November 20, 2020

Wedding Agreement (2019)

Apakah dunia lebih baik tanpa agama? Saya ragu, tapi untuk film ini, dengan mantap saya menjawab, “YA!”. Wedding Agreement  adalah romansa bernyawa yang jadi bermasalah akhir perspektif agama—yang kebenaran interpretasinya pun layak diperdebatkan—yang tampak ndeso pada masa sekarang, di mana kesadaran akan gosip gender serta kesejahteraan dalam pernikahan.

Premisnya sendiri memancing setumpuk pertanyaan. Alkisah, Bian (Refal Hady) dan Tari (Indah Permatasari) terpaksa menjalani proses perjodohan. Ketika Tari tulus mendapatkan dan berusaha menjadi istri sebaik mungkin, Bian justru memperlihatkan perjanjian berisi persetujuan bahwa keduanya akan bercerai sehabis setahun. Alasan utamanya, ia masih mengasihi mantan tunangannya, Sarah (Aghniny Haque).

Apakah Tari coba menyelamatkan ijab kabul ini lantaran sungguh mengasihi Bian atau sekadar obligasi? Mengapa Bian tak menikahi Sarah? Apakah Sarah bukan perempuan baik? Jawaban bagi deretan pertanyaan itu sifatnya signifikan guna memilih apakah sudut pandang film ini meresahkan atau tidak. Bukan hanya soal baiklah atau tidak setuju, tapi wacana tanggung jawab sebuah film terhadap sasaran pasarnya.

Apabila Tari memang mengasihi sang suami, maka perjuangannya patut didukung, alasannya yakni bukan bentuk pemenuhan kewajiban istri sebagai “pelayan suami”. Apalagi jikalau ternyata Sarah punya keburukan yang sukar ditoleransi, yang gagal Bian lihat akhir dibutakan cinta. Kalau memang demikian, perjodohan dua karakterya masih pantas dijustifikasi. Saya tak sanggup membocorkan semua jawabannya secara detail, kecuali bahwa saya gagal dibentuk memihak Wedding Agreement sepenuhnya.

Ada dua pernyataan berbahaya terkait religiusitas di sini. Pertama, bahwa perceraian dipicu oleh bisikan setan. Saya tidak sedang mendukung perceraian, namun di beberapa kasus, itu memang diperlukan, khususnya dalam lingkup sasaran pasar Wedding Agreement, di mana kuku patriarki masih besar lengan berkuasa menancapkan kekuasaan dan kerap menghasilkan ijab kabul abusive. Berbahaya jikalau seorang istri dalam kondisi ijab kabul tersebut menonton film ini, dan nekat bertahan demi menghindari tudingan “teman setan”.

Kedua, tatkala Bian bebas pergi sesuka hati tanpa pamit dan segalanya baik-baik saja, tetapi tatkala Tari melaksanakan itu, perjalanannya berantakan, seolah Tuhan turun tangan melempar azab. Mau hingga kapan istri-istri Indonesia beranjak dari status “bawahan suami” kalau persepsi menyerupai ini masih diagungkan? Bukan sepenuhnya kekeliruan Archie Hekagery (Lo Gue End) selaku sutradara sekaligus penulis naskah, mengingat ini merupakan pembiasaan novel berjudul sama karya Mia Chuz yang turut terjun menulis naskah bersamanya.

Biar begitu, berbeda dibanding secara umum dikuasai film religi lain, fakta-fakta di atas tak memancing amarah. Saya justru sedih, lantaran di luar problem itu, Wedding Agreement adalah sajian romansa memikat. Buktinya, meski dihadapkan pada banyak elemen problematik, saya tetap mendukung bersatunya Tari dan Bian.

Interaksi keduanya hidup, utamanya berkat chemistry solid Indah dan Refal. Begitu mereka mulai menjalani masa-masa bahagia, kemudian sama-sama tersenyum, saya sanggup mencicipi cinta. Sebuah cinta yang hangat. Terlebih Indah, lewat agresi olah rasa mumpuni yang seketika merenggut perasaan, otomatis menciptakan saya berharap Tari memperoleh keinginannya. Indah bagai perwujudan kebaikan hati, yang mengakibatkan perubahan perilaku Bian sanggup dipercaya.

Penampilan Aghniny Haque juga jadi faktor penentu biar penonton semakin mendukung Tari. Bukan lantaran ia berakting luar biasa, sebaliknya, begitu jelek performa Aghniny, berat rasanya merelakan Bian berakhir menikahi Sarah. Seolah sang aktris melaksanakan pengambilan gambar sambil membaca naskah dengan pikiran kosong. Bahkan Ria Ricis sebagai Ami, sahabat Tari, yang tampil mengolok-olok personanya selaku YouTuber, jauh lebih nyaman disaksikan.

Rasa milik Wedding Agreement menguat, berkat pemahaman Archie wacana memunculkan rasa manis bahkan kesan magis kala jatuh cinta, dalam pengadeganannya. Berbekal ketepatan bermain tempo plus musik gubahan Andhika Triyadi (Warkop DKI Reborn, Dilan 1990, My Stupid Boss 2), momen kala kedua protagonis balasannya sungguh-sungguh “berbagi kamar” terasa indah nan sakral. Begitu pula klimaksnya, yang secara berilmu mengiklankan MRT sebagai pilihan transformasi penangkal macet. Saya tidak merasa Wedding Agreement harus melucuti seluruh elemen agamanya, tapi menambahkan humanisme pasti bakal menciptakan kualitasnya melambung.