November 30, 2020

Toy Story 4 (2019)

Toy Story 4 mengatakan bahwa meski pencapaian film ketiga ada di luar jangkauan, melanjutkan kisahnya secara natural bukanlah kemustahilan. Seri mana bisa melaksanakan itu hingga judul keempat? Bahkan ini merupakan installment yang melengkapi perjalanan mainan-mainan tercinta kita, menyempurnakan mereka sebagai huruf yang hidup, baik di dunianya maupun hati penonton.

Adegan pembukanya menjawab pertanyaan yang ditimbulkan Toy Story 3: Ke mana Bo Peep (Annie Potts)? Jawabannya sederhana. Seperti banyak mainan lain, ia berpindah pemilik 9 tahun lalu. Sedangkan kini, Woody (Tom Hanks) dan kawan-kawan melanjutkan hidup sebagai mainan milik Bonnie (Madeleine McGraw) yang tengah menanti masa orientasi taman kanak-kanak.

Kehidupan mereka sejatinya bahagia, tapi Woody mulai ditinggalkan. Walau jarang dimainkan, toh afeksi Woody terhadap Bonnie tak terkikis, lantaran menciptakan si gadis cilik senang yaitu tujuan hidup utamanya. Sehingga ketika Bonnie menciptakan mainan berjulukan Forky (Tony Hale) dari garpu bekas di daerah sampah yang kemudian menjadi favoritnya, Woody tetapkan untuk menjaga Forky sebisa mungkin. Semua demi Bonnie.

Itu sebabnya, ketika Forky—yang masih kesulitan mengikuti keadaan dengan identitas gres sebagai mainan—kabur, Woody bersedia mempertaruhkan nyawa guna membawanya pulang. Beberapa mainan ia temui sepanjang jalan, dari Gabby Gabby (Christina Hendricks) si boneka menakutkan beserta para pasukannya yang mengingatkan kepada Slappy dari Goosebumps, hingga Bo Peep yang sekarang hidup bebas di dunia luar.

Reuni Woody-Bo menunjukkan bahwa dalam debut penyutradaraannnya, Josh Cooley mewarisi kekuatan Pixar perihal menghantarkan emosi melalui penceritaan visual. Tidak perlu bahasa verbal, hanya dua mainan yang bangun bersandingan sambil menebar senyum lebar dan mata berbinar, saling bertukar rasa sehabis terpisah selama hampir satu dekade.

Bicara soal visual, Toy Story 4 punya salah satu animasi komputer paling memukau yang pernah saya saksikan. Babak keduanya mengambil lokasi toko benda antik, sebelum berpindah ke karnaval pada babak ketiga. Kedua latar tersebut bagai panggung unjuk gigi hasil kerja luar biasa tim animasinya. Saat karnavalnya mengandung keriuhan kaya warna, toko benda antik dipenuhi detail barang-barang dalam tiap sudut lemari.

Anda akan dimaafkan kalau sesekali lupa sedang menonton animasi. Semua tampak nyata, mendukung pendekatan seri Toy Story yang memposisikan lingkungan para mainan kolam miniatur dunia kita. Ambil pola ketika Woody dan Bo berjalan di sela-sela lemari. Permainan bayangan dan detail dekorasinya menciptakan mereka berdua nampak menyerupai sepasang insan yang melintasi gang gelap nan sempit di satu sisi kota.

Ditulis naskahnya oleh Andrew Stanton (trilogi Toy Story, Finding Dory, Wall-E) dan Stephany Folsom, gotong royong plot Toy Story 4 sebatas pengulangan gugusan dongeng sebelumnya, yakni kenekatan Woody dan teman-teman menempuh misi berbahaya untuk menyelamatkan mainan lain. Begitulah kelemahan film ini, namun jangan khawatir, lantaran plot generik itu tertutupi kesenangan yang ditawarkan.

Humornya, yang masih berbasis ragam keunikan setumpuk karakter, tampil segar khususnya berkat pengenalan tokoh-tokoh baru, dari Forky dengan tendensi membuang diri sendiri ke daerah sampah (dipakai oleh film ini untuk mempresentasikan pesan wacana “menghargai diri sendiri”), Duke Caboom (Keanu Reeves) si penantang janjkematian asal Kanadia, hingga Ducky dan Bunny (disuarakan Jordan Peele dan Keegan-Michael Key dalam kejenakaan banter khas keduanya) yang gemar mencetuskan imajinasi absurd.

Gabby Gabby pun bukan antagonis dangkal berkat keberadaan alasan berpengaruh atas segala tindakannya, meniupkan kegetiran yang bakal memancing simpati alih-alih kebencian penonton. Dia naif, kesepian, memimpikan hal yang Woody miliki, baik secara fisik (sebuah benda di tubuhnya) atau spiritual (kasih sayang pemilik). Sementara jajaran huruf lamannya, walau kuantitas penampilannya cenderung minim, bukan berarti dilupakan, terlebih Woody dan Buzz Lightyear (Tim Allen) melalui beberapa interaksi sederhana yang memancing nostalgia.

Woody di sini layaknya banyak dari kita pernah alami, sedang tersesat, kebingungan menemukan tujuan, sebelum mendapatkannya dalam wujud cinta. Cinta yaitu tujuan paling murni, dan sewaktu jadinya Woody menyadari itu, Toy Story 4 menggiring kita menuju konklusi emosional yang menciptakan petualangan si koboi jadi lebih bermakna.