November 22, 2020

Titus: Mystery Of The Enygma (2020)

Konon Titus: Mystery of The Enygma juga dipersiapkan untuk pasar internasional. Tapi ketimbang karya lokal yang akan diekspor, film ini malah terasa kolam produk impor. Bukan. Bukan alasannya kualitasnya setara animasi Hollywood. Kesan tersebut ditimbulkan oleh kecanggungan alih Bahasa dialognya, serta elemen-elemen lain (nama karakter, lokasi, latar kultural, dll.) yang terkesan “sangat Barat”. Kenyataannya, naskah film ini, yang dibentuk menurut kisah dari Liliana Tanoesoedibjo, memang ditulis oleh Doug Sinclair yang selama ini eksis di skena animasi layar lebar dan televisi Kanada.

Apakah itu kekurangan besar? Sejujurnya cukup mengganggu. Aneh rasanya mendapati seluruh tulisannya dalam Bahasa Inggris tatkala dialognya 100% menggunakan Bahasa Indonesia. Dialog pun jadi terdengar kaku akhir asal diterjemahkan, tanpa memperhatikan adanya perbedaan dalam struktur kalimat kedua Bahasa. Contohnya pernyataan “Kota di mana yang udaranya bersih”, terperinci merupakan terjemahan mentah dari “A city where the air is clean”. Risiko lebih besarnya adalah, Titus: Mystery of The Enygma diperuntukkan bagi anak kecil.

Jangankan bocah, penonton sampaumur pun akan sering kesulitan mengolah kalimat-kalimatnya. Belum lagi kentalnya budaya Barat (bahkan latarnya merupakan kota industrial berjulukan Steamburg) mungkin bakal membuat jarak. Tapi di luar permasalahan alih bahasa serta budaya itu, ditinjau dari statusnya sebagai murni film anak, Titus: Mystery of The Enygma memang intinya merupakan produk mixed bag.

Narasi pembukanya pribadi memberondong kita dengan kalimat-kalimat eksposisi soal bagaimana kota Steanburg diselimuti polusi akhir bisnis licik Bulpan (Robby Purba) si berandal kota sampai legenda soal mesin penghasil energi murni berjulukan Enygma. Apakah belum dewasa bisa memahami paparan sebanyak itu yang dipadatkan secara paksa? Rasanya tidak. Apakah mereka memedulikan voice over yang terdengar buru-buru seolah ada ketidaksinkronan antara pembuatan animasi dengan proses pengisian suara? Sepertinya tidak juga.

Karena mereka niscaya terhibur oleh formasi abjad bertubuh binatang yang berperilaku layaknya insan yang mempunyai desain cukup menarik. Titus (Arbani Yasiz) si tikus detektif dengan segala kecerdikannya tentu gampang disukai selaku protagonis. Begitu pula beberapa abjad sampingan menyerupai Fyra (Ranty Maria) si pilot sekaligus mekanik bertubuh kadal dan Bobit (Lukman Sardi) si kelinci pesulap yang berulang kali bisa mengeluarkan Titus dan kawan-kawan dari ancaman menggunakan alat-alat magisnya. Bersama-sama, mereka harus menilik kebenaran di balik Enygma guna memperbaiki kondisi Steamburg.

Animasinya pun solid. Setidaknya di tengah kelangkaan produk animasi layar lebar, Titus: Mystery of The Enygma masuk kategori layak tayang, biarpun jikalau membahas wacana pemaksimalan potensi, tidak semua pengadeganan Dineshkumar Subashchandra, yang kentara mempunyai visi terkait melahirkan petualangan seru di dunia imajinatif. Tapi kembali, bagi anak-anak, saya yakin film ini menyimpan cukup amunisi adegan aksi, ditambah alur dengan pernak-pernik misteri ringan yang efektif menjaga atensi mereka.

Apabila anda ingin mengajak adik, anak, atau keponakan menyaksikan film ini, bersiaplah menghadapi lubang-lubang penceritaan menyerupai inkonsistensi tindakan abjad dan naskah yang kelabakan menangani kerumitannya sendiri, sehingga meninggalkan ketidakjelasan seputar “siapa” dan “kenapa”. Mungkin kekesalan bahkan kebosanan bakal sesekali mengisi, namun paling tidak itu bisa sedikit terobati kala belum dewasa yang anda ajak, tertawa atau mencicipi ketegangan ketika tokoh-tokohnya terancam bahaya. Tontonan medioker bagi kita ini mungkin saja cinematic experience yang lengkap untuk mereka. Walau sejatinya, memungkinkan untuk memuaskan kedua belah pihak.