November 21, 2020

Warkop Dki Reborn (2019)

Selucu-lucunya film klasik Warkop DKI, rasanya semua oke jika media audio, yang dulu banyak beredar dalam rekaman kaset, lebih mewadahi kelucuan mereka (silahkan cari di YouTube dan siap-siap sakit perut). Dalam proyek Reborn ketiga—yang tidak mengusung pelengkap “Part 3”—ini, terdapat perjuangan memvisualisasikan humor verbal Warkop, yang malah menegaskan ketidakcocokan alih media tersebut. Bahkan secara keseluruhan, Warkop DKI Reborn mungkin menerangkan bahwa regenerasi Warkop DKI bukan pandangan gres yang baik.

Saya selalu tergelak mendengar lelucon “Marga Batak”, tapi kala filmnya menerjemahkan itu ke layar, biarpun intensinya selaku penghormatan patut diapresiasi, tawa tak juga hadir. Selipan humor-humor Warkop lain pun bernasib sama. Apalagi sewaktu secara beruntun, naskah buatan  Anggoro Santoro (Sang Kiai, Bangkit!, Cahaya Cinta Pesantren) bersama sutradara Rako Prijanto (Sang Kiai, Teman Tapi Menikah, Asal Kau Bahagia) bergantung pada lawakan pervert ala film Warkop produksi Soraya kurun 90-an.

Ide ceritanya sendiri menarik, adalah perekrutan trio penyiar radio, Dono (Aliando Syarief), Kasino (Adipati Dolken), Indro (Randy Danistha) oleh Komandan Cok (Indro Warkop) untuk menjadi intel guna menyibak praktek pembersihan uang di industri perfilman tanah air. Jadilah mereka terlibat proyek film buatan rumah produksi milik Amir Muka (Ganindra Bimo), menyulut kekacauan di set, kemudian bersinggungan dengan aktris anggun berjulukan Inka (Salshabilla Adriani).

Sampai di sini, semuanya berjalan lancar, sampai Warkop DKI Reborn memutuskan melebarkan sayap dengan memperbesar skala. Tidak main-main, filmnya membawa Dono-Kasino-Indro berpetualang ke Maroko, bahkan membantu melindungi desa asal gadis setempat (Aurora Ribero) yang dihantui bahaya bandit. Sejak dulu plot film Warkop memang selalu bercabang pula dikemas kolam sketsa, tapi fokusnya terjaga, alih-alih terkesan melupakan tema besarnya ibarat ini.

Pergantian latar ekstrimnya memang memfasiliasi humor klasik menggelitik soal “Bahasa Arab” sampai nomor musikal abstrak Ummi, namun di ketika bersamaan, melucuti potensi presentasi kritik perihal industri film. Apalagi sewaktu kisahnya dipaksa berakhir di tengah-tengah, sebab (lagi-lagi) Falcon Pictures menentukan memecah filmnya menjadi dua bagian.

Padahal pergantian bintang film trio Dono-Kasino-Indro di luar dugaan memberi hasil positif. Adipati tampak lebih natural dan santai ketimbang Vino dalam memerankan Kasino si playboy mulut besar, Randy punya tampilan lebih ibarat Indro dibanding Tora, sedangkan Aliando—sebagaimana Abimana—muncul sebagai MVP. Riasan giginya memang mengganggu, tapi baik bunyi maupun gestur, Aliando berhasil mereplikasi anggota Warkop DKI favorit saya itu.

Penyutradaraan Rako Prijanto juga mengungguli Anggy Umbara berkat gaya yang lebih “sederhana”, biarpun banyaknya penggunaan pengaruh bunyi konyol layaknya bagan televisi murahan justru melemahkan daya bunuh komedi, selain menurunkan kelas filmnya. Beberapa kreativitas humornya, sebutlah parodi film-film terkenal Indonesia, memang bisa memancing senyum. Tapi saya butuh lebih dari sekadar senyum. Saya membutuhkan tawa, yang sayangnya jarang diproduksi oleh Warkop DKI Reborn.