November 24, 2020

Twivortiare (2019)

“Saat bayi kembar siam dipisahkan, mereka akan memiliki jantung, suhu tubuh, dan organ-organ lain sendiri-sendiri”, begitu kira-kira klarifikasi Beno (Reza Rahadian) kepada Alex (Raihaanun). Begitu pula pasangan, atau dalam konteks film ini perceraian suami-istri. Twivortiare, selaku pembiasaan novel berjudul sama (plus sebagian kisah Divortiare) karya Ika Natassa, mengupas bagaimana sepasang manusia yang saling menyayangi berjuang mengatasi perbedaan-perbedaan individual tersebut.

Pastikan anda tak ketinggalan sedikit pun adegan pembuka yang menata pondasi kekerabatan kedua tokoh utama. Merasa janji nikah mereka telah kehilangan nyawa, Beno dan Alex memutuskan bercerai. Dua tahun berselang, rupanya cinta itu belum padam. Ketika Beno pelan-pelan berusaha merebut lagi hati si mantan istri, Alex kesulitan beranjak pergi walau tengah berpacaran dengan Denny (Denny Sumargo).

Keduanya pun mengikat janji suci untuk kali kedua, berjanji bakal bersikap lebih baik. Alex berjanji akan melatih kesabaran, sementara Beno perlu meluangkan waktu di luar kesibukan sebagai dokter bedah. Tapi tidak ada kekerabatan tanpa gesekan. Di sini menariknya Twivortiare. Dipandu naskah buatan Alim Sudio (Surga yang tak Dirindukan, Ayat-Ayat Cinta 2) sutradara Benni Setiawan (Sepatu Dahlan, Toba Dreams, Insya Allah Sah), kisahnya bukan mengatakan buaian romantika manis bahwa “semua akan baik-baik saja”. Karena semua tidak akan (selalu) baik-baik saja.

Kita diajak melihat Beno dan Alex bertengkar, berbaikan, bertengkar lagi, berbaikan lagi, begitu seterusnya. Tidak secara asal, alasannya yakni segala pertengkaran itu dipicu alasan serupa. Biarpun mencapai pertengahan kesan repetitif gagal dihindari, dari situ, naskahnya berhasil menyuguhkan proses berguru secara sedikit demi sedikit guna saling mengenali, memahami, biar sanggup memperbaiki. Pertengkaran terang berarti masalah, namun bukan musibah, bukan pula bukti ketiadaan cinta.

Twivortiare merupakan dongeng cinta berbasis abjad yang mengedepankan pasangan itu sendiri ketimbang elemen-elemen lain. Alhasil, kepiawaian duet penampil utama jadi faktor terpenting. Dan saya berani menyatakan bahwa urusan chemistry, Reza-Raihaanun merupakan kombinasi tanpa tanding. Tidak berlebihan menyebut mereka salah satu pasangan terbaik yang pernah saya saksikan.

Bagaimana interaksi lisan dituturkan begitu dinamis lewat penghantaran kaya variasi ditambah kejelian mengatur tempo sampai bagaimana rasa dihidupkan di layar dalam otentitas luar biasa yang dengan gampang “menulari” penonton, jadi beberapa bukti kehebatan Reza dan Raihaanun mengagkat standar “on-screen couple” ke tingkat lebih tinggi, yang tidak pernah saya bayangkan bisa dicapai film negeri ini.

Sedangkan di jajaran pendukung, Anggika Bolsterli dan Boris Bokir, masing-masing sebagai dua sobat Alex, Wina dan Ryan, berjasa mencairkan suasana lewat kejenakaan yang sesekali terselip di antara intensitas konflik. Anggika ibarat biasa bersenjatakan antusiasme bertenaga, sementara Boris jeli melontarkan kelakar-kelakar singkat namun segar.

Padukan akting Reza dan Raihaanun dengan pengarahan Benni Setiawan yang kembali menemukan sensitivitas semenjak Toba Dreams (2015)—sambil sesekali dibarengi lagu manis Kembali ke Awal dari Glenn Fredly—jadilah sajian emosional bahkan semenjak menit-menit awal. Benni enggan mencoba macam-macam. Memahami esensi kisah (berbasis karakter) sekaligus kapasitas dua pemeran utamanya, Benni “cuma” berusaha membangun keintiman dua sejoli. Daripada gambar cantik, kamera berfokus untuk sesempurna mungkin menangkap permainan rasa Reza dan Raihaanun. Rasa yang begitu berpengaruh sehingga memancing pertanyaan, “Inikah cinta?”.