November 28, 2020

Weathering With You (2019)

Weathering with You seolah merupakan perwujudan ambisi besar seorang Makoto Shinkai, yang pasca kesuksesan Your Name meraup $361 juta tiga tahun lalu,mungkin merasa bisa dan/atau perlu membuat sesuatu yang lebih besar, baik dari segi cerita, usungan pesan, hingga elemen fantasi. Ambisi itu sayangnya hadir prematur, sehingga meski tetap sebuah parade visual cantik, Weathering with You kehilangan sentuhan magis serta keintiman yang selalu menghipnotis dalam karya-karya Makoto sebelumnya.

Masih soal romansa sepasang dewasa berbalut bumbu fantasi yang mempertemukan sebelum balasannya mengancam kebersamaan mereka. Alkisah, Hodaka (Kotaro Daigo) nekat kabur ke Tokyo dari rumahnya yang terletak di pulau terpencil. Masih di anak-anak (16 tahun), Hodaka kesulitan mencari kerja, dan tak butuh usang hingga ia kelaparan. Beruntung, tunjangan didapat dari Keisuke “Kei” Suga (Shun Oguri), laki-laki yang sempat menyelamatkan Hodaka kala nyaris karam di feri.

Kei mempekerjakan Hodaka sebagai ajun di perusahaan majalah kecil miliknya yang menuliskan hal-hal berbau klenik dan fantasi. Turut bekerja di sana yakni Natsumi (Tsubasa Honda), seorang gadis yang dicurigai Hodaka sebagai perempuan simpanan Kei. Bersama Natsumi, Hodaka berburu berita, termasuk mengenai sosok Sunshine Girl, yang konon bisa membuat cuaca cerah hanya dengan berdoa. Kebetulan, ketika itu Tokyo tengah dirundung hujan tanpa henti.

Hodaka tidak menyangka mitos itu nyata. Apalagi sang “gadis matahari” rupanya yakni Hina (Nana Mori) yang pernah memberinya masakan di suatu malam. Melihat kondisi Hina yang kesulitan ekonomi tanggapan harus menghidupi adiknya, Nagi (Sakura Kiryu) seorang diri, Hodaka mencetuskan ilham untuk menimbulkan kemampuan Hina sebagai sumber pencaharian. Mereka pun mulai mendapatkan undangan dari orang-orang yang membutuhkan cuaca cerah. “Pawang hujan” jikalau berdasarkan orang Indonesia.

Pada dasarnya, Weathering with You masih menyimpan formula kegemaran Makoto yang masih mengagumi semesta, terkait bagaimana fenomena (abnormal) alam menghipnotis fenomena paling misterius dalam hidup manusia: cinta. Dibungkus visual yang nyaris menyentuh ranah fotorealistik serta musik garapan grup musik rock Radwimps yang ampuh menyetel mood, Makoto membuat dunia di mana pancaran sinar matahari dari balik awan merupakan anugerah indah yang melahirkan kebahagiaan.

Di ranah penulisan, Makoto masih lihai mengkreasi abjad dengan kemampuan mencuri hati. Hina bukan sekadar mengembalikan cahaya ke bumi Tokyo, ia pun seolah bercahaya. Sesosok gadis ceria yang tidak hanya memantik semangat Hodaka, juga menghembuskan nyawa bagi filmnya. Saya agak terganggu dengan abjad Hodaka yang kerap jadi media melempar humor-humor mesum, namun mau bagaimana lagi? Tidak semua sineas seberani Hayao Miyazaki perihal penolakan memfasilitasi budaya fan service. Contoh fan service tak perlu lain yakni cameo dua protagonis Your Name yang ketimbang menguatkan narasi justru memberi distraksi.

Sayangnya, penulisan alur Makoto kali ini tidak sekuat penokohannya. Dia terlampau berambisi memasukkan unsur-unsur besar guna melebarkan cakupan cerita, yang berujung melucuti keintiman romansa. Weathering with You bukan lagi perihal hubungan Hodaka-Hina semata tatkala konflik turut melibatkan pemeriksaan polisi, subplot soal keluarga Kei, hingga kritik terkait perubahan iklim yang dipicu ulah manusia.

Makoto nampak kerepotan menangani ambisinya sendiri, alhasil banyak elemen penceritaan dibiarkan menggantung tanpa penjelasan. Pistol yang ditemukan Hodaka misalnya, keberadaannya terlalu acak, kolam hanya jalan keluar malas demi memperumit masalah. Sedangkan soal isu perubahan iklim, Makoto tidak pernah secara tegas melempar kritik tersebut, menimbulkan konklusinya salah kawasan sekaligus melucuti pengaruh emosi. Ya, Weathering with You adalah parade visual bagus khas Makoto Shinkai, hanya saja kali ini minim rasa.