salah satu naskah dalam Black List (daftar naskah belum diproduksi paling menarik) tahun 2014 goresan pena Dwain Worrell mengangkat situasi bertolak belakang. Ketimbang kungkungan ruang tertutup, gurun lapang nan gersang di Irak jadi daerah dengan sebuah tembok ringkih bekas sekolah sebagai pemisah hidup-mati karakternya. 

Di tengah Perang Irak, Sersan Allen Isaac (Aaron Taylor-Johnson) dan Sersan Kepala Shane Matthews (John Cena) sedang menginvestigasi lokasi konstruksi pipa daerah terjadi pembantaian kepada para pekerja dan petugas keamanan. Setelah 22 jam nihil peristiwa, mereka menyatakan situasi kondusif dan pelaku telah pergi. Namun tatkala Matthews hendak mengambil radio milik salah satu korban, peluru penembak misterius mengenainya. Usaha Isaac menyelamatkan sang rekan justru turut tertembak, bahkan radio dan botol minuman miliknya ikut hancur. Bersembunyi di balik tembok, Isaac menyadari lawannya ialah Juba (disuarakan Laith Nakli), penembak jitu yang telah membawa janjkematian bagi 35 prajurit Amerika.

Menjaga intensitas merupakan tantangan terbesar bagi film satu lokasi. Kesan monoton rawan timbul, apalagi kala amunisi lain berupa tokoh tak seberapa jumlahnya. Dengan Matthews menghabiskan lebih banyak didominasi waktu terbaring sekarat dan Juba hanya kita dengar suaranya, mudah beban ada di bahu Isaac. Sang aktor, Aaron Taylor-Johnson tampil kuat mengekspresikan keputusasaan, mati-matian berjuang menahan sakit sambil memutar otak mencari cara lepas dari “kurungan”. Pasca first act ala kadarnya yang sekedar berfungsi menggiring tokoh utama menuju jebakan, babak kedua The Wall diisi dialog Isaac dengan Juba sembari sesekali menampilkan Isaac yang berusaha mengatur strategi.

Worrell mendeskripsikan naskahnya sebagai “perbincangan sederhana yang mungkin terjadi di dingklik taman New York antara dua orang yang sedang bermain catur”. Worrell menggunakan pembicaraan dua tokohnya guna membangun sisi psikologis, juga menyindir pihak Amerika Serikat selaku penjajah di Irak. Poin kedua cukup berhasil. Kita dibawa melihat apapun rencana Isaac, Juba selalu selangkah di depan, bahkan menyiapkan beberapa kejutan yang selain menciptakan penonton tersentak, pula menguatkan aura frustasi di usaha Isaac. Pun sang penembak jitu yang selalu dipanggil “haji” (sebutan tentara Amerika untuk orang Irak atau Afganistan) ini paham nilai estetika (menyebut istilah militer puitis), gemar membaca bait puisi Edgar Allan Poe kala Isaac hanya tahu nama Shakespeare (yang kemungkinan besar tak ia kenal karyanya). Inilah pemandangan ketika penjajah dibodohi yang dijajah, dan pihak superior terlihat kerdil kecerdasannya di hadapan “teroris” yang dianggap barbar.

Lain halnya soal aspek psikis. Kalimat goresan pena Worrell terlampau dangkal guna merangkai permainan pikiran memikat. Belum lagi dialog bernada kasualnya urung menambah lapisan selain citra betapa Juba ialah sosok berdarah cuek yang sanggup santai bertutur di medan perang. Namun kelemahan paling besar terletak pada kegagalan melibatkan penonton dalam tiap kalkulasi yang Isaac lakukan, misal sewaktu melaksanakan perhitungan demi mencari tahu letak persembunyian Juba. Worrell lalai menjabarkan alasan, maksud, pula target bermacam aktivitas tersebut. Padahal penting bagi penonton memahami seluk beluknya semoga alih-alih muncul sambil lalu, menyulut ketegangan, bahkan jika sanggup simpati bagi karakter. 

Pamor Doug Liman sebagai sutradara kelas wahid urusan spectacle besar nan seru tidak usah diragukan lagi, tapi menyerupai Isaac, ia belum sepenuhnya piawai memaksimalkan kesederhanaan. Ketegangan berhasil timbul sesekali sewaktu menerima proteksi berbentuk kejutan dari naskah atau dalam momen “masif” ketika peluru ramai berdesing. Itulah mengapa ending-nya sukses mencekat selain didorong hadirnya kejutan “kejam” yang sebetulnya gampang ditebak. Namun Liman bagai minim logika menyiasati keterbatasan. Selain meniadakan iringan musik demi membangun kesan raw dan realistis yang mana tak seberapa berpengaruh, pilihan shot-nya standar, tak sanggup memberi intensitas di lokasi tunggal. Setidaknya penceritaan Liman mengalir dengan rapi sehingga nyaman diikuti.