November 26, 2020

Wonder Park (2019)

Wonder Park hadir di antara tren film keluarga (animasi dan live action) yang berpesan semoga kita tak kehilangan imajinasi masa muda yang penuh kebahagiaan, meski beratnya realita mulai merambat masuk. “Keep that little light in you shining bright”, demikian ucap ibunda sang protagonis. Kalimat yang berfungsi sebagai poros tuturan drama milik animasi produksi bersama tiga studio (Paramount Animation, Nickelodeon Movies, Ilion Animation Studios) ini.

Membangun taman bermain imajiner berjulukan Wonderland merupakan hal yang June (Brianna Denski) selalu lakukan bersama ibunya (Jennifer Garner). Wonderland yakni taman penuh wahana fantastis dan dikelola oleh hewan-hewan berkemampuan bicara layaknya manusia, yang “hidup” dari boneka June. Simpanse berjulukan Peanut (Norbert Leo Butz) menjadi maskot taman tersebut. Dia bisa menciptakan wahana apa pun menggunakan spidol absurd tiap kali June dan sang ibu berbisik di telinganya.

Waktu berlalu dan rumah June dipenuhi taman bermain mini yang disusun menggunakan barang seadanya. Tapi kebahagiaan itu tak berlangsung lama, lantaran sang ibu menderita sakit keras dan mesti meninggalkan rumah demi menerima perawatan. Kita bisa menerka apa penyakitnya (kemungkinan kanker), namun Wonder Park tak pernah mengucapkannya secara gamblang, lantaran film ini diceritakan lewat perspektif June, si gadis cilik yang hanya mengetahui satu hal: Tanpa sang ibu, cahaya kehidupannya meredup.

June mulai menyingkirkan Wonderland, diganggu kecemasan dan ketakutan berlebih akan semua hal, kemudian menjadi (terlalu) berilmu balig cukup akal sebelum waktunya. Sampai lewat sebuah kebetulan, ia menemukan pintu masuk menuju Wonderland, mendapati taman absurd itu telah porak-poranda dikuasai kegelapan, sementara para binatang mesti bersembunyi dari serbuan Chimpanzombie, boneka simpanse menggemaskan yang berubah jadi pasukan buas.

Mengejutkan kala mengetahui filmnya enggan terburu-buru menyeret kita memasuki Wonderland. Naskah garapan duet Josh Applebaum dan André Nemec  (Mission: Impossible – Ghost Protocol, Teenage Mutant Ninja Turtles) bersedia bersabar membuatkan elemen dramatik dari kehangatan hubungan ibu-anak yang takkan sulit menyedot air mata penonton dewasa, setidaknya sepanjang 30 menit pertama yang begitu emosional.

Keputusan di atas tepat, lantaran kita tahu apa yang menanti di Wonderland: Petualangan sarat komedi slapstick yang berisik dan chaotic. Bahkan kita eksklusif disambut banter bernuansa rusuh antara aksara hewan, yang dikemas sedemikian rupa semoga petualangannya terkesan bertenaga, tapi justru hanya melahirkan kekacauan yang sukar dinikmati, bahkan nyaris menelan habis potensi humornya.

Bermodalkan bujet $80-100 juta, Wonder Park memang tak semewah produksi Dinsey, Pixar, atau DreamWorks, dan itu nampak terang pada kualitas visualnya. Animasi Wonder Park  bukan suguhan photo realistic kelas wahid, tapi serupa esensi filmnya, visi serta imajinasi yakni yang terpenting. Beruntung, visualnya mempunyai dua elemen tersebut. Dibungkus warna-warni juga cahaya gemerlap, mata kita bakal dipuaskan meski tak hingga dibentuk terpana.

Awalnya Wonder Park disutradarai oleh Dylan Brown, animator bagi film-film Pixar menyerupai Finding Nemo, The Incredibles, hingga Ratatouille. Tapi ia dipecat jawaban skandal pelecehan seksual, kemudian posisinya digantikan oleh David Feiss (Open Season: Scared Silly), Clare Kilner (American Virgin, The Wedding Date), dan Robert Iscove (From Justin to Kelly, She’s All That). Entah sejauh apa progres film ini sebelum pemecatan Brown, tapi pastinya, penyutradaraan merupakan salah satu kelemahan besar Wonder Park.

Ya, beberapa adegan sanggup menyentuh hati, namun itu keberhasilan naskahnya, dan semestinya jauh lebih emosional jika bukan gara-gara lemahnya (para) sutradara membangun momentum. Khususnya momen jelang tamat yang seharusnya jadi puncak penebusan dari segala proses yang June lalui. Hangat, tapi ada potensi untuk mengolah rasa lebih jauh lagi.

Berkat pondasi dari naskahnya, Wonder Park urung porak poranda layaknya Wonderland. Applebaum dan Nemec cukup rapi mengaitkan problematika kehidupan konkret dengan konflik di Wonderland. Kuncinya adalah, konsisten menyebabkan hubungan ibu-anak sebagai inti segalanya, baik itu penyebab permasalahan, maupun cara menyelesaikannya. Alhasil, di luar sederet kekurangannya, Wonder park tetap perjalanan memuaskan perihal menghadapi kegelapan demi mengembalikan cahaya.