November 25, 2020

Zeta: When The Dead Awaken (2019)

Zeta: When the Dead Awaken (berikutnya disebut “Zeta”) menandakan kalau tim sineas kita sudah bisa memproduksi zombie flicks secara layak, selama skalanya minimalis. Filmnya solid wacana memamerkan serangan zombie, bahkan sesekali memancing ketegangan, namun ketika jangkauan kisahnya diperluas hingga meliputi kepentingan nasional dengan melibatkan pemerintah, ilmuwan, dan militer, Zeta tak ubahnya role play anak-anak.

Saya terpikat oleh momen pembukanya, yang begitu rapi mempresentasikan kondisi Jakrta yang tinggal menyisakan puing-puing tanpa penduduk. Berbekal pemakaian CGI efektif ditambah kelihaian menangkap pemandangan langka berupa kesenyapan ibukota, nuansa tamat zaman yang menghantui bisa ditampilkan.

Kesolidan itu terus berlanjut ketika para zombie (di sini dipanggil “Zeta”) melancarkan serangan di sekolah Deon (Jeff Smith), sebelum kisahnya mengajak kita menyaksikan perjuangan sang dewasa bermasalah menyelamatkan sang ibu, Isma (Cut Mini), yang menderita alzheimer dan tinggal di apartemen sendirian. Isma menetap seorang diri selepas dua tahun kemudian Deon meninggalkannya, ketika sang suami, Richard (Willem Bevers) menangkap berair perselingkuhannya.

Richard sendiri bekerja di Amerika sebagai ilmuwan sekaligus pakar terkait wabah yang sedang terjadi. Richard menyebut bahwa wabah itu dipicu evolusi amoeba benalu yang masuk ke badan insan lewat air, kemudian menguasai otak korbannya, mengubah mereka menjadi zombie.

Penyutradaraan Amanda Iswan—yang turut merangkap penulis naskah, produser, dan produser eksekutif—sanggup membuat keseruan berbasis serbuan zombie yang bergerak cepat. Berlatar apartemen kecil yang dipenuhi lorong sempit serta tangga darurat gelap, Amanda mengkombinasikan modal lokasi tersebut dengan pergerakan kamera dinamis tanpa harus membuat penonton sakit kepala lewat gaya shaky cam, juga ketepatan timing dalam serangan zombie, guna menyusun intensitas.

Bahkan terkadang, para monster pemangsa otak ini tampak menakutkan berkat tata rias apik, pula imbas bunyi geraman sang zombie. Contohnya ketika Deon mesti mendobrak kamar lain demi mencari makanan, hanya untuk dihadang sesosok zombie bertubuh tambun. Satu-satunya gaya tidak perlu yang sang sutradara terapkan yaitu sudut pandang orang pertama layaknya gim video. Penempatannya terlalu acak juga begitu singkat hingga kurang berhasil meninggalkan dampak.

Pada titik ini, sejatinya naskah Zeta sudah menyiratkan gejala kebodohan, sebutlah ketika Deon meminta salah satu anggota Blue River (kelompok militan pembasmi zombie) semoga bersedia menunggu di luar selama ia menolong Isma. Tapi apa yang Deon lakukan begitu berhasil bertemu sang ibu? Secara sepihak ia menentukan menetap di kamar, kemudian tertidur. Memang dewasa kini perlu diajari sopan santun.

Tapi kebodohan di atas sekadar lubang kecil dibanding apa yang Zeta tampilkan begitu mulai memperbesar cakupan cerita. Dari film zombie berlatar tunggal yang menghibur, film ini bertransformasi menjadi kekonyolan canggung sewaktu mengajak penonton melihat pertemuan antara ilmuwan, militer, dan Blue River. Dekorasi setnya murahan penuh properti ala kadarnya, tiada perjuangan membangun atmosfer sebuah markas belakang layar secara meyakinkan akhir minimnya permainan tata cahaya, penulisan kalimatnya buruk, belum lagi akting yang remuk.

Sang ilmuwan terlihat kolam orang ndeso yang berusaha keras terdengar cendekia tanpa memahami apa yang ia bicarakan, sementara para tentara bergaya sok gahar. Daripad akting mumpuni, kita malah dipertunjukkan agresi main-main. Main tentara-tentaraan, dokter-dokteran, jagoan-jagoanan.

Hampir seluruh cast-nya mengecewakan, termasuk para aktor rakyat sipil—kecuali Dimas Aditya yang tak terlihat mengganggu sebagai seorang penyintas tangguh. Jeff Smith tak diberahi aura sebagai protagonis yang sanggup diandalkan, tidak pula secara layak menghidupkan sosok dewasa bermasalah. Sementara Cut Mini melakoni aspek cluelessness pengidap alzheimer layaknya karikatur stereotipikal. Menyakitkan melihat penampilannya di sini (terburuk sepanjang karir) pasca menakjubkannya Dua Garis Biru.

Karena tidak dibarengi materi dongeng mencukupi, Zeta sudah kehabisan materi bakar di pertegahan, mulai terasa draggy kala berlama-lama dalam situasi dengan pacing menyiksa selaku perjuangan mengulur waktu. Membosankan, padahal setumpuk aspek berpotensi dieksplorasi. Contohnya, bila ingin melebarkan cakupan, mengapa tidak berhenti sok keren ketimbang berusaha menggali perihak gosip sosial politik ketika satu kalimat mengenai “militer yang kehabisan helikopter akhir digunakan mengangkut orang-orang penting” sudah menyiratkan wacana permasalahan tersebut?

Saya suka penerapan konsep dua tipe zeta, juga bagaimana mereka melihat otak dan jantung insan (kita sempat dibawa melihat apa yang mereka lihat). Paparannya kreatif hingga Amanda Iswan  kelelahan (atau malas?), kemudian meninggalkan penonton pada ketidakpastian soal cara kerja antidote, dan lain-lain. “Dan lain-lain” inilah yang semestinya menerima perhatian lebih.