October 20, 2020

Their Finest (2016)

Mungkin beberapa dari anda ingat sedikit perdebatan pada ulasan untuk Dunkirk-nya Nolan. Apabila perspektif saya susah diterima atau dimengerti, simak Their Finest. Bukan demi membandingkan kedua film (dua wujud yang sama sekali berbeda), melainkan soal bagaimana mengangkat potensi inti suatu kejadian penting sebagai karya sinematik yang relevan bagi masanya. Melalui proses Catrin Cole (Gemma Arterton) menulis naskah berbasis kisah konkret usaha dua saudari mengarungi samudera demi menyelamatkan para pasukan di Dunkirk, kita diajak memahami bahwa otentitas bukan berarti membatasi emosi pun melucuti optimisme. 

Di tengah Perang Dunia II, kementrian informasi divisi film Inggris berencana menciptakan film yang mencerminkan kenyataan tanpa mengesampingkan optimisme. Tujuannya yakni membangkitkan nasionalisme didasari harapan. Atas rekomendasi Tom Buckley (Sam Claflin), Catrin bergabung bersamanya di tim penulis naskah dengan kiprah mewakili bunyi perempuan pada kisah penyelamatan Dunkirk. Di samping pekerjaan itu, Catrin turut menghadapi duduk perkara berwujud Ellis (Jack Huston), sang suami yang dihantam kegagalan sebagai pelukis pasca tak lagi terjun ke medan perang akhir cedera kala Perang Sipil Spanyol. 
Diangkat dari novel Their Finest Hour and a Half karya novelis wanita, Lissa Evans oleh Gaby Chappe, penulis naskah yang juga seorang wanita, tidak heran ukiran toxic masculinity melawan feminisme kental terasa. Begitu istrinya memperoleh pendapatan lewat menulis naskah sedang Ellis belum mendapatkan pameran, ia menyarankan Catrin pulang ke Wales biar kondusif dari serangan bom. Tapi jelas, alasan bersama-sama yakni enggan mendapatkan kenyataan “kalah” secara ekonomi dari Catrin. Bukan cuma Catrin, banyak tokoh perempuan Their Finest digambarkan punya kekuatan masing-masing, kerap tiba menyelamatkan situasi ketika para laki-laki tidak ada, tidak mampu, maupun menjadi pihak yang butuh diselamatkan, sebutlah Ambrose Hilliard (Bill Nighy), pemeran senior keras kepala yang mulai redup masa jayanya. 

Di samping feminisme, Their Finest merupakan surat cinta bagi medium film. Penonton disuguhi sihir sinema, mulai di fase penulisan naskah ketika Catrin, Tom, dan Raymond (Paul Ritter) terlibat diskusi panas menyusun cerita, hingga tahap produksi yang memamerkan trik usang guna memanipulasi kemunculan ratusan ribu prajurit di Dunkirk. Dua contoh adegan ini menggambarkan keajaiban transfer inspirasi ke karya tulis, kemudian menghidupkannya di gambar bergerak. Sutradara Lone Scherfig (An Education, One Day) konkret menyimpan kecintaan berpengaruh terhadap film, terlihat dari pengadeganan yang bagai curahan rasa ketimbang semata visualisasi kalimat di atas kertas. Sedangkan kalimat di atas kertas berjulukan naskah digambarkan selaku testamen personal, susunan bermacam-macam memori yang disatukan sedemikian indah.
Film yakni banyak bentuk: hiburan, cermin realita, pengantar pesan, dan lain-lain. Scherfig dan Chappe membawa Their Finest sebagai, dan berisi mengenai film dalam wujud tertinggi, yaitu adonan segala bentuk tadi. Sebuah olahan emosi (bahagia, sedih) yang mempunyai nilai hiburan, memunculkan kekaguman penonton kala menyaksikan imaji yang mengalahkan kemustahilan di layar, sembari tetap berpijak pada realita penjaga relevansi. Terangkum dalam ucapan Tom bahwa “films are like life with the boring bits cut out”. Esensi awal film sebagai daerah kreasi tanpa batas menyatu bersama emosi jadi teladan filmnya, yang turut dituangkan Rachel Portman lewat kemegahan orkestra gubahannya.

Satu-satunya lubang Their Finest terjadi ketika sebuah kejadian menyentak jelang selesai yang terkesan memaksakan dramatisasi. Toh dampak emosinya kuat, tersalurkan berkat sensitivitas, baik dalam pengarahan Scherfig maupun penampilan jajaran pemain. Tatkala Bill Nighy yakni tipikal “grumpy old man” yang kadang menggelitik namun senantiasa mencengkeram sewaktu menangani momen drama secara lembut tapi menusuk, Gemma Arterton masih aktivis utama. Mata, tutur kata, hingga bahasa tubuhnya mengajarkan poin penting terkait menawarkan kekuatan dan melancarkan protes yang tak melulu bersinonim dengan hujatan keras, di mana ketepatan, kecerdasan, dan kecerdikan bersikap merupakan bukti tak terbantahkan. Aliran air matanya menjelang epilog bakal menyulitkan penonton membendung haru.