October 27, 2020

Tomb Raider (2018)

Jika Angelina Jolie membuka aksinya sebagai Lara Croft 17 tahun kemudian dengan mengalahkan robot-robot canggih sebagai sajian latihan, Alicia Vikander justru babak belur dihajar lawannya dalam latih tanding mixed martial arts. Lara bukan—tepatnya belum menjadi—“puteri” tangguh yang menembaki lawan-lawannya sambil mengenakan mantel bulu glamor. Ini terjadi jauh sebelumnya, ketika Lara hanya seorang kurir, dan satu-satunya barang yang ia jarah ialah apel kepunyaan si pemilik daerah latihan. Tapi terdapat satu plot device yang bertahan, yakni sedih serta kerinduannya terhadap sang ayah, yang (lagi-lagi) mengganggu ambisi sebuah organisasi “bawah tanah” berskala global.

Walau amat membutuhkan uang, Lara menolak menandatangani surat wasiat yang akan memberinya seluruh harta sekaligus perusahaan ayahnya, Richard Croft (Dominic West), alasannya ialah itu berarti ia mengakui ayahnya telah tiada. Menghilangnya Richard 7 tahun kemudian menyisakan misteri. Misteri yang perlahan mulai Lara pecahkan ketika ia mendapati sang ayah meninggalkan beberapa petunjuk mengenai proyek rahasianya: mencari makam Himiko, Ratu dari legenda Yamatai yang konon sanggup menebar maut hanya melalui sentuhan. Alih-alih menuruti perintah Richard untuk mengkremasi seluruh arsipnya, Lara, dibantu Lu Ren (Daniel Wu), nekat menyeberangi bahari iblis guna melaksanakan pencarian.
Di sini Lara telah tumbuh sebagai gadis cerdas, berani, juga kuat. Namun kepercayaan dan kematangannya belum terbentuk. Hampir di semua kesempatan, ia selalu berlari. Entah dalam taruhan bersama teman-teman kurirnya, kala bertemu jambret di pelabuhan, atau dikala lari dari kejaran Trinity yang dipimpin Mathias Vogel (Walton Goggins), laki-laki yang membunuh Richard. Di tengah hutan dengan bermacam-macam rintangan, Lara mulai tertempa. Deretan agresi Tomb Raider sejatinya merupakan proses guna membentuk Lara menjadi pahlawan yang kita kenal baik. Lara yang tegak berdiri, siap melawan, tak lagi kabur dari halangan yang membentang.

Hasilnya dibanding dua film terdahulu, reboot ini tampil lebih kelam, gritty, condong ke ranah survival movie ketimbang petualangan menyenangkan. Pilihan yang memberi Vikander jalan memamerkan aktingnya menampilkan kerapuhan seorang Lara Croft. Dia tidak lemah, hanya belum berpengalaman, kerap dikuasai rasa takut, mengingat kejadian ini merupakan kali pertama nyawanya terancam dan mencabut nyawa orang lain. Sayang, walau beberapa set piece aksi—bergelantungan di kapal, meniti sayap pesawat berkarat, bersembunyi di balik rak sebelum menghabisi musuh—bagai diangkat dari video game, sutradara Roar Uthaug kurang piawai menentukan shot yang memaksimalkan aksi. Saya tidak hingga dibentuk menahan nafas oleh rintangan maut yang Lara hadapi, atau meringis melihat luka-lukanya.
Mencapai paruh akhir, Lara beserta para anggota Trinity mulai menerobos masuk ke makam Himiko. Setumpuk perangkap dan teka-teki pun telah menanti. Saya selalu ingin tau dengan elemen  satu ini. Jika sebuah makam dibangun demi mencegah orang luar masuk (atau yang dikurung keluar), apa perlunya menebar petunjuk untuk mengakali sistem keamanannya? Apa pun alasannya, film ini punya cukup teka-teki, yang meski tak seberapa mengikat,  mampu mengisi kekosongan. Sewaktu sosok Himiko kesudahannya diungkap, fakta yang filmnya tawarkan pun memuaskan berkat kecerdikan duo penulis naskah, Geneva Robertson-Dworet dan Alastair Siddons, mengusung konsep soal “dongeng selalu didasari realita”.

Apakah Tomb Raider bakal mempunyai sekuel? Filmnya terang memberi petunjuk (mudah ditebak adegan mana dari trailer yang kesudahannya ditempatkan di penghujung film selaku tease untuk sekuel ). Biar begitu, saya ragu akan terealisasi. Estimasi Box Office-nya sejauh ini mencurigai (cuma $28 juta di weekend perdana), dan rasanya cinta takkan diberikan oleh para kritikus. Saya sendiri mengharapkan sekuel, alasannya ialah tersimpan banyak potensi petualangan menarik. Also, Alicia Vikander is definitely more than welcome to return as the new Lara Croft.