November 28, 2020

Yesterday (2019)

Terkadang saya duduk sendirian di tengah malam dengan earphone terpasang sambil mendengarkan Live Forever atau Cigarettes and Alcohol, berkhayal, “Bagaimana kalau saya yaitu Liam Gallagher?”. Itulah kenapa, meski mengusung konsep fantasi, karya teranyar Danny Boyle (Trainspotting, Slumdog Millionaire, 127 Hourse) ini terasa dekat. It’s relatable, at least for my imagination, cause I long for yesterday. 

Apa jadinya bila The Beatles hilang dari eksistensi? Mungkin sebagian besar menganggapnya mengerikan, namun bagi Jack Malik (Himesth Patel), itu justru anugerah. Jack menghabiskan 10 tahun menulis serta menyanyikan lagunya sendiri dari panggung ke panggung, kafe ke bar, sayangnya kesuksesan tak kunjung datang.

Dia siap mengalah andai bukan alasannya yaitu pertolongan Ellie (Lily James), sahabat lama, manajer, sekaligus cintanya. Tapi Jack enggan mengutarakan isi hatinya, tanpa tahu bahwa Ellie menyimpan perasaan serupa. Sampai suatu malam, kegelapan total menimpa seluruh dunia selama 12 detik. Lalu dalam sebuah adegan bernuansa agak mistis yang dibangun menurut lagu A Day in the Life (juga merupakan lagu The Beatles paling mistis), Jack tertabrak bus.

Dia terbangun, kehilangan dua gigi, namun mendapat hal yang jauh lebih besar. Jack menjadi satu-satunya orang yang mengetahui The Beatles. Bersama beberapa hal lain, kuartet legendaris itu hilang dari sejarah. Jack pun mendapat wangsit untuk mengaku sebagai pencipta lagu-lagu mereka. Alhasil, tidak butuh usang hingga dia ditasbihkan selaku musisi jenius.

Tersimpan setumpuk opsi eksplorasi dalam konsep “what if” yang diusung, dan sejatinya naskah buatan Richard Curtis (Four Weddings and a Funeral, Notting Hill, Love Actually) bekerja dengan baik mempresentasikan situasi menghibur kala Jack menipu orang-orang, dari keluarganya hingga para figur industri musik termasuk Ed Sheeran dan sang manajer, Debra Hammer (diperankan Kate McKinnon yang piawai mencampurkan sisi kejam dan menggelitik).

Biarpun menyenangkan disimak, sukar menampik fatwa kalau Yesterday termasuk gagal memenuhi potensinya. Mendengar premisnya saja, imajinasi saya bergerak liar memikirkan bagaimana film ini memaparkan proses kreatif Jack. Tapi selain sekuen sambil kemudian ketika dia mengunjungi lokasi-lokasi di Liverpool yang berperan akan terciptanya lagu The Beatles, tidak banyak yang Yesterday tawarkan.

Pun Curtis bagai enggan memberi kesempatan lebih pada Jack guna menikmati kondisi misterius itu. Dia terus menghadapi penderitaan, kesulitan, bahkan ketika balasannya sukses mendobrak dunia industri, dia pribadi tersandung masalah terkait kebebasan berkarya yang dilucuti. Ketimbang artis yang bebas berekspresi, Jack yaitu produk perusahaan. Terkait duduk masalah ini, Yesterday hadir terlampau mendekati realita.

Beruntung, sewaktu naskahnya sedikit mengecewakan, penyutradaraan Danny Boyle bersinar, mengambarkan kecintaan sekaligus pemahaman tingginya tentang jiwa dalam karya-karya “The Fab Four”. Lagu pertama The Beatles yang Jack lantunkan yaitu Yesterday, dan momen itu terjadi di tengah atmosfer magis, di mana semesta bagai tengah menyambut turunnya messiah dunia musik.

Demikian pula tatkala Ob-La-Di, Ob-La-Da diperdengarkan, yang tepat memotret kebahagiaan murni nan sederhana lagu gubahan Lennon-McCartney tersebut. Penyutradaraan Boyle (ditambah beberapa rujukan plus kejutan) menimbulkan Yesterday sebuah penghormatan layak, walau gotong royong film ini tidak banyak memberi penonton kesempatan berkaraoke, alasannya yaitu dominan lagu cuma diputar sejenak.

Berkat performa kedua penampil utama, Yesterday turut menyuguhkan komedi-romantis manis khas British (baca: Richard Curtis). Himesh Patel menghidupkan protagonis likeable dan relatable yang terjebak dalam goresan dilematis antara ambisi personal dan moral, antara harapan dan cinta. Sementara Lily James menyerupai biasa gampang merebut hati melalui pesona naturalnya. She’s so lovable, she’ll makes you believe that all you need is love.